Oleh:

  1. Michael Molenda (Indiana University)

      2. Rhonda Robinson (Northern Illinois University)

Dari Buku:  Educational Technology: A Definition with Commentary

PENDAHULUAN

Teknologi Pendidikan adalah studi tentang dan praktek etika mengenai fasilitas pembelajaran dan peningkatan performa yang dilakukan dengan cara menciptakan, menggunakan, dan memenej proses dan sumber teknologi yang tepat.

Definisi dasar yang didiskusikan di Bab I berimplikasi bahwa konsep teknologi pendidikan mengandung sejumlah nilai, yaitu nilai professional, nilai etika, dan nilai moral. Sentralitas nilai-nilai tersebut terkesan begitu dahsyat ketika menelaah teknologi pendidikan sebagai bidang kajian atau profesi.

Kode etik, yang terkait dengan nilai-nilai inti suatu kelompok, secara universal dipertimbangkan sebagai atribut kritis terhadap suatu profesi. Melampaui dimensi moral dan etika, pernyataan tentang nilai-nilai juga memiliki kegunaan sebagai organisasi-organisasi yang (mempraktekkan) komitmen terhadap nilai-nilai inti yang spesifik akan lebih efektif. Penelitian menunjukkan bahwa organisasi-organisasi itu mengarah kepada performa organisasi yang tidak bagus karena tidak (mempraktekkan) nilai-nilai (yang dianutnya) secara eksplisit (Waterman, 1992; Collins and Porras, 1994).

Beberapa definisi yang operasional terdahulu menginformasikan “nilai-nilai umum” tertentu, tetapi tidak mendiskusikan nilai-nilai umum tersebut secara mendalam. Misalnya, pernyataan definisi utama mutakhir yang dibuat oleh Asosiasi Komunikasi dan Teknologi Pendidikan (the Association for Educational Communications and Technology—AECT) menunjukkan bahwa “teknologi yang instruksional sebagai komunitas professional, menilai konsep-konsep seperti: kemampuan meniru instruksi, individualisasi, efisiensi, kemampuan melakukan generalisasi terhadap proses antar konten area, perencanaan detail, analisa dan spesifikasi, kekuatan visual, dan manfaat-manfaat instruksi yang termediasi” (Seels and Richey, 1994, p. 87). Bab ini membahas tentang upaya untuk membuat nilai-nilai umum bidang kajian kontemporer secara lebih eksplisit.

Teknologi pendidikan berbagi berbagai macam fungsi, perhatian, dan nilai dengan bidang kajian yang lain. Suatu contoh, sains kognitif dan psikologi pendidikan juga konsen pada fasilitasi pembelajaran; teknologi performa memiliki konsen pokok untuk peningkatan performa di tempat kerja; dan pekerjaan guru sungguh berkenaan dengan menciptakan, menggunakan dan mengatur berbagai proses dan sumber daya yang berbeda. Teknologi pendidikan tidak hanya berbagi konsen dengan bidang kajian yang lain tetapi juga nilai-nilai. Bersama dengan pendidik lainnya, mereka yang berada dalam teknologi pendidikan menilai pentingnya pembelajaran dan mereka mendukung pembelajaran yang terus-menerus; mereka mempromosikan kesempatan setara untuk belajar bagi semua pelajar dan bermaksud untuk memberikan para pelajar itu akses yang sama terhadap sumber-sumber belajar.

Bab ini fokus pada nilai-nilai yang menegaskan pentingnya teknologi pendidikan, yang mana mengarah pada upaya membedakan bidang kajian ini dari yang lainnya. Beberapa aspek dinyatakan secara eksplisit dalam definisi itu (contoh: “etika praktis”, “peningkatan performa”, “kelayakan”, dan “bersifat teknologi”); sementara beberapa aspek yang lainnya disebutkan secara implisit. Baik nilai-nilai yang eksplisit ataupun yang implisit akan dibahas dalam bab ini. Masing-masing istilah kunci dalam definisi ini akan diuji untuk konotasi nilai-nilai (pada definisi ini).

Nilai-Nilai yang terkait Belajar

Sebagaimana suatu bidang kajian didedikasikan untuk aplikasi pengetahuan yang terorganisasikan terhadap peningkatan pembelajaran dan performa, suatu penelitian menyiapkan ide mendasar suatu praktek. Penelitian dasar terhadap variable-variable yang dikaitkan dengan (proses) pembelajaran secara utama dipinjam dari bidang-bidang kajian yang terkait, seperti psikologi, ilmu pengetahuan kognitif, psikologi pendidikan, dan antropologi.

Penelitian dasar tentang desain pesan instruksional atau respon pelajar terhadap pesan-pesan yang dimediasi jatuh pada domain teknologi pendidikan, sebagaimana telah dikerjakan sebanyak area yang sangat besar tentang literasi yang visual. Penelitian yang aplikatif tentang isu yang berkaitan dengan aplikasi teknologi pendidikan adalah tipe yang paling banyak mengenai pencarian yang dilakukan di samping bidang kajian itu. Peneliti-peneliti teknologi pendidikan mempelajari cara-cara menganalisa dan mengembangkan proses-proses menciptakan materi-materi instruksional dan sistem-sistem (desain instruksional), menciptakan media dan lingkungan-lingkungan pembelajaran berbasis komputer, menggunakan media dan teknologi informasi di dalam ruang kelas (penggunaan dan implementasi), serta pengaturan seluruh aktifitas-aktifitas yang terangkai (manejemen projek, administrasi pelayanan teknologi).

Pendekatan Telaah

Sebagai tambahan terhadap penelitian yang bersifat formal, basis pengetahuan dapat diperluas dengan beberapa alat telaah. Evaluasi Formative dan Summative tentang produk spesifik dapat memberikan informasi tentang desain yang subsequent (terjadi setelah yang lainnya), dan keputusan-keputusan seleksi dalam suatu organisasi. Penelitian yang berbasis aksi yang berkaitan dengan implementasi suatu inovasi dapat menyediakan pelajaran berharga yang bernilai bagi praktisi dan agen-agen perubahan lainnya.

Studi kasus tentang kesuksesan, atau khususnya kegagalan, dapat memberikan titik terang pada proses penerapan teknologi dalam setting yang kompleks. Studi yang mengkhususkan pada pembahasan sistem – sistem yang gagal adalah metode utama pembangunan pengetahuan dalam bidang kajian yang terkait ilmu rekayasa (Petroski, 1992).

