BAB I PENDAHULUAN

 LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan merupakan suatu aspek yang tak pernah lepas dari kehidupan manusia sehingga kemajuan suatu bangsa sangat tergantung pada optimalisasi pendidikan. Upaya peningkatan pendidikan diperlukan agar tercipta siswa/pelajar yang berkualitas atau kompetitif. Tujuannya agar tercipta sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu membawa Indonesia semakin maju. Dalam pembangunan bangsa, peranan sumber daya manusia sangat penting oleh karena itu pemerintah benar-benar memperhatikan program pendidikan. Yang menjadi alasan mendasar peningkatan mutu pendidikan adalah rendahnya mutu pendidikan khususnya pembelajaran di sekolah. Melihat kenyataan yang ada bahwa keberhasilan siswa dalam pelajaran agama Kristen menunjukan indikator yang belum memuaskan seperti yang diharapkan pada tujuan diatas.

Berdasarkan hasil pengamatan selama ini, siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Anak cenderung tidak begitu tertarik dengan pelajaran Pendidikan Agama Kristen karena selama ini pelajaran Pendidikan Agama Kristen dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat siswa belajar Pendidikan Agama Kristen di sekolah.

Banyak faktor yang menyebabkan hasil belajar siswa pada pelajaran Pendidikan Agama Kristen masih rendah yaitu faktor internal dan eksternal dari siswa. Faktor internal antara lain : motivasi belajar, intelegensi, kebiasaan dan rasa percaya diri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar siswa, seperti : guru sebagai pembina kegiatan belajar, strategi pembelajaran, sarana dan prasarana, kurikulum dan lingkungan.

Dari masalah-masalah yang dikemukakan diatas, perlu dicari strategi baru dalam pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Pembelajaran yang mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat pada siswa, memberikan pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual dalam kehidupan nyata dan mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada siswa.

Disinilah guru dituntut untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi, baik dalam ranah kognitif, ranah afektif maupun psikomotorik siswa. Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan penciptaan suasana yang menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen. Dalam hal ini penulis memilih metode simulasi dalam meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan siswa dalam kaitannya dengan mata pelajaran pendidikan agama kristen sehingga hasil belajar siswa semakin meningkat.

Pembelajaran dengan metode simulasi adalah suatu proses belajar mengajar didalam kelas dimana siswa terlebih dahulu diminta mempelajari materi yang sudah disiapkan guru, kemudian siswa diminta untuk menguasai sebuah skenario,

Setelah itu dapat diperagakan dikelas dan guru merangsang siswa untuk berfikir kritis dalam hal-hal yang sudah diperagakan oleh teman-temannya. Tugas guru mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda diantara mereka. Sehingga materi semakin bermakna dan dapat dikuasai oleh siswa.

Menurut E. Mulyana Pembelajaran aktif dengan menciptakan suatu kondisi dimana siswa dapat berperan aktif, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator .  Pembelajaran harus dibuat dalam suatu kondisi yang menyenangkan sehingga siswa akan terus termotivasi dari awal sampai akhir kegiatan belajar mengajar (KBM). Dalam hal ini pembelajaran dengan metode simulasi sebagai salah satu bagian dari pembelajaran merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan guru di sekolah untuk meningkatkan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.

IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan  hasil pengamatan disekolah, ternyata banyak permasalahan yang ada seperti :

  1. Hasil belajar siswa rendah .
  2. Metode yang digunakan guru tidak efisien
  3. Motivasi siswa dalam belajar rendah
  4. Pengawasan terhadap pembelajaran siswa dirumah kurang ketat
  5. Pembelajaran dikelas tidak mendukung terbentuknya sikap dan perilaku yang baik
  6. Siswa tidak tertarik dengan cara dan model pembelajaran yang diterapkan
  7. Guru kurang profesional.
  8. Persiapan mengajar guru tidak ada.
  9. Penguasaan kelas tidak ada.
  10. Administrasi dan kelengkapan mengajar guru tidak ada.

