MENYUSUN MATERI INSTRUKSIONAL

  1. Latar Belakang

Lazimnya dalam suatu kelas, instruktur merencanakan dan melaksanakan kegiatan instruksional. Instruktur sering kali berperan sebagai motivator, penyaji isi materi, pemimpin kegiatan praktek, dan juga sebagai evaluator. Dia juga mengambil keputusan yang mempengaruhi seluruh siswa, baik individu maupun kelompok. Tanda individualized instruction adalah serangkaian kegiatan instruksional oleh instruktur yang selama ini disampaikan kepada siswa secara berkelompok, saat ini disampaikan kepada siswa secara individu melalui materi instruksional. Hal ini bukan berarti meniadakan peran instruktur, justru meningkatkan peran penting instruktur di dalam kegiatan instruksional. Instruktur tetap sebagai motivator, konselor, evaluator, dan pengambil keputusan, serta mendapatkan tanggung jawab tambahan agar siswa dapat menguasai setiap tujuan instruksional.

Materi instruksional yang disusun harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari informasi dan ketrampilan baru tanpa intervensi dari instruktur maupun teman sekelas. Komponen belajar seperti motivasi, isi, praktek, dan umpan balik harus disusun dalam materi instruksional.

Pada bab ini kita akan mempelajari konsep, panduan, dan kriteria untuk menyusun materi instruksional.

  1. Konsep

Berdasarkan strategi instruksional, seorang desainer melangkah untuk menyusun materi instrusional dengan cara sebagai berikut:

  1. PeranDesainerdalam Pengembangandan PenyampaianBahanInstruksional

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai langkah-langkah tersebut, perlu diperhatikan beberapa peran desainer instruksional dalam menyusun dan menyampaikan materi instruksional, antara lain:

  • Jika Desainer Adalah Penyusun Materi Sekaligus Instruktur

Dalam beberapa kegiatan instruksional, seorang desainer instruksional merangkap sebagai penyusun materi sekaligus penyaji atau pengajar. Jika desainer juga seorang instruktur menyusun materi individu, atau materi dapat disampaikan secara mandiri, peran instruktur dalam menyampaian materi adalah pasif, tapi perannya sebagai fasilitator adalah sangat aktif. Tugasnya selama pembelajaran adalah memonitor dan memandu siswa di dalam melaksanakan kegiatan instruksional melalui materi yang ada. Dalam proses instruksional ini siswa dapat belajar sesuai kecepatan masing-masing, dengan dibantu instruktur bagi yang memerlukannya. Kecuali pretes dan postes.

Selain itu, ketika instruktur memilih dan menyesuaikan materi agar sesuai dengan strategi instruksional, hal ini memungkinkan instruktur akan meningkat perannya dalam penyampaian materi. Beberapa materi mungkin belajar mandiri, namun sebagian lain bukan, instruktur harus menyediakan komponen belajar tertentu dalam strategi namun tidak muncul dalam materi. Ketika instruktur menggunakan beragam sumber instruksional, dia memiliki peran yang lebih besar dalam pengelolaan materi.

Model yang sangat tradisional adalah instruktur secara personal menyampaikan seluruh kegiatan instruksional mengacu pada strategi yang telah disusun. Hal ini umum terjadi pada sekolah negeri atau sekolah lain yang memiliki keterbatasan dana untuk mencetak materi atau konten yang akan diajarkan berubah secara cepat. Instruktur menggunakan strategi instruksional sebagai panduan dalam memproduksi outline pada catatan perkuliahan dan petunjuk kegiatan dan aktivitas kelompok. Pada pelatihan teknis dan profesional, desainer sering menyusun petunjuk formal untuk instruktur yang berisi petunjuk perencaan perkuliahan secara rinci, rencana perkuliahan harian atau silabus pelatihan untuk mecapai tujuannya.