Penelitian yang terprogram dalam teknologi pendidikan sangatlah bernilai dan secara berkelanjutan dibutuhkan, dengan hasil-hasil yang dapat dibagi, sehingga hasil-hasil penelitian yang terbaik dapat memberikan informasi praktis. Bahkan dengan data-yang mutakhir, kebijakan pengambilan keputusan pada level pemerintah federal, memasukkan rekomendasi-rekomendasi untuk telaah penelitian dalam semua metode penelitian, yang fokus pada pertanyaan mengenai baik sukses ataupun gagal, dan aneka efek teknologi pada para pelajar dan pembalajaran. Dengan penegasan pada studi tentang isu global yang terkait dengan inovasi pendidikan dan penggunaan teknologi yang tepat untuk para pelajar, penelitian mengenai teknologi pendidikan dapat berlanjut mendukung mendunianya pengembangan praktek.

Komunikasi melalui Jurnal-Jurnal Ilmiah

Kebiasaan berefleksi dan mendokumentasikan pengalaman merupakan karakter-karakter hebat seseorang yang benar-benar disebut sebagai professional (Schon, 1995). Berbagi pengalaman-pengalaman pribadi para professional difasilitasi oleh alat-alat komunikasi kontemporer seperti e-mail, website, dan blogs. Tempat lebih tradisional untuk sharing temuan-temuan ilmiah dan opini, jurnal ilmiah memainkan peran penting dalam wacana bidang kajian ini, meskipun beberapa tahun belakangan banyak jurnal didistribusikan secara online melalui website dibandingkan melalui percetakan dan pengiriman post. Molenda dan Kang (2004) menemukan beberapa lusin jurnal teknologi pendidikan yang dimaksudkan untuk skup nasional maupun internasional. Di antara lusinan jurnal itu, 14 buah didistribusikan secara online saja, dan 16 lainnya didistribusikan baik dalam bentuk cetak ataupun online (hal. 36).

Studi lain (Holcomb, Bray, Dorr, 2003) mengidentifikasi tempat lebih dari 100 periode dengan beberapa koneksi kepada teknologi pendidikan dan berkurang dengan daftar 30 yang mengecil paling relevan. Pembaca menilai 30 ini menurut prestise akademik, kegunaan dalam menjaga tetap up to date dalam prakteknya, dan kegunaan sebagaimana terdaftar dalam kelas membaca. Peneliti-peneliti itu mendapati bahwa kluster-kluster yang berbeda mengenai periode muncul untuk tujuan masing-masing, menunjukkan bahwa beberapa publikasi yang berbeda memiliki nilai, tetapi untuk tujuan-tujuan yang beraneka.

Paling tinggi prestise-nya adalah

  • Educational Technology Research and Development (Riset tentang Teknologi Pendidikan dan Pembangunan)
  • Human-Computer Interaction (Interaksi Manusia-Komputer)
  • Cognition and Instruction (Kognisi dan Instruksi)
  • Memory and Cognition (Memori dan Kognisi)
  • Journal of Educational Computing Research (Jurnal tentang Penelitian Komputing Pendidikan)

Paling tinggi dalam menjaga up to date adalah

  • Educational Technology Research and Development (Riset tentang Teknologi Pendidikan dan Pembangunan)
  • Educational Technology (Teknologi Pendidikan)
  • Cognition and Instruction (Kognisi dan Instruksi)
  • TechTrends (Tren Teknologi)
  • Webnet Journal (Jurnal Webnet)

Paling tinggi penggunaannya di kelas adalah

  • Educational Technology (Teknologi Pendidikan)
  • Educational Technology Research and Development (Riset tentang Teknologi Pendidikan dan Pembangunan)
  • TechTrends (Tren Teknologi)
  • Technology and Learning (Teknologi dan Pembelajaran)
  • Computers in School (Komputer di Sekolah)

Studi tentang publikasi-publikasi belakangan mengenai profesor-profesor teknologi pendidikan yang menyatakan tugas mengajarnya dengan tepat (Carr-Chellman, 2006) mensabdakan tingkat yang luar biasa jurnal-jurnal yang berbeda yang mereka telah publikasikan: 17 responden memiliki artikel-artikel dalam 120 periode (penerbitan) yang berbeda (hal.9). Sejak kebanyakan riset dalam bidang teknologi pendidikan diaplikasikan kepada mata-ajar yang spesifik dalam setting pembelajaran yang spesifik pula, hal itu dilaporkan tidak hanya dalam jurnal-jurnal teknologi pendidikan melainkan juga dalam jurnal-jurnal professional lainnya, seperti:

  • Early Childhood Research Quarterly
  • Elementary School Journal
  • Reading Research and Instruction
  • Journal of Research in Science Teaching
  • Journal of Teacher Education
  • Studies in Art Education

Namun demikian, jurnal-jurnal yang paling sering scholars teknologi pendidikan publikasikan adalah

  • Educational Technology Research and Development (Riset tentang Teknologi Pendidikan dan Pembangunan)
  • TechTrends (Tren Teknologi)
  • Journal of Educational Computing Research (Jurnal tentang Penelitian Komputing Pendidikan)
  • Journal of Research on Computers in Education (Jurnal Penelitian tentang Komputer dalam Pendidikan)
  • Computers in Human Behaviour (Komputer dalam Perilaku Manusia)
  • Educational Technology (Teknologi Pendidikan)
  • Journal of the Learning Sciences (Carr-Chellman, 2006, hal. 11)

Karena teknologi pendidikan merupakan semacam bidang kajian yang interdisiplin serta seni faktanya digunakan dalam group yang luas dari pengaturan hal itu tidaklah mengejutkan bahwa literaturnya didistribusikan melampaui tingkat periode yang berbeda. Kendati demikian, ada beberapa jurnal—seperti Educational Technology Research and Development (Riset tentang Teknologi Pendidikan dan Pembangunan), TechTrends (Tren Teknologi) dan Educational Technology (Teknologi Pendidikan)—yang melayani tujuan-tujuan yang banyak untuk segmen-segmen luas dari bidang kajian ini, menyediakan stabilitas dan keberlanjutan dalam percakapan yang berlangsung di antara para scholar di bidang kajian ini.