PEMBATASAN MASALAH

Begitu banyaknya permasalahan yang ada dalam pembelajaran di kelas VII Sekolah SMP Negeri 11 Tidore Kepulauan, namun dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti hanya mengangkat salah satu permasalahan yaitu : “Penggunaan Metode Simulasi”.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian pada identifikasi permasalahan diatas, maka Masalah yang akan dikaji dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan :

“Apakah penggunaan Metode Simulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 11 Tidore Kepulauan  pada mata pelajaran PAK

TUJUAN PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran apakah dengan menggunakan Metode Simulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII Sekolah SMP Negeri 11 Tidore Kepulauan

Apabila dapat meningkatkan hasil belajar, diharapkan untuk terus-menerus diterapkan.

MANFAAT PENELITIAN

Secara teoritis dan praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk  guru dan siswa.

Untuk guru :

  1. Memperbaiki proses belajar mengajar dalam pelajaran Pendidikan Agama Kristen di SMP Negeri 11 Tidore Kepulauan
  2. Mengembangkan kualitas guru dalam mengajarkan Pendidikan Agama Kristen di SMP Negeri 11 Tidore Kepulauan
  3. Memberikan alternatif kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
  4. Menciptakan rasa senang belajar pendidikan agama kristen selama pelajaran berlangsung dengan adanya partisipasi belajar melalui metode simulasi.

Untuk siswa : –   Dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

  • Memotivasi siswa untuk senang belajar pendidikan Agama Kristen.
  • Membiasakan diri untuk selalu mau belajar.

 

BAB II KAJIAN TEORI, HIPOTESIS  PENELITIAN,  ALASAN MEMILIH TINDAKAN

 

KAJIAN TEORI

Hakikat PAK.

Pengertian dan peranan PAK.

Hakekat Pendidikan Agama Kristen (PAK) adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan pada siswa agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian tiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran PAK memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.

PAK SMP pada hakikatnya menjadi wahana dasar pembinaan warga gereja dan ini merupakan tanggung jawab dan menjadi jiwa dari karya gereja melalui peran dan fungsi guru-guru PAK.

Dalam setiap kegiatan PAK SMP ada beberapa unsur pokok yang harus diperhatikan seperti:

  1. PAK SMP adalah tugas dan tanggung jawab kenabian setiap gereja yang harus menyampaikan warta selamat kepada semua manusia.
  2. PAK SMP mengusahakan agar iman dan penghayatan serta pengalamannya dipraktekkan oleh anak-anak Tuhan setiap saat dalam kesehariannya dimana saja dan kapan saja.
  3. PAK SMP mengajak anak-anak agar mereka mengenal Firman dan kehendak Allah dalam hidupnya setiap hari.
  4. PAK SMP menyampaikan nilai-nilai Alkitabiah yang suci dan hakikat hidup beriman, dengan mempertimbangkan dan mengutamakan konteks dan realitas situasi konkrit penerimanya.
  5. PAK SMP bagi anak-anak harus selalu diperhatikan dan dikelola secara serius.

Dengan demikian jelaslah bahwa PAK SMP tidak boleh dilakukan asal-asalan, atau sekedar pelengkap dalam kurikulum. PAK harus mewartakan Yesus Kristus dalam situasi konkrit hidup orang/anak setiap hari agar mereka menghayati dan mengekspresikan imannya.

Hakikat inti dan pusat dari PAK SMP ialah Yesus Kristus. Sumber dan pokok kegiatan PAK SMP di manapun dan dalam kesempatan apapun adalah Yesus Kristus.

Karena berpusatkan pada Yesus Kristus, PAK SMP menggiatkan pembinaannya agar anak bertumbuh kembang menjadi dewasa dalam iman pribadinya, dewasa dalam bergereja dan dewasa dalam bermasyarakat. Dewasa dalam iman dapat berarti: orang selalu memiliki hubungan erat dengan Tuhan, menyerahkan diri seutuhnya pada Allah, bertobat, percaya bahwa rahmat iman berasal dari Allah, menerima kesatuan ajaran dan menyatukan imannya dengan kehidupan.

Dewasa dalam bergereja berarti sebagai umat percaya teguh akan Kristus, dasar dan pegangan hidup mereka adalah Kristus, hidup dalam semangat persaudaraan dan saling mencintai, sehati dan sejiwa dengan sesama, rela menjadi garam dan terang dalam masyarakat. Dewasa dalam bermasyarakat berarti: sadar mewujudkan imannya dalam masyarakat, ikut serta mengembangkan masyarakat menjadi terang dan garam dunia, berani memberikan kesaksian iman dimana saja serta menjalankan karya kasih bagi sesama manusia.