Tipe pembelajaran seperti ini memiliki kelebihan dan kekuranngan. Kelebihannya adalah instruktur secara konstan dapat memperbaharui dan meningkatkan materi apabila terjadi perubahan pada konten. Kekurangannya adalah instruktur menghabiskan waktunya untuk fokus pada mengajar dan menyampaikan informasi kepada kelompok, membantu pembelajar individu yang menghadapai masalah. Perkuliahan sulit dilaksanakan dengan baik karena jika instruktur berhenti menjawab pertanyaan untuk satu pembelajar maka keberlangsungan kegiatan untuk satu kelompok akan terhenti.

Pertimbangan penting lainnya dalam menyusun materi instruksional adalah bentuk penyampaian yang diinginkan berdasarkan strategi instruksional yang direncanakan. Jika dalam petunjuk diharapkan belajar mandiri, maka materi harus mencakup seluruh komponen belajar dalam strategi. Instruktur tidak diharapkan untuk berperan dalam penyampaian materi. Jika instruktur berencana untuk mengkombinasikan materi yang ada, maka penyampaian instruksional harus mengkombinasikan materi dan presentasi instruktur. Instruktur tidak perlu menyusun materi baru tapi menyampaikan petunjuk yang diperlukan. Jumlah materi asli yang disusun untuk tipe ini tergantung pada waktu yang tersedia, anggaran, dan staf pendukung. Jika instruktur berencana utuk menyampaikan seluruh pembelajaran dalam materi misalnya catatan perkuliahan, multimedia proyektor, whiteboard, maka instruktur harus menyusun disamping lecture outlines, presentasi elektronik, lembar kerja praktek atau latihan perkuliahan, dan tes formal.

Selanjutnya adalah memodifikasi dan menyesuaikan keputusan awal yang telah diambil dengan materi yang sudah ada saat ini, biaya pengembangan dan produksi yang riil, dan perubahan pemikiran mengenai peran instruktur. Keputusan ini akan berdampak kepada kegiatan pengembangan materi, anggaran, dan staf.

Jika desainer merangkap instruktur, maka tidak terlalu banyak formalitas yang diperlukan di dalam penyusunan materi. Namun seringkali muncul pemikiran di benak instruktur bahawa dia akan sanggup mengelola bahan perkuliahan, menyesuaikan dan mengakomodasi hal-hal yang dibutuhkan. Pemikiran ini menyebabkan instruktur kurang memperhatikan detil penyusunan dan implementasi perkuliahan. Hal lain yang umum terjadi adalah desainer tidak bekerja sendirian ketika memproduksi materi instruksional. Memang tidak lazim pada sekolah negeri, namun terjadi pada pendidikan tinggi, bisnis, pemerintahan, dan militer, dimana produksi media yang kompleks seperti video, web-based, dan multimedia, desainer berkolaborasi dengan produser in-house media daripada mengganti spesifikasi.

  • Jika Desainer Bukanlah Instruktur

Pada perusahaan besar, desainer instruksional biasanya sebuah tim kerja yang bertanggung jawab mengenai desain, pengembangan, dan implementasi suatu pelatihan. Tim serupa juga terdapat pada perusahaan konsultan desain instruksional, perusahaan pelatihan dan pengembagan SDM, dan banyak universitas. Fungsi yang terwakili dalam tim meliputi manajer, desainer instruksional, subject-matter expert, penyusun materi, dan evaluator. Namun pada perusahaan yang lebih kecil, seorang desainer memiliki tanggung jawab dan peran yang leih banyak. Pada perusahaan ID (Instructional Design), lazimnya manajer adalah desainer instruksional yang sudah senior, untuk desainer instruksional dan penyusun materi adalah desainer yang telah berpengalaman mengerjakan format dengan beragam media. Yang sangat disukai adalah seseorang dengan kemampuan sebagai desainer instrusional sekaligus penyusun materi, terutama pengembangan materi computer-based dan web-based. Hal ini dikarenakan penyusunan materi dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Jika desainer bukanlah penyusun materi ataupun instruktur, maka dibutuhkan ketrampilan berkomunikasi dan berkolaborasi dalam tim. Akan menjadi kolaborasi yang unik jika seluruh komponen tim melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Juga diperlukan pemahaman akan karakter pembelajar agar dapat menyusun materi yang sesuai dengan karakter pembelajar. Jika memungkinkan, desainer melakukan observasi pada sampel pembelajar melalui kunjungan dan analisa konteks agar diperoleh gambaran kondisi pembelajar yang akan menggunakan materi yang akan disusun. Langkah ini memang penting, misalnya mengobservasi anak sekolah, calon militer, pembelajar dewasa, peserta pelatihan PIM, atau calon pengguna materi yang disusun lainnya. Jika desainer tidak melakukan observasi dan analisa konteks, maka kunjungan informal harus dilakukan. Hal ini perlu agar desainer bisa menentukan batasan isi materi, grafis user interface, atau tipe role model. Meskipun mustahil untuk mengdindikasikan seluruh karakteristik populasi pembelajar yang penting bagi desain materi baru, desainer instruksional harus mampu memahami populasi yang menjadi target.

Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menyusun materi instruksional adalah sebagai berikut:

Pemilihan Sistem Penyampaian dan Media

Pada proses ini, sistem penyampaian ditentukan dan strategi instruksional telah disusun, termasuk pengelompokan dan pengurutan, komponen pembelajaran, pengelompokan siswa, dan pemilihan media sementara. Tiga faktor yang sering menyebabkan kompromi dalam pemilihan media dan sistem penyampaian adalah:

  1. Keberadaan materi instruksional saat ini

Terkadang materi yang ada saat ini merupakan alternatif yang menarik dalam proses pengembangan dan produksi. Materi yang ada dapat digantikan dengan materi yang dirancang dalam rentang skala dari urutan motivasi tunggal dalam satu pelajaran sampai dengan keseluruhan course atau kurikulum. Jika distribusi dan duplikasi hak cipta tidak dirang, maka buku-buku dan VHS tape atau DVD dapat dibagikan kepada siswa melalui email sehingga dapat menghemat waktu dan biaya penyusunan  web-based instruction. Jika tidak, maka alternatifnya adalah meminta ijin hak cipta untuk dapat diunggah pada distribusi web.

  1. Keterbatasan produksi dan implementasi

Format media dan sistem penyampaian memang mahal. Pemutusan kegiatan produksi untuk penghematan dana terkadang dilakukan tanpa berakibat pada kegiatan belajar siswa namun berakibat pada relevansi perhatian dan persepsi. Desainer baru yang belum pernah bekerja dengan media yang kompleks sering underestimate dengan dana untuk membayar produksi komersial. Sama halnya mereka underestimate dengan para ahli, infrastruktur, dan waktu yang diperlukan untuk in-house production. Terkadang setelah proses produksi berakhir, biaya untuk penggandaan, distribusi, dan perawatan dapat menjadi biaya yang tidak terduga.

  1. Jumlah fasilitas yang akan digunakan instruktur saat pembelajaran

Langkah pertama dalam mengadopsi teknologi baru seringkali terperangkap pada fitur teknologi yang lama, sehingga, seperti halnya kita memulai menggunakan televisi, software komputer, atau web-based instruction, kita mencoba mereplikasi fitur pengalaman kelas untuk siswa kita. Fasilitas instruktur adalah fitur tertentu dari classroom instruction yang memiliki implikasi kepada bagaimana kita menyusun materi instruksional, baik kepada face-to-face learning maupun pada distance learning. Pada distance learning, fasilitas instruktur adalah titik dimana filosofi distance learning terkadang berbeda antara program akademik dengan pelatihan teknis dan profesional, misalnya model Universitas Terbuka.