Nilai-Nilai terkait Etika Praktis

Meskipun tidak ada bidang kajian yang mengadvokasi perilaku tidak beretika atau yang melupakan  etika, isu-isu etika terutama yang terkait secara spesifik dengan teknologi pendidikan tentu saja berbeda dari bidang-bidang kajian lainnya. Konsen etika distingtif dari teknologi pendidikan fokus pada proses membuat materi-materi instruksi dan lingkungan pembelajaran serta yang terkait dengan pelajar semasa penggunaan materi-materi tersebut dan lingkungan pembelajarannya.

Seperti telah didiskusikan di bab I, teori kritis secara particular dalam mengingatkan para peneliti dan praktisi untuk berpikir mengenai relasi kuasa yang kesejahteraannya merupakan sesuatu yang utama, yang mengontrol acara, dan yang memiliki suara dalam proses. Sensitivitas terhadap relasi kuasa memperpanjang kepada mereka yang mendesain lingkungan belajar, mereka yang menggunakannya (desain lingkungan belajar), dan mereka yang memenej dan mengevaluasi proses secara keseluruhan. Semenjak para pelajar adalah yang dicanangkan mendapatkan manfaat dari pendidikan, adalah penguasa terdahulu atas professional untuk mencocokkan mereka bagi kekuasaan yang adil dalam proses belajar-mengajar.

Menjaga ketertarikan para pelajar merupakan prioritas utama dalam teori kritis, tetapi demikian juga dalam perspektif-perspektif yang lain. Aliran Behaviorisme mengakui “pelajar tidak pernah salah,” menekankan bahwa segala kegagalan harus selalu dialamatkan pada keburukan desain atau penggunaan system instruksional. Penerapan teori belajar ala aliran Behaviorisme dalam bentuk instruksi yang terprogram dan tutorial yang terstruktur dapat membantu memecahkan (masalah) dari model instruksi berbasis kelompok ke arah model individual yang dimaksudkan (memahami) bahwa masing-masing pelajar memiliki sejarah stimulus yang berbeda, sejarah penegakan (disiplin) yang berbeda, serta level yang berbeda dalam hal kemampuan terampil dalam mencapai target. Oleh karena itu, masing-masing pelajar disyaratkan membiasakan diri (mengikuti) instruksi dan penegakan (disiplin). Tambahan lagi, teknik instruksi yang terprogram dan tutorial yang terstruktur membolehkan pembelajaran terukur secara individual.

Perspektif penganut aliran Kognitif dalam mengajar-belajar juga menggambarkan perhatian yang penuh terhadap kebutuhan individu sejak teori meletakkan bahwa masing-masing orang membangun struktur kognitif internalnya atau schemata yang secara mendasar unik, sejak masing-masing orang memiliki pengalamn-pengalaman hidup yang berbeda.

Perspektif penganut aliran Konstruktif berpendapat melampaui pendapat aliran yang disebut sebelumnya (Kognitifis), bahwa bahkan jika dua orang berpartisipasi dalam acara yang sama, tiap orang itu akan meng-konstruk interpretasi yang berbeda dan unik disebabkan pengalaman mereka. Oleh karena itu, posisi penganut aliran Konstruktif meletakkan penekanan pengecualian pada kebutuhan untuk melihat setiap pelajar secara individu.

Tentu saja, berkenaan dengan kepentingan individual pelajar, kekhususan membutuhkan pelajar-pelajar, serta pelajar-pelajar dengan perbedaan kultur dan bahasa, tidak dibatasi oleh para penganut isme-isme itu secara khusus. Hal ini hanya contoh dari rationale yang turut membentuk platform yang solid bagi nilai ini.

Satu cara yang para pelajar diberdayakan melalui teknologi pendidikan adalah kerangka desain yang dikerjakan melalui pekerjaan desain yang terpusat pada pengguna. Ketika konsep ini sejak awal dimaksudkan sebagai “pengembangan orientasi pengguna” (Burkman, 1987), pengguna utamanya adalah guru, seseorang yang menerima atau menolak produk proses desain instruksional. Tetapi lebih jauh belakangan telah hadir ide untuk memasukkan pelajar (sebagai pengguna) juga. Dengan memberikan panggung kepada guru dan murid untuk bersuara melalui proses pengembangan, sepertinya hal itu lebih mengena, yakni bahwa produk final akan jadi efektif dan lebih bisa diterima dalam penggunaannya. Pada sebagian level, terutama pendidikan untuk dewasa, sangat mungkin untuk memberikan kesempatan bagi para pelajar untuk secara actual ikut serta menciptakan instruksi. Contoh, supervisor produksi yang bekerja di grup-grup kecil dapat melakukan brainstorming daftar cara-cara untuk meng-handle konflik di tempat kerja. Mereka dapat membandingkan item-item antar grup dan setuju pada solusi terbaik yang mana kemudian membentuk isi pelajaran. Dalam pandangan ini, sebuah proses desain yang terpusat pada pengguna bukanlah hanya merupakan jalan terlayak untuk (membuat) suatu instruksi yang pada akhirnya dapat digunakan, tetapi juga cara untuk memberdayakan para pelajar dan guru di dalam dunia mereka sendiri serta cara untuk menciptakan isi (belajar-mengajar) yang berkredibilitas tinggi untuk audiens.

Sebagai ide tambahan mengenai kepedulian terhadap pelajar, tuntutan-tuntutan etisnya adalah para praktisi (agar) mengerjakan tugas-tugasnya dengan (arahan) informasi memadai mengenai pengetahuan tentang praktek-praktek terbaik di bidang ini. Terus mengupdate diri dengan riset dan pengetahuan level lanjut (advance) adalah ekspektasi seluruh bidang kajian profesional ini, tetapi ia memiliki sesuatu yang penting yang khusus dalam teknologi pendidikan sebab teknologi pendidikan meng-klaim didasarkan pada penerapan ilmiah dan pengetahuan yang terorganisasikan dengan baik lainnya terhadap pendidikan. Upaya-upaya untuk membuat kaum professional advance yang dapat mengakses website dan blog  ahli-ahli teknologi pendidikan dan program-program penelitian, jurnal-jurnal teori yang diarahkan kepada praktek seperti TechTrends serta berbagai laporan tentang praktek (teknologi pendidikan) yang telah dipaparkan di konferensi-konferensi internasional, yang mungkin di-share dalam proseding-proseding konferensi-konferensi itu.