Tujuan pembelajaran PAK

Pembelajaran PAK secara umum bertujuan memperkenalkan Allah, Bapa, Putera dan Roh Kudus dan karya-karyaNya serta menghasilkan manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara bertanggung jawab di tengah masyarakat yang pluralistik. Dan secara khusus bertujuan menanamkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan pribadi dan sosial sehingga siswa mampu menjadikan nilai Kristiani sebagai acuan hidup personal maupun komunitas.

Berdasarkan tujuan tersebut, maka rumusan kompetensi dalam Pendidikan Agama Kristen di SMP dibatasi hanya pada aspek yang mampu mendorong terjadinya transformasi dalam kehidupan siswa terutama nilai-nilai iman Kristiani.

Melalui penyajian kurikulum PAK diharapkan siswa mampu mengalami suatu proses transfomasi nilai-nilai kehidupan berdasarkan iman Kristiani yang dipelajari dalam PAK. Fokus kurikulum adalam “Life Center” atau pusat kehidupan manusia. Artinya pembahasan kurikulum didasarkan pada kehidupan manusia dan iman kristen berfungsi sebagai wahana untuk kompetensi, dimulai dari lingkup yang paling kecil yaitu manusia sebagai ciptaan Allah, kemudian keluarga, teman, lingkungan disekitar siswa, barulah dunia secara keseluruhan dengan berbagai dinamika persoalan.

Kedudukan PAK dalam Kurikulum

Pembelajaran PAK disekolah merupakan kesatuan yang utuh dengan pendidikan yang diterima dirumah/ keluarga, gereja dan masyarakat. Pembelajaran PAK berpusat pada siswa artinya bahwa perkembangan, keberadaan, pergumulan, kebutuhan, kondisi konkrit siswa yang seringkali berbeda-beda haruslah menjadi pertimbangan utama guru dalam merancang pembelajaran sehingga PAK benar-benar menyentuh eksistensi guru dan siswa mengalam perubahan baik pengetahuan, sikap, keterampilan dan nilai-nilai dalam dirinya sesuai dengan nilai-nilai luhur yang diwujudkan dalam diri Yesus Kristus Tuhan yang mendasari pembelajaran PAK.

Dasar-dasar pembelajaran PAK :

  1. Ulangan 6 : 4-9 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu”
  1. Efesus 6 : 4 “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”
  2. Amsal 22:6   ”Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. “
  3. ….. Timotius 3:16“ Segala tulisan yang d…..lhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”.

 Pengertian belajar

Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui  penguatan, sehinga terjadi perubahan yang bersifat tetap dan tepat pada dirinya sebagai hasil pengalaman, demikian pendapat John Dewey, salah seorang ahli pendidikan Amerika Serikat dari pendekatan tingkah laku.

Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat maju, mengarah kepada kesempurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan, aspek sikap maupun aspek ketrampilan. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Ada 4 ( empat ) pilar belajar yang dikemukakan oleh Badan Pendidikan PBB (UNESCO) , yaitu :

  1. Belajar Untuk Tahu, yaitu suatu proses pembelajaran yang memungkinkan siswa menguasai teknik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya memperoleh pengetahuan.
  2. Belajar untuk mengerjakan adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk melaksanakan pengawasan, memonitor, mempertahankan, merancang, mengorganisir. Belajar dengan melakukan sesuatu dalam potensi yang kongkret tidak hanya terbatas pada kemampuan berdasarkan aturan, melainkan juga meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi konflik
  3. Belajar untuk hidup bersama adalah membekali kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling pengertian dan tanpa prasangka.
  4. Belajar untuk menjadi adalah keberhasilan pembelajaran yang untuk mencapai tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama , kedua , dan ketiga. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu memecahkan masalah, bekerjasama, bertenggang rasa, dan toleransi terhadap perbedaan. Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada siswa sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya, berkepribadian mantap dan mandiri , memiliki kemantapan emosional dan intelektual , yang dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten, yang disebut emtional intelegence ( kecerdasan emosi ).