Ada beberapa implikasi dalam pengembangan sistem penyampaian materi distance learning, antara lain:

  1. Komponen Paket Instruksional

Beberapa komponen yang terdapat pada paket instruksional, baik materi yang berbentuk cetak atau mediated, antara lain:

  1. Materi Instruksional

Materi instruksional terdiri dari konten –baik tertulis, mediated, atau facilitated by instructor- yang digunakan siswa untuk mencapai tujuan instruksional. Dalam hal ini termasuk materi untuk tujuan utama, tujuan antara (terminal objective), dan materi untuk meningkatkan ingatan dan transfer. Materi instrusional mengacu kepada materi sebelumnya yang digabungkan dan juga materi yang disusun untuk mencapai tujuan. Di dalam materi memuat informasi yang akan memandu siswa di dalam menggunakan materi tersebut. Bagian lain yang termasuk di dalam materi instruksional adalah buku kerja siswa, petunjuk kegiatan, skenario masalah, simulasi komputer, studi kasus, daftar sumber, dan materi lain yang diperlukan.

  1. Penilaian

Seluruh materi instruksional harus dilengkapi dengan tes obyektif, penilaian produk, atau penilaian performa. Termasuk pretes dan postes.

  1. Informasi Pengelolaan Mata Kuliah

Pada umumnya disebut Instructor’s Manual yang berisi gambaran materi dan menunjukkan apakah paket ini digabungkan dengan keseluruhan rangkaian pembelajaran bagi siswa. Dalam manual ini termasuk tes dan informasi lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran. Yang harus diperhatikan adalah manual ini harus mudah dipahami oleh instruktur dan menjalani evaluasi formatif baik tes maupun materinya.

  1. Materi Instruksional Yang Ada Saat Ini

Dalam beberapa area isi, kita akan menemukan banyak materi yang tersedia, baik yang dangkal maupun yang detil, yang tidak berhubungan secara langsung dengan populasi yang dituju. Di sisi lain juga terdapat materi yang sebagian sesuai dengan materi yang kita rancang. Jika kita mempertimbangkan biaya penyusunan bahan presentasi menggunakan video atau multimedia, maka sangat berguna untuk meluangkan waktu beberapa jam mempelajari materi yang ada saat ini untuk mengetahui bilamana dapat digunakan untuk materi yang kita rancang.

Untuk membantu perancangan evaluasi materi, ada lima kriteria penilaian untuk mengevaluasi materi yang ada saat ini, yaitu:

  1. Goal-Centered Criteria
  2. Learner-Centered Criteria
  3. Learning-Centered Criteria
  4. Context-Centered Criteria
  5. Technical Criteria
  6. Materi Instruksional dan Evaluasi Formatif
  7. Rough Draft Material

Tujuan kegiatan ini adalah untuk menciptakan versi low-cost yang cepat dari desain kita sebelum akhir produksi dan masuk pada evaluasi formatif serta mencobanya bersama subject matter expert, beberapa pembelajar, atau kelompok pembelajar.

  1. Rapid Prototyping

Desainer membuat prototipe dari desainnya dikarenakan teknologi dan keperluan pelatihan berubah sangat cepat, terutama bila menggunakan basis web dan komputer.

  1. Material Development Tools & Resources

Menggunakan literatur yang tersedia di toko komputer, toko buku, dan web-based vendors. Selain itu menggunakan web-based itu sendiri.

2. Contoh

3. Proses Penyusunan Materi

  • Menyusun self-paced material lebih menguntungkan daripada instruction yang dipresentasikan oleh instruktur.
  • Materi yang disusun diberi ilustrasi dengan format text atau format media yang sederhana.