Nilai-Nilai yang terkait dengan Fasilitasi Pembelajaran

Untuk mengawali topik ini, teknologi pendidikan membagi komitmen sentral pendidikan untuk membantu orang belajar. Tambahan lagi, untuk mempromosikan “belajar bagaimana belajar”, para pendidik memberi seseorang kebiasaan dan sikap untuk membuat mereka mampu melanjutkan meraih pendidikan mereka sendiri di bawah (bimbingan) inisiatif-inisiatif mereka sendiri. Ini merupakan kritik untuk membentuk pelajar-pelajar abadi, salah satu dari tujuan-tujuan pendidikan.

Teknologi pendidikan telah berimplikasi pada misi membantu orang belajar lebih baik daripada mereka lakukan melalui cara-cara yang mereka buat sendiri atau melalui intervensi orang lain yang kurang dalam hal qualifikasi teknologi pendidikan. Kenapa meminta untuk rekognisi sebagai sebuah bidang kajian pembeda kecuali ada klaim terhadap sesuatu yang lebih baik dibandingkan yang bidang kajian lain lakukan? Menyiapkan fasilitasi alat  belajar yang lebih baik menciptakan pengalaman dan menyiapkan lingkungan  yang mana pelajar lebih termotivasi untuk belajar, meng-advance-kan diri secara cepat, berlanjut terus, dapat meng-aplikasikan pengetahuan mereka yang lebih baik, dan merasakan pengalaman yang sangat memuaskan seluruh ini dalam konstrain waktu, uang, dan sumberdaya manusia yang tersedia. Teknologi pendidikan mengerjakan ini melalui teknologi yang menyiapkan akses terhadap lebih banyak orang dan yang mempromosikan pembelajaran secara lebih efektif.

Meningkatkan Akses ke Pembelajaran

Meskipun konsep tentang akses ke pembelajaran tidak secara eksplisit muncul dalam definisi, teknologi pendidikan memiliki komitmen implicit untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk memperluas jangkauan pendidikan terhadap mereka yang mungkin belum (sempat) terlayani. Contoh, program radio dipergunakan untuk memperluas kesempatan (memperoleh) pendidikan bagi masyarakat pedesaan di beberapa Negara kurang berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin. TV juga dipergunakan untuk membawa instruksi kualitas terhadap ruang kelas di beberapa wilayah—baik di Negara maju ataupun kurang maju—dengan minimnya guru-guru yang qualified. Videoconference digunakan setiap hari, khususnya dalam setting perusahaan, untuk membawa kesempatan-kesempatan pelatihan bagi para pelajar yang bertempat-tinggal jauh dari fasilitas-fasilitas pelatihan pusat.

Tidak hanya memungkinkan untuk memperluas akses pembelajaran melalui ICT, ini adalah kewajiban moral untuk bekerja ke arah kesetaraan kesempatan belajar melampaui etnis dan komunitas geografis, terlepas dari jarak dan ketidakmanfataan ekonomi. Penyetaraan pembangunan social dan ekonomi menyumbang perdamaian dan stabilitas dunia. Para ahli teknologi pendidikan memiliki peran kunci untuk memainkan pembangunan kesempatan-kesempatan pembelajaran yang setara di USA dan seluruh dunia. Peningkatan status ekonomi secara bersama-sama bagi pelajar-pelajar yang kurang mendapatkan pelayanan merupakan bagian paling penting dari masa depan yang mereka rancang dan kerjakan.

Nilai-Nilai yang terkait dengan Peningkatan Performa

Seperti telah didiskusikan di Bab I, bagi bidang kajian yang memiliki klaim apapun pada support public, ia harus mampu membuat kasus yang kredibel untuk dihaturkan demi keuntungan public. Ia harus menyediakan cara yang hebat untuk mencapai tujuan yang memuaskan. Pada poin ini, fokusnya adalah tentang cara-cara bahwa teknologi pendidikan memberikan kontribusi kepada efesiensi dan keefektifan dalam meraih tujuan-tujuan belajar dan performanya. Performa didiskusikan dalam konteks istilah performa pelajar, guru/perancang performa, dan pengorganisasian performa. Konsep efisiensi dan keefektifan tidaklah sederhana atau mudah didefinisikan. Seperti telah didiskusikan dengan sangat mendalam di Bab 3, efisiensi sederhananya bukanlah bermakna yang tercepat dan termurah. Efesiensi (dan keefektifan) hanya bisa didefinisikan berkenaan dengan tujuan-tujuan yang telah disepakati bersama, dan (juga berkenaan dengan) alat untuk mengukur pencapaian mereka. Yaitu, lambat ataupun dengan alat yang berharga lebih mahal mungkin bisa dijustifikasi hanya jika hal-hal tersebut dapat mendorong pencapaian maksimal terhadap tujuan-tujuan yang telah dirancang dengan harga yang lumayan tinggi.

Meningkatkan Performa Pelajar

Seperti dielaborasi di Bab 3, tujuan fasilitasi pembelajaran bukanlah hanya jangka pendek dalam merecall informasi, tetapi kemampuan jangka panjang untuk mengaplikasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap dalam setting dunia nyata. Di masa lalu, mereka yang telah mendesain dan menggunakan materi instruksional atau lingkungan pembelajaran bermaksud mengukur kesuksesan dalam konteks skor post-test, suatu test yang menuntut (evaluasi) kemampuan merecall informasi verbal dalam jangka pendek. Dalam beberapa tahun belakangan, riset dalam psikologi kognitif dan neurosains telah mengekspansi pemahaman kita mengenai dinamika proses belajar. Kita dapat mengenali pembedaan kualitatif, terkait dengan perubahan fisik dalam otak, antara pengetahuan yang supervisial dan pengetahuan yang telah siap pakai (Bransford, Brown, & Cocking, 1999). Weigel (2002) meng-kontraskan belajar pada permukaan (surface learning) dan belajar secara mendalam (deep learning). Belajar pada permukaan dikarakteristikkan hanya dengan menghafal fakta-fakta, menyampaikan prosedur yang disertai dengan sedikit (logika) pemikiran, melihat nilai atau makna pengetahuan sebagai sesuatu yang kecil, menganggap materi (ajar) sebagai sedikit informasi yang tidak saling terkait serta belajar yang tidak disertai kesadaran mengenai tujuan atau strategi (hal. 6) Sebaliknya, dalam belajar secara mendalam, pelajar mengaitkan ide-idenya dengan pengetahuan sebelumnya, mencari pola yang mendasar, menguji klaim (ilmiah) secara kritis, dan berefleksi terhadap pemahaman mereka sendiri(hal. 6).