Metode Bermain Peran/Simulasi

Metode bermain peran ialah suatu cara penugasan bahan pelajarn melalui pengembangan dan penghayatan anak didik. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan oleh anak didik dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Dengan kegiatan memerankan ini akan membuat anak didik lebih meresapi perolehannya.  Melalui metode ini dapat dikembangkan ketrampilan mengamati, menarik kesimpulan, menerapkan dan mengkomunikasikan. Untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan agama kristen, dalam pembelajarannya harus menarik sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Diperlukan metode pembelajaran interaktif dimana guru lebih banyak memberikan peran kepada siswa sebagai subjek belajar, guru mengutamakan proses dari pada hasil. Guru merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara utuh dan menyeluruh pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga tercapai hasil belajar. Agar hasil belajar pendidikan agama kristen meningkat diperlukan situasi, cara dan strategi pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara aktif baik pikiran, pendengaran, penglihatan dan psikomotor dalam proses belajar mengajar.

Adapun pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara totalitas adalah pembelajaran dengan metode bermain peran atau simulasi. Pembelajaran dengan metode bermain peran/simulasi adalah suatu proses belajar mengajar di dalam kelas, dimana siswa terlebih dahulu diminta mempelajari materi yang sudah disiapkan guru kemudian siswa diminta untuk menguasai sebuah skenario, setelah itu dapat diperagakan dikelas, setelah selesai memperagakan siswa diarahkan untuk berdiskusi dengan tuntunan guru dan tugas guru adalah merangsang siswa untuk berfikir kritis dalam hal-hal yang sudah diperagakan oleh teman-temannya. Tugas guru mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi dan mendengarkan perspektif yang berbeda diantara mereka. Sehingga materi semakin bermakna dan dapat dikuasai oleh siswa. Dari uraian diatas dapat diduga bahwa pembelajaran dengan metode bermain peran atau simulasi dapat meningkatkan hasil belajar

HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan kajian teori, maka akan dikemukakan hipotesis penelitian yang merupakan jawaban sementara dari rumusan masalah “ Jika guru menggunakan metode simulasi dalam proses belajar mengajar akan terjadi peningkatan hasil belajar siswa dalam belajar mata pelajaran PAK di kelas VII SMP Negeri 11 Tidore Kepulauan

ALASAN MEMILIH TINDAKAN

Pembelajaran metode bermain peran/simulasi berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, menemukan dan mendiskusikan masalah serta mencari pemecahan masalah, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Siswa mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya.

. Dengan uraian diatas cukup beralasan bahwa tindakan guru untuk memilih menggunakan metode bermain peran pada topik “ Kesenian untuk memuju Tuhan “ sangatlah tepat, karena siswa bukan hanya ditransfer pengetahuan dari guru, tetapi mencoba memerankan, merasakan bagaimana kehidupan yang diamati dan dilihat selama ini.

 

BAB III PROSES DAN PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN

  Pemerian Latar dan Karakter sasaran penelitian.

Sesuai  dengan tujuan penelitian tindakan kelas yakni untuk mendapatkan gambaran apakah penggunaan metode simulasi  dapat meningkatkan hasil belajar siswa lewat proses belajar mengajar mata pelajaran PAK, maka yang menjadi sasaran penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 11 Tidore Kepulauan dengan jumlah siswa  14 orang.

Berdasarkan kenyataan bahwa para guru yang mengajar di SMP Negeri 11 Tidore Kepulauan  lebih khusus di kelas VII, kurang kreatif dalam memilih atau menentukan  dan menggunakan metode dalam pembelajaran. Itulah sebabnya sehingga minat, perhatian, motivasi dan kualitas dalam proses belajar mengajar kurang.

Untuk itulah  peningkatan hasil belajar dalam proses belajar mengajar perlu dilakukan lewat penggunaan metode simulasi.

Partisipan dan perannya

Penelitian ini dilaksanakan secara individual yakni oleh peneliti sendiri dan dibantu oleh  kepala sekolah serta guru pamong sebagai pengamat.

Bentuk Penelitian dan cara pemecahan masalah.

Seperti yang disebutkan diatas bahwa penelitian ini dilaksanakan sendiri jadi bentuk penelitian ini adalah penelitian sendiri. Adapun langkah-langkah tindakan secara garis besar yang akan dilakukan untuk pemecahan masalah adalah sebagai berikut :

  1. Menjelaskan KBM secara umum.
  2. Menyiapkan materi yang akan diberikan.
  3. Menyiapkan administrasi/ perangkat-perangkat pembelajaran yang diperlukan.
  4. Memberikan informasi pada siswa bahwa akan ada kegiatan PTK pada hari yang ditentukan.
  5. Melaporkan kepada kepala sekolah dan guru kelas untuk pelaksanaan kegiatan ini.