Kualitas khusus karakter yang diasosiasikan dengan belajar secara mendalam merupakan kemampuan untuk mentransfer pengetahuan baru terhadap situasi-situasi yang tak biasa, terutama yang berada di luar lingkungan pembelajaran. Dari riset tentang kognisi yang dikondisikan, kita sekarang menyadari bahwa apa dipelajari di ruang kelas atau konteks online mengarah pada ditempatkan untuk digunakan pada setting itu kecuali instruktur secara sadar menyediakan kesempatan untuk memraktekkan keterampilan baru dalam konteks yang tetap berada di dunia nyata. Para pelajar mendapatkannya secara sempurna alami untuk menghentikan (penyerapan) pengetahuan mereka di sekolah sebab mereka berangkat ke sekolah dari pintu yang dekat. Mereka bahkan memisahkan pengetahuan yang dipelajari dalam satu mata ajar dari aplikasi terhadap mata ajar lainnya: Apakah kita harus mengingat mata ajar Aljabar di kelas mata ajar Kimia? Dalam teknologi pendidikan kontemporer, transfer pembelajaran kepada settingan luar ruang kelas merupakan konsen yang dipilih secara sadar. Desain dan penggunaan praktek-praktek seharusnya mempromosikan transfer (pengetahuan). Mempromosikan transfer (pengetahuan), oleh karena itu, merupakan suatu nilai yang sangat dititik-tekankan dalam teknologi pendidikan.

Meningkatkan Performa Guru dan Desainer

Di samping meningkatkan performa pelajar, teknologi pendidikan bermaksud untuk meningkatkan performa guru dan desainer. Alat desain instruksional dimaksudkan untuk membantu perencana membangun materi instruksional dan system secara lebih efesien dan efektif. Tujuannya adalah untuk membantu rata-rata praktisi dalam meraih hasil rata-rata.

Sebagai tambahan (ide) memberikan mereka alat-alat yang lebih baik, teknologi pendidikan menekankan untuk memberi para praktisi persiapan sebagai professional yang lebih baik. Hal ini bermakna, sebagai contoh, penggunaan model tugas yang otentik, asesmen yang otentik, dan pengalaman-pengalaman internship sebagai bagian dari program pelatihan. Ini adalah cara-cara mengkontekstualisasikan pelatihan, yang oleh karena itu membuatnya seperti lebih mendekati untuk ditransfer kepada praktek dunia nyata.

Meningkatkan Performa Organisasi

Akhirnya, di samping meningkatkan performa pelajar dan praktisi, teknologi pendidikan bermaksud untuk meningkatkan performa organisasi mereka sendiri. Utamanya, teknologi pendidikan mengerjakan hal tersebut dengan meningkatkan produktifitas proses belajar, membantu orang dalam organisasi untuk memperoleh keterampilan baru secara lebih cepat dan murah, sehingga dapat menghemat waktu dan uang untuk organisasi. Tetapi, ada cara-cara untuk meningkatkan performa organisasi melampaui hanya pelatihan. Orang-ornag di dalam organisasi dapat dibantu untuk lebih produktif dengan mendapatkan alat-alat yang lebih baik, memiliki suasana kerja yang lebih baik, termotivasi untuk bekerja lebih giat, dan memiliki akses dalam memperoleh bantuan pekerjaan atau hal-hal lain berupa support kognitif dalam masa permintaan. Intervensi non-instruksional seperti kejatuhan dalam bidang teknologi performa manusia (HPT). HPT merupakan payung konseptual yang bekerjasama dengan teknologi pendidikan ditambah seluruh cara-cara yang lain untuk meningkatkan performa manusia di tempat kerja. Konsep ini telah didiskusikan di Bab3 dan secara lebih mendalam di akhir seksi ini.

Mempromosikan Efesiensi dan Keefektifan. Seperti telah didiskusikan secara panjang lebar di Bab 3, efesiensi dalam pendidikan adalah subjek yang membutuhkan perhatian detail sebab efesiensi seringkali diasosiasikan dengan pemangkasan harga tanpa melihat efeknya terhadap pelajar atau lembaga-lembaga pendidikan. Dalam konteks teknologi pendidikan, efesiensi dalam pendidikan dan pelatihan merujuk pada rancangan, pengembangan, dan implementasi instruksi dalam cara-cara yang membuat penggunaan bijaksana dari sumber-sumbernya, baik manusia atau moneter. Keefektifan harus berkaitan dengan tingkatan pelajar yang manakah yang mencapai tujuan pembelajaran yang lumayan; yaitu, sekolah, kolej atau pusat pelatihan memfasilitasi pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diinginkan oleh stakeholder mereka termasuk para pelajar sendiri.

Teknologi pendidikan menilai instruksi yang efisien dan efektif. Keduanya harus berjalan seiring. Instruksi yang hanya bertumpu pada pertimbangan murah akan menyia-nyiakan (upaya peduli pada) sumberdaya yang justeru tidak tersedia jika hal itu meninggalkan tujuan memproduksi outcome pembelajaran yang lumayan. Sama halnya, instruksi yang memproduksi hasil pembelajaran yang diinginkan tetapi menghabiskan banyak sumberdaya secara eksesif, tidaklah tepat waktunya, atau tidak mencapai (akal/kebutuhan) pelajar juga merupakan (upaya) menyia-nyiakan waktu untuk peduli pada sumberdaya yang justeru tidak tersedia. Terlepas dari perspektif belajar-mengajar yang lebih disukai seseorang, ada keinginan umum untuk memperoleh cara dalam rangka membantu orang belajar lebih baik (keefektifan) dan memperoleh cara untuk mengerjakannya tanpa menyia-nyiakan upaya dan anggaran pada bagian instruktur atau pelajar (efisien). Sebagai contoh, baik aliran behaviorisme ataupun konstruktifisme percaya bahwa praktek-praktek mereka sangatlah hebat dalam mencapai hasil pembelajaran (keefektifan) dan keduanya juga meyakini bahwa pelajar dapat menuntaskan tujuan-tujuan pembelajaran yang lumayan secara lebih cepat dan lebih mudah jika metode mereka dipergunakan (efisien).

Mengukur Input dan Outcome. Jugdement tentang efisiensi dan keefektifan sangat bergantung pada berapa besar cost dan benefit—manusia dan moneter—yang dikalkulasi. Seperti telah didiskusikan di bab 3, kesetaraan (equasi) cost-benefit dapat diset up untuk memasukkan apapun yang stakeholder mungkin setuju terhadap apa yang dihitung sebagai cost dan apa yang dihitung sebagai benefit. Apakah waktu yang telah dikeluarkan oleh pelajar bagian dari cost? Apakah pengembangan social pelajar bagian dari benefit? Orang boleh sadar secara ilmiah berbeda dalam isu-isu serupa ini. Pada kenyataannya, selalu ada perdebatan dalam institusi bisnis dan pendidikan, tentang tujuan apa yang lumayan bisa diraih dan indicator apa yang seharusnya dipergunakan untuk mengukur kemajuan ke arah tujuan-tujuan ini. Ahli teknologi pendidikan, seperti umumnya pendidik, memiliki kepentingan dalam menentukan outcome dalam perdebatan-perdebatan itu.

Teknologi Performa Manusia (Human Performance Technology—HPT)

Beberapa professional teknologi pendidikan, khususnya yang terlibat dalam perusahaan dan atau organisasi besar lainnya, melihat pekerjaan mereka di bawah payung besar HPT. Dalam HPT, pendekatan teknologi diterapkan tidak hanya pada aktifitas instruksional tetapi dalam seluruh intervensi yang dapat mempengaruhi orang di tempat kerjanya. Yaitu, produktifitas organisasi dapat ditingkatkan melalui beberapa tipe intervensi sebagai tambahan terhadap pelatihan: memberikan insentif, menyediakan bantuan kerja, adaptasi perangkat-perangkat untuk pelaksanaan tugas, merancang kembali pekerjaan dan penyusunan struktur organisasi. Dalam makna yang demikian, HPT terkait dengan teknologi pendidikan dan jauh melampauinya.

Semenjak teknologi pendidikan begitu dekat dikaitkan dengan HPT, mungkin berguna untuk menguji kultur HPT untuk menemukan nilai-nilai apa yang dominan dalam bidang kajian ini, melampaui hal ini didiskusikan dalam teknologi pendidikan.

Masyarakat internasional untuk Peningkatan Performa (the International Society for Performance Improvement—ISPI, 2002) mendukung satu set standar terknologi performa untuk menunjukkan pada praktek HPT. Standar ini mmberikan indikasi nilai-nilai yang sangat penting dalam HPT, yang banyak di antaranya dapat juga dipertimbangkan secara implicit dalam kerja teknologi pendidikan, terutama untuk mereka yang bekerja di berbagai setting organisasi yang kebanyakan praktisi HPT kerjakan: bisnis dan organisasi besar lainnya, termasuk di dalamnya pemerintah, militer, dan organisasi nonprofit. Nilai-nilai HPT yang keren adalah :

  • Fokus pada hasil—mengukur pengaruh intervensi pada target masalah
  • Menambah nilai—hasil harus terkait secara bagus dengan cost, mendudukkan solusi cost-benefit yang positif.
  • Bekerja secara bersama dan kolaborasi—klien dan stakeholders bekerja bersama mengenali bahwa orang menerima perubahan yang mereka bantu ciptakan

Nilai-Nilai yang terkait Menciptakan, Menggunakan, dan Mengatur

Ahli teknologi pendidikan percaya bahwa keputusan-keputusan membuat kreasi dan penggunaan sumber-sumber pembelajaran dapat dan seharusnya dicerahkan oleh pengetahuan yang dapat diuraikan secara empiris. Pada saat yang sama, mereka mengenalkan bahwa kreasi dan penggunaan sumber pembelajaran mensyaratkan gerakan cepat imajinasi sebagaimana mereka dibawa-bawa kemana-mana. Desainer instruksional tidak dapat “cut & paste” materi yang telah dibuat sebelumnya dalam semua waktu; mereka harus terbiasa membuat solusi baru dan materi baru. Instruktur yang menggunakan materi yang telah didesain haruslah membuat adaptasi on the spot, semenjak setiap situasi memiliki aspek-aspek yang unik. Dus, teknologi pendidikan memuat baik kesenian dan ilmu pengetahuan dalam prakteknya, dan ia menerima nilai-nilai multi-talenta dan nilai-nilai pencarian (ilmiah) empiris. Praktisi yang reflektif yang disebut sebelumnya adalah merupakan aspek yang penting dari bidang kajian kita ini; refleksi pada praktek sangatlah vital bagi guru-guru serta desainer-desainer yang berperan aktif harus bermain dalam kreasi dan penggunaan materi dan strategi teknologi pendidikan.

Nilai-Nilai yang terkait dengan Kepatutan

Seperti telah didiskusikan di Bab 1, baik proses dan sumberdaya dimaksudkan agar dapat dimodifikasi dengan term kepatutan (appropriate), artinya suitabilitas dan kompatibilitas dengan tujuan yang secara senagaj ingin dituju dan guidelines etis.

Proses-Proses Kerja

Proses kerja yang patut adalah dibhas oleh etika standar yang mensyaratkan penggunaan suara praktek-praktek professional. Sebagai fisikawan diharapkan mengikuti “standar kepedulian”, sehingga kaum professional yang lain diwajibkan untuk mengetahui dan menaati praktek-praktek terbaik mutakhir di bidang kajian mereka. Sejumlah harapan ini dikhususkan dalam kode etik AECT.

Proses kerja untuk desain instruksional untuk memenuhi standar kepatutan, mereka harus bersikap bagus dalam hal mereka membutuhkan organisasi—seperti sekolah, kolej, atau bisnis—dan pelajar-pelajarnya. Hal itu akan sebaliknya terhadap kepentingan suatu universitas bagi professional teknologi pendidikan yang memberikan layanan konsultasi instruksional untuk mengadvokasi praktek desain instruksional yang menaikkan cost universitas tanpa benefit yang serupa atau yang menaikkan beban kerja fakultas tanpa  pembayaran yang sebanding. Tambahan lagi, praktek desain instruksional tersebut juga akan diharapkan meningkatkan kesempatan belajar bagi pelajar-pelajar yang berpengalaman dalam hal instruksi. Pendeknya, proses desain harus bersifat efisien dan efektif. Hal yang sama akan terkait pada proses kerja yang terlibat dalam seleksi dan penggunaan system instruksional. Praktisi diharapkan mengetahui, merekomendasikan, dan menggunakan teknik penggunaan yang paling update berdasarkan standar mutakhir. Teknik-teknik itu harus dijustifikasi pada basis hasil-hasil, dus, mengingatkan mereka tentang kebutuhan terhadap akses dan memahami hasil-hail telaah hasil riset yang telah dipublikasikan.