Administrasi, Sarana dan Material Penunjang

Administrasi adalah perangkat pembelajaran yang disiapkan sesuai kebutuhan (terlampir), dengan sarana yang sudah ada dan tersedia seperti meja, kursi, papan tulis, buku-buku dan lain-lain, diatur dan dirapikan serta disiapkan dengan baik, serta material inti (bahan penunjang) kalau ada

Rancangan proses dan prosedur penelitian setiap siklus

Pelaksanaan penelitian meliputi dua siklus. Tiap siklus terdapat tahapan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

  1. Perencanaan

Perencanaan tindakan Siklus I meliputi         :  – Penyiapan RP/ Silabus

– Skenario pembelajaran.

– Lembar observasi KBM.

– Evaluasi.

Perencanaan tindakan Siklus ….. meliputi      :  – Penyiapan RP/ Silabus

– Skenario pembelajaran.

– Menyiapkan gambar peraga.

– Lembar observasi KBM.

– Evaluasi.

  1. Tindakan

Pelaksanaan tindakan dilakukan sebanyak dua kali putaran (Siklus). Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap atau siklus pertama adalah menjelaskan materi pelajaran dengan tidak berpedoman pada  metode simulasi . Sedangkan pada tahap atau siklus kedua yaitu menjelaskan materi pelajaran dengan berpedoman pada  metode simulasi.

  1. Observasi

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah mengobservasi seluruh kegiatan yang dilakukan oleh guru maupun siswa mulai dari tahap perencanaan pembelajaran sampai pada pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang sudah disiapkan.

Dalam pelaksanaan observasi, peneliti dibantu oleh guru  pamong dan kepala sekolah.

 

  1. Refleksi.

Kegiatan refleksi dipandang sebagai upaya untuk memahami dan memaknai proses dan hasil pembelajaran meliputi kegiatan mengingat dan merenungkan kembali tindakan yang telah dilakukan. Selain itu juga mencatat hasil Observasi, Mengevaluasi hasil observasi, Menganalisis hasil pembelajaran, memperbaiki untuk daur berikutnya. Hasil yang diperoleh merupakan informasi tentang apa yang perlu diperbaiki dari kegiatan tindakan siklus pertama ke siklus atau tahap kedua.

 

  1. Langkah-langkah tindakan pemecahan masalah dan indikator keberhasilan.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan cara guru menyajikan materi pelajaran dengan berpedoman pada Metode simulasi dengan langkah-langkah sebagai berikut:

–     Mengelolah ruang dan fasilitas pembelajaran.

–     Melaksanakan kegiatan pembelajaran.

–     Mengelola interaksi kelas

–     Mengadakan tanya jawab tentang berbagai seni yang ada di daerah sendiri.

–    Mensimulasikan salah satu seni yang ada di daerah …..

–     Memajang gambar peraga  berupa  alat –alat musik yang ada di daerah sendiri.

–     Menjelaskan materi sesuai urutannya.

–   Memberikan penguatan kepada siswa tentang materi pelajaran yang telah dipelajari.

Dari langkah-langkah tersebut diatas kemudian dibuat instrumen yang berupa lembar observasi KBM, untuk mengetahui keterampilan guru menjelaskan lewat Metode simulasi dan diharapkan indikator keberhasilannya adalah amat baik (A), sehingga akan meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengumpulan Data.

  1. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan siswa.

  1. Sasaran

Sasaran penelitian adalah guru dan siswa dengan penggunaan metode simulasi  dalam proses belajar mengajar.

  1. Jenis Data

Berdasarkan apa yang diteliti maka jenis data dalam penelitian adalah data kuantitatif yang didapat dari hasil observasi pelaksanaan tindakan.

  1. Cara mengumpulkan data.

Data tentang proses belajar mengajar pada saat dilaksanakan siklus pertama dan kedua, dari hasil evaluasi terhadap siswa maupun terhadap guru yang diambil dengan menggunakan lembar observasi yang dibantu oleh teman sejawat.

  1. Teknik dan instrumen pengumpul data.

Adapun teknik pengumpulan data dilakukan secara langsung dalam kelas yakni mengisi lembaran observasi berdasarkan pengamatan oleh teman sejawat dan hasil evaluasi terhadap siswa pada setiap siklus.

Cara mengolah dan menganalisis data.

Dalam penelitian ini data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik persentase, yaitu jumlah kegiatan yang dilakukan oleh guru/ siswa dalam waktu pengamatan dibandingkan dengan seluruh kegiatan dengan rumus sebagai berikut :

Persentase  =       Skor Kegitan     x    100  = nilai

Skor total kegiatan

Ket :          Skor Kegiatan             : Jumlah kegiatan yang dilakukan oleh guru atau siswa dalam waktu pengamatan.

Skor total kegiatan      :  Jumlah skor maksimum yang dilaksanakan oleh guru dan siswa

Jadwal kegiatan penelitian

No. Kegiatan Bulan Ket
Aprl Mei Juni Jul Agst Sptm
1.

2.

3.
4.

5.

 

6.

 

Persiapan

Pelaksanaan Siklus 1

Siklus 2

Tabulasi dan analisa data

Pelaksanaan Penyusunan draft hasil penelitian

Pembuatan dan pengumpulan laporan akhir penelitian

             

 

 

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PENGOLAHAN DATA

Pemerian Data Hasil Observasi Setiap Siklus

  1.   Pelaksanaan tindakan pada siklus I

Pada siklus ini peneliti mengadakan kegiatan belajar mengajar (KBM) belum menggunakan metode simulasi

Adapun pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

  1. Menyiapkan dan mengarahkan perhatian siswa pada kegiatan belajar mengajar.
  2. Memperkenalkan pelajaran yang akan dipelajari, dan mengadakan apersepsi.
  3. Tanya jawab dengan siswa mengenai seni yang ada di daerah sendiri..
  4. Menjelaskan materi pelajaran sesuai dengan urutannya.
  5. Sebagai salah satu bentuk penguatan, guru menugaskan siswa dengan melengkapi LKS.
  6. Mengingatkan hal-hal yang telah dipelajari dan menyimpulkan bahwa sebagai anak anak yang baik kita harus bersyukur atas keberagaman kesenian yang ada.
  7.    Memberikan tes tertulis.

 

Hasil Kegiatan Belajar Mengajar KBM)

Siklus 1

Tanggal : Selasa 20 Juli 2012

 

No. Nama Siswa Hasil Belajar berupa Nilai
 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

Dolfi Amos

Ferdinando Binowo

Febriyanto Mandalika

Hilde Sinta Papuas

Natasya

Leni Putka Pudi

Novenly Usa

Novita Tamangendar

Novaldi Paparang

Ristanti A.Pudi

Susiyanti Kagunga

Sindi Angreini Doter

Veking Asminto Papado

Papuas Berti Kastilong

Wine Makilimau

 

6.00

7.50

7.00

6.00

6.50

5.50

6.00

8.00

8.00

6.00

8.00

7.00

8.00

8.00

8,00

Jumlah Nilai 97,5
Nilai rata-rata 6,9

 

 

Berdasarkan pengamatan/ observasi pada siklus I Selasa 20 Juli 2013 terhadap (guru/peneliti) diperoleh hasil sebagai berikut :

  1. Perencanaan pembelajaran.
a.    Perumusan tujuan pembelajaran 2,6
b. Pengembangan dan pengorganisasian langkah dan skenario pembelajaran, materi, metode pembelajaran, sumber belajar dan instrumen evaluasi. 2,5
c.     Perencanaan langkah-langkah dan skenario kegiatan pembelajaran. 2,8
d.   Merancang pengelolaan kelas. 2
e.   Merencanakan prosedur, jenis dan menyiapkan alat penilaian. 2
f.    Tampilan dokumen pembelajaran. 3

 

Nilai IPKG I

2,6 + 2,5 + 2,8 + 2 + 2 + 3  =   14,9   =  2,5

6                                6

 

  1. Pelaksanaan pembelajaran
a.  Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 2,6
b.  Melaksanakan kegiatan pembelajaran. 2,5
 c. Mengelola interaksi kelas. 2,1
d.  Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positif siswa terhadap belajar. 2,2
e.  Mendemonstrasikan kemampuan khusus dalam pembelajaran PAK. 2
f.  Melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar. 2,6
g.  Kesan umum kinerja guru/ calon guru. 2,4

 

Nilai IPKG …..