Teknologi

Teknologi-teknologi yang berbeda boleh dievaluasi berdasarkan pada kepatutan mereka untuk kelompok umur khusus atau untuk sosio-ekonomi khusus atau setting cultural. Sebagai contoh, semenjak computer tersedia secara luas, kontroversi melawan kepatutan penggunaan computer oleh anak yang masih kecil. Sekolah Montessori dan Waldorf secara eksplisit mengeluarkan computer dari program pendidikan anak usia dini (Kaminstein, n.d., Association of Waldorf Schools of North America, n.d.).

Healy (1999) menyimpulkan “deprivasi waktu bermain” dengan argument:

Jika seorang anak menghabiskan sejumlah waktu tak biasa mereka untuk menonton video games (atau TV, atau bentuk lain dari penggunaan layar computer) sebagai ganti dari bermain dan eksperimentasi dengan berbagai tipe keterampilan yang berbeda, fondasi untuk beberapa bentuk kemampuan mungkin dikorbankan. Kehilangan ini mungkin tidak muncul sampai belakangan hari, ketika beberapa bentuk pikiran dan pembelajaran yang complicated menjadi kebutuhan (hal. 206).

Kaum apologist untuk penggunaan computer oleh anak-anak kecil dimulai dengan mengkritisi praktek menerima secara bersama semua computer dipakai di bawah satu arah; aplikasi yang berbeda memiliki efek yang berbeda. Mereka kemudian untuk dapat menunjukkan untuk memperoleh temuan-temuan studi khusus atau meta-analisa yang muncul, contohnya, yang anak-anak kecil dapat memiliki pengalaman emosional yang positif dengan computer, secara seringkali menggunakan mereka secara kolaboratif, dan berpartisipasi dalam banyak kelompok interaksi di sekitar computer (Clements dan Sarama, 2003).

Mungkin untuk mengadvokasi dua sisi yang memiliki klaim yang dipertahankan. Anak-anak kecil membutuhkan rangkaian tangan pertama, langsung, pengalaman fisik untuk pembangunan yang tepat. Berasumsi bahwa mereka memiliki cukup waktu dan kesempatan untuk pengalaman langsung seperti itu, mungkin ada juga kesempatan pengunnaan computer tertentunya, mungkin menjadi manfaat yang besar. Hal ini kembali kepada komitmen teknologi pendidikan untuk membuat penilaian kepatutan tehnologi pada basis kebutuhan pelajar khusus dalam kondisi yang spesifik.

Demikian juga, kritik melihat dengan peringatan ekspor tehnologi tinggi kepada Negara-negara atau subkultur yang dipersepsi sebagai sesuatu yang belum siap untuk mereka. Teknologi baru mungkin mengekspose orang pribumi kepada orang asing atau idea yang bertentangan dalam batas tertentu dengan kultur tradisional. Teknologi baru mungkin menjadi tidak berkelanjutan dalam konteks infrastruktur local atau mereka mungkin menyebabkan masalah buruk terhadap financial yang sulit pada ekonomi local. Mereka mungkin membuat semakin buruk bercokolnya dominasi politik atau “imperialism cultural”.

Posisi nilai teknologi pendidikan adalah bahwa solusi teknologis seharusnya dievaluasi untuk kepentingan sustainabilitas mereka, kebaikan cultural mereka, dan dampak ekonomi mereka. Baik teknologi tinggi ataupun rendah adalah baik dan sekaligus buruk pada dirinya. Baik seseorang—atau tidak ada seorangpun sama sekali—mungkin menjadi layak dalam situasi yang memang sudah terjadi.

Sumberdaya Spesifik

Sensitivitas terhadap kepentingan pelajar dan latar belakang cultural serta pengalamannya disyaratkan, dan perhatian terhadap posisi setara kekuasaan dan otoritas, akses yang setara, dan penyetaraan kesempatan untuk pelajar yang tidak dapat mengambil manfaat adalah vital. Memutuskan mengaplikasikan criteria kepatutan adalah bagian dari ekspektasi professional yang ahli dalam teknologi pendidikan.

Nilai-Nilai yang terkait Teknologi

Seperti telah didiskusikan di Bab 1, istilah teknologi dimaksudkan untuk menerapkan baik proses ataupun sumberdaya. Salah satu dari ide besar dalam bidang kajian ini adalah komitmennya terhadap pendekatan-pendekatan yang berkesesuaian dengan aplikasi sistematik dari ilmu pengetahuan atau pengetahuan terorganisasi lainnya terhadap tugas-tugas praktis (Galbraith, 1967, hal. 12). Istilah ini adalah kunci satu nama yang disebut teknologi pendidikan. Hal itu mengindikasikan perspektif unik yang ada pada bidang kajian ini dibandingkan yang lainnya. Bidang kajian lain mengaplikasikan proses pendidikan, tetapi proses tersebut tidak secara penting dibutuhkan untuk secara sistematis dibuat, juga tidak menjadi basis dari latar ilmu pengetahuan. Praktisi yang lain—guru, professor, dan pelatih—mengembangkan, menyeleksi, dan menggunakan sumberdaya untuk isntruksi, tetapi mereka tidak secara butuh focus pada sumberdaya teknologi. Bidang kajian ini justeru telah membutuhkannya.

Label lain untuk proses dan sumberdaya teknologi adalah teknologi soft dan hard. Yang pertama merefer kepada metode berpikir mengenai mengajar, belajar, dan mengunakan metode androit untuk pemecahan masalah. Sementara yang disebut terakhir merefer kepada penggunaan hardware dan software untuk secara actual berkomunikasi dengan pelajar. Hal itu lumrah di antara profesional teknologi pendidikan bahwa teknologi keras pada dirinya sendiri bukanlah obat mujarab. Teknologi informasi dan komunikasi (ICT), meskipun secara potensial merupakan kekuatan dahsyat dalam konteks peningkatan akses terhadap pendidikan juga rendah cost dan mengurangi anggaran belanja, adalah hanya pembawa pesan dan metode pendidikan. Kehebatan pesan dan metode  secara mendasar menentukan nilai suatu program.