2,6 + 2,5 + 2,1 + 2,2 + 2 + 2,6 + 2,4  =   16,4   =  2,3

7                                              7

 

  1. Pelaksanaan tindakan pada siklus …..

Dengan melihat hasil yang diperoleh pada kegiatan belajar mengajar siklus I tanggal 20 Juli 2012 yang masih kurang  maka pada tanggal  27 Juli 2012  peneliti mengadakan KBM untuk siklus  1 Pada siklus 2 peniliti mengubah cara yaitu mengadakan kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan menggunakan

Metode simulasi.

Adapun langkah-langkah pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

  1. Menyiapkan dan mengarahkan perhatian siswa pada kegiatan belajar mengajar.
  2. Memperkenalkan pelajaran yang akan dipelajari dan mengadakan apersepsi.
  3. Tanya jawab dengan siswa mengenai seni yang ada di daerah sendiri.
  4. Mengajak siswa yang punya bakat menyanyi, menari , maengket untuk memperagakan kebolehannya didepan kelas.
  5. Tanya jawab dengan siswa tentang materi pelajaran
  6. Menempel/ memajang gambar peraga yang telah disiapkan.
  7. Menjelaskan materi sesuai urutan disertai dengan tanya jawab.
  8. Mengajak siswa membuka alkitab sambil berlomba siapa yang lebih dulu menemukan bagian kitab tersebut. Kemudian meminta siswa membacanya.
  9. Memberikan penguatan, pengendapan dan harapan.
  10. Sebagai salah satu bentuk penguatan, guru menugaskan siswa dengan melengkapi LKS (terlampir).
  11. Mengingatkan hal-hal yang telah dipelajari dan menyimpulkan  materi pelajaran.
  12. Memberikan tes tertulis, memeriksa/ menilai.

Hasil Kegiatan Belajar Mengajar ( KBM )

Siklus  2

Selasa,  27 Juli  2012

 

No. Nama Siswa Hasil Belajar berupa Nilai
 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

Dolfi Amos

Ferdinando Binowo

Febriyanto Mandalika

Hilde Sinta Papuas

Natasya

Leni Putka Pudi

Novenly Usa

Novita Tamangendar

Novaldi Paparang

Ristanti A.Pudi

Susiyanti Kagunga

Sindi Angreini Doter

Veking Asminto Papado

Papuas Berti Kastilong

Wine Makilimau

 

7.00

7.50

7.50

6.50

7.00

6 50

7.00

8.00

8.00

7.00

8.00

7.00

8.00

8.00

8.00

 

Jumlah Nilai

 

103
Nilai rata-rata

 

7,3

 

Pengamatan/ observasi pada siklus 2 Selasa 27 Juli 2012 terhadap guru/ peneliti, diperoleh hasil sebagai berikut:

Perencanaan pembelajaran.

a.  Perumusan tujuan pembelajaran 3
b.  Pengembangan dan pengorganisasian langkah dan skenario pembelajaran, materi, metode pembelajaran, sumber belajar dan instrumen evaluasi. 3
 c.  Perencanaan langkah-langkah dan skenario kegiatan pembelajaran. 3
d.  Merancang pengelolaan kelas. 3
e.  Merencanakan prosedur, jenis dan menyiapkan alat penilaian 3
f.  Tampilan dokumen rencana pembelajaran. 3,4

 

Nilai IPKG I

3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3.4  =   18,4   =  3,6

6                             6

 

  1. Pelaksanaan pembelajaran
a.   Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 3,3
b.    Melaksanakan kegiatan pembelajaran. 3,1
c.     Mengelola interaksi kelas. 3
d.   Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positif siswa terhadap belajar. 3,2
e.   Mendemonstrasikan kemampuan khusus dalam pembelajaran PAK. 3
f.    Melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar 3,3
g.   Kesan umum kinerja guru/ calon guru. 3,2

 

Nilai IPKG

3,3 + 3,1 + 3 + 3,2 + 3 + 3,3 + 3,2  =   22,1   =  3,2

7                                          7

 

Pemerian Hasil Refleksi Setiap Siklus

  1. Siklus I

Berdasarkan analisa data pada kegiatan belajar mengajar (KBM) menunjukkan bahwa hasil belajar dari siswa adalah

  1. Yang belum tuntas secara perorangan         :   6 orang siswa atau 42,8 %
  2. Yang tuntas secara perorangan  adalah       :   8  orang  siswa atau 57,2 %.