Tambahan lagi, hal itu merupakan tanggung-jawab special dari bidang kajian ini untuk mempertimbangkan konsekuensi yang tak disengaja dari penggunaan yang pervasive dari ICT. Penggunaan ICT yang berlebihan atau ketidaktepatan penggunaan ICT dapat mendorong pada isolasi dan alienasi penggunanya, seperti disebutkan dalam contoh terdahulu berkenaan dengan anak usia pra sekolah dan computer. Sintesa dari sesuatu yang lebih dari cukup dari penelitian terhadap pengaruh TV yang dilihat anak-anak kecil menyediakan lebih dari cukup guidelines untuk bersentuhan dengan isu-isu ini (Seels, Fullerton< Berry, & Horn, 2004). Pengalaman lebih belakangan dengan pelajar secara menyenangkan menggunakan teknologi digital (contoh: akses wireless, cell phone, PDAs, dan yang lainnya) secara tertentu menyarankan bahwa logika alineasi mungkin tumbuh, atau mungkin dipengaruhi oleh kemampuan yang meningkat bersentuhan dengan barang elektronik lainnya meskipun tidak secara fisik. Akhirnya, sentuhan manusia merupakan bahan utama yang penting dalam program pendidikan yang terus berputar.

KESIMPULAN

Teknologi pendidikan men-share nilai-nilai secara umum berkaitan dengan bidang kajian, seperti pendidikan, tetapi ada beberapa nilai yang lebih keren terhadap teknologi pendidikan dan ia terkenal dalam tulisan teoritis ataupun praktis dalam bidang kajian ini. Masing-masing elemen dari definisi dasar membawa satu atau lebih nilai-nilai yang keren.

Belajar

Praktek dalam teknologi pendidikan adalah berdasarkan pada pencarian sejumlah tipe—riset dasar tentang pembelajaran; riset aplikatif tentang proses desain, penggunaan, dan menejemen; evaluasi formatif dan summative tentang materi speisifik, riset aksi tentang suatu projek di bidang kajian ini, studi kasus, terutama tentang system yang gagal; dan refleksi personal mengenai pengalaman dengan teknologi.

Etika Praktis

Kode etik adalah merupakan pernyataan tentang nilai, sehingga banyak contoh spesifik dari pernyataan tentang nilai yang dapat ditemukan dalam formulasi seperti kode etik AECT. Hal ini mengarah kepada menggerakkan hubungan antara ahli teknologi pendidikan, pelajar, materi ajar dan system yang mereka terlibat di dalamnya. Syarat etik utama bagi praktisi adalah secara sederhana mengetahui dan mengobservasi praktek terbaik.

Fasilitasi Pembelajaran

Melampaui tujuan yang secara sederhana untuk menolong orang belajar, teknologi pendidikan bersikukuh membantu mereka belajar lebih baik dari yang mereka bisa dari dalam diri mereka atau melalui perangkat lain yaitu teknologi pendidikan. Strategi yang mempromosikan keterlibatan, pencarian, dan refleksi membantu pelajar belajar bagaimana cara belajar, mengerti lebih baik diri mereka sebagai pelajar, dan menjadi partner yang setara dalam pembelajaran yang setara. Tambahan lagi, satu dari tujuan yang implicit dari teknologi pendidikan adalah meningkatkan akses terhadap pembelajaran terlepas ada jarak, batasan, atau ekonomi, oleh karena itu diharapkan dapat berkontribusi terhadap kesetaraan sosial.

Meningkatkan Performa

Teknologi pendidikan bersikukuh membantu orang tidak hanya belajar secara mendalam saja, tetapi juga untuk menjaga keterampilannya bertahan lebih lama, dan menerapkannya dalam setting di luar ruang kelas. Nilai-nilai efisiensi dan keefektifan, meskipun keduanya menerapkan seluruh elemen definisi itu, secara khusus dipertimbangkan untuk meningkatkan performa individual pelajar, guru dan desainer, serta organisasi secara keseluruhan. Teknologi pendidikan membantu individu dan organisasi meraih tujuan mereka sementara hal itu dapat dicapai dengan menggunakan yang terbaik dari segi waktu dan sumberdaya yang tersedia.

Menciptakan, Menggunakan, dan Mengatur

Teknologi pendidikan mendekati kreasi materi instruksional dan lingkungan pembelajaran secara umum yang memuat system, sistematika dan prosedur ilmiah. Pada saat yang sama, ia mengenali dan menilai artistry di dalam proses.

Proses dan Sumberdaya yang Patut

Agar menjadi patut, proses kerja harus dinyatakan pertama sekali sebagai art. Nilai tukar pengetahuan dan kompetensi dalam aksi minimal mengakui nilai-nilai yang diasumsikan. Agar menjadi patut, proses kerja harus juga suitable untuk segala situasi—kebermanfaatan terhadap institusi dan pelajarnya juga.

Sumberdaya yang diseleksi atau diciptakan untuk digunakan oleh pelajar mungkin dinilai dengan berbagai-macam criteria. Nilai yang seharusnya men-drive pengembangan dan aplikasi criteria itu adalah sensitivitas terhadap kebutuhan dan kepentingan pelajar.

Proses dan Sumberdaya Teknologi

Tidak ada yang dapat lebih terpusat secara logis terhadap makna tekhnologi pendidikan daripada konotasi istilah teknologi. Ini berimplikasi pada komitmen terhadap solusi yang secara sistematis dan ilmiah berdasarkan pada [aspek lunak tekhnologi] dan /atau berkaitan dengan ICT sebagai perangkat yang melibatkan pelajar dalam mempelajari aktifitas [aspek keras dari teknologi].  Terhadap aspek yang disebut belakangan, teknologi pendidikan meng-encourage analisa kritis dari konsekuensi yang tidak disengaja dari prolifirasi teknologi yang keras menuntut kepentingan manusia untuk memiliki keistimewaan melebihi sesuatu yang bersifat teknis lainnya.

Januszewski Alan., Michael Molenda, Educational Technology: A Definition with Commentary. New York: Routdege, 2008.