Dari data tersebut menggambarkan bahwa hasil belajar siswa dengan atau tidak  menggunakan metode simulasi secara perorangan belum maksimal dan secara klasikal belum memenuhi kriteria ketuntasan belajar  karena baru 57 %. Sementara dikatakan tuntas apabila dari keseluruhan siswa yang memperoleh nilai 6,50 keatas sudah mencapai 85%.

 

 

Demikian juga dengan pengamatan terhadap guru/ peneliti

Pada siklus I :

Nilai IPKG I

2,6 + 2,5 + 2,8 + 2 + 2 + 3  =   14,9   =  2,5

6                     6

 

Nilai IPKG

2,6 + 2,5 + 2,1 + 2,2 + 2 + 2,6 + 2,4  =   16,4   =  2,3

7                                                7

 

Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran masih kurang atau belum memadai.

 

  1. Siklus 2

Berdasarkan analisa data siklus 2, menunjukkan bahwa hasil belajar siswa meningkat bila dibandingkan dengan siklus I.

  1. Yang belum tuntas secara perorangan :  2  orang siswa atau  14,3 %
  2. Yang  tuntas secara perorangan           :  12  orang siswa atau  85,7 % .

Demikian juga pengamatan/ observasi terhadap guru/ peneliti. Pada siklus 2 memperoleh nilai :

Nilai IPKG I

3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3.4  =   18,4   =  3,6

6                             6

Nilai IPKG II

3,3 + 3,1 + 3 + 3,2 + 3 + 3,3 + 3,2  =   22,1   =  3,2

7                                          7

 

 

Kesimpulan Dan Tindak Lanjut Hasil Refleksi

 

Dari data yang diperoleh dan telah dianalisa, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode simulasi dalam proses belajar mengajar dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen  dalam topik  di SMP Negeri 11 Tidore Kepulauan  Hal ini dibuktikan dengan hasil yang dicapai pada siklus ke 2 yang menunjukkan perubahan yang signifikan. Pada siklus 1, siswa yang belum tuntas mencapai 42,8 % namun pada siklus ke dua yang belum tuntas tinggal 14,3 %.

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa penggunaan metode simulasi  dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 11 Tidore Kepulauan

 

 

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari PTK ini adalah sebagai berikut :

  1. Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAK mengalami peningkatan setelah melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode simulasi
  2. Siswa dapat mengembangkan bakat seni yang ada dalam dirinya, dan dengan penuh keberanian memperagakan atau melakonkan seni yang ada didaerahnya sebagai salah satu bentuk memuji Tuhan.
  3. Dapat memotifasi siswa untuk lebih aktif, giat dan antusias dalam mengikuti proses belajar mengajar sekaligus membuat siswa lebih tertarik dan selalu siap dalam menerima pelajaran.
  4. Dengan penuh kesadaran selalu mau menjaga, melestarikan seni budaya daerah      masing-masing sebagai kekayaan yang harus dipelihara.
  5. Dengan  seni yang ada kita gunakan untuk memuji Tuhan.

Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, guru hendaknya:

  1. Menggunakan gambar peraga dalam proses belajar mengajar.
  2. Membuat  dan menyiapkan gambar peraga sesuai dengan materi pelajaran, harus menarik perhatian dan dapat memberikan informasi yang jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas,

Dirjen Dikti, Jakarta, 1997.

………………, Alkitab, LAI Jakarta, 2000

Hutabarat. O,  2004, Model-model Pembelajaran aktif Pendidikan Agama Kristen SMP, SMP, SMA berbasis Kompetensi, Bina Media Informasi.

Mautang. Th, Pengembangan Profesi. Pedoman Praktis Menyusun Karya Ilmiah,

ArtGym Press, Universitas Negeri Manado, 2005

Hutabarat. O, dkk, 2006, Pedoman untuk Guru PAK SMP-SMA dalam melaksanakan kurikulum baru, Bina Media Informasi.

Alma. B, Guru Profesioanl, Alfabeta Bandung, 2008.

Kelompok Kerja PAK, PGI, Tuhan Mengasihi Semua Orang,

BPK Gunung  Mulia 2009.