Langkah-Langkah dalam Penyusunan Instruction

  • Review strategi instruksional untuk setiap tujuan pembelajaran.
  • Review analisis mengenai konteks pembelajaran dan asumsi mengenai ketersediaan sumber yang akan dijadikan materi instruksional.
  • Putuskan komponen apa saja yang terdapat dalam paket materi instruksional.
  • Survei literatur dan bertanya pada SME untuk menetapkan materi instruksional yang saat ini telah ada.
  • Mempertimbangkan bagaimana mengadopsi atau menyesuaikan materi yang sudah ada.
  • Menetapkan apakah materi baru akan digunakan atau tidak.
  • Review analisis pembelajar dan peran instruktur dalam memfasilitasi pembelajaran.
  • Rencanakan dan tulis materi instruksional berdasarkan startegi instruksional dalam formulir rough draft.
  • Review setiap pembelajaran yang sudah berakhir atau sesi pembelajaran untuk kejelasan dan rangkaian ide.
  • Gunakan satu unit instruksional yang lengkap, tulis instruksi yang menyertainya untuk memandu siswa melakukan kegiatannya.
  • Gunakan materi yang disusun pada rough draft yang tidak mahal, memulai kegiatan evaluasi.
  • Susun manual untuk instruktur.

MERANCANGDANMELAKUKANEVALUASIFORMATIF

Konsep

Evaluasi formatif adalah proses perancangan untuk memperoleh data yang dapat digunakan untuk meninjau kembali desain pembelajaran agar lebih efisien dan efektif. Penekanan dalam evaluasi formatif adalah pada pengumpulan dan analisis dan revisi dari desain. Dick and Carey (2005) merumuskan tiga fase dasar evaluasi formatif. Pertama adalah evaluasi perorangan, evaluasi kelompok kecil, dan uji lapangan.

  1. One to One Evaluation (Evaluasi Perorangan), dalam tahap ini penyusunan bekerja dengan murid secara individu untuk memperoleh data untuk merevisi materi pengajaran.
  1. A Small Group Evaluation (Evaluasi Kelompok Kecil), kelompok yang terdiri dari delapan sampai dua puluh siswa yang mewakili dari populasi target yang mempelajari bahan pengajaran.
  2. A Field Trial (Uji Lapangan), tahap ini menekankan pada pengujian dari prosedur yang dibutuhkan untuk penerapan dari bahan pengajaran dalam situasi nyata.

Tiga tahap tersebut di dahului dengan mengkaji kembali bahan pengajaran yang secara khusus menarik yang secara tidak langsung termasuk dalam proses pengembangan bahan pengajaran.

Merancang Evaluasi Formatif

Kerangka acuan apa yang dapat digunakan untuk merancang evaluasi formatif? Dengan mengingat bahwa tujuan evaluasi formatif adalah untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan tertentu dalam bahan-bahan untuk mengoreksi mereka, termasuk desain evaluasi instrumen, prosedur, dan kebutuhan personil untuk menghasilkan informasi tentang lokasi dan alasan untuk setiap masalah.

Dick and Carey (2005:280) menyebutkan bahwa ada lima bidang pertanyaan yang digunakan untuk mengevaluasi bahan.

  1. Apakah materi-materi tersebut sesuai untuk tipe hasil belajar? Resep khusus yang brkaitan dengan pengembangan materi dibuat dengan berdasarkan pada apakah tujuannya adalah untuk kemampuan motorik atau kemampuan intelektualitas, kemampuan bersikap atau untuk mendapatkan informasi verbal. Anda harus memperhatikan mengenai apakah materi yang anda hasilkan betul-betul kongruen/sama dengan anjuran pembelajaran untuk masing-masing tipe kemampuan. Tidak diragukan lagi evaluator/penilai yang baik untuk aspek materi ini menjadi seorang dalam kaitannya dengan tipe pembelajaran.
  2. Apakah materi-materi tersebut sudah cukup melibatkan instruksi bagi yang berkemampuan lebih rendah dan apakah secara logika kemampuan-kemampuan ini sudah berurutan dan dikelompokan? Penilai yang terbaik untuk bidang pertanyaan ini akan menjadi ahli dalam bidang isi.
  3. Apakah materi-materi tersebut sudah jelas dan dapat dipahami dengan baik oleh wakil anggota kelompok target? Sesungguhnya hanya anggota kelompok targetlah yang dapat menjawab pertanyaan ini. Instruktur yang mengenal baik target para pelajar ini dapat membantu anda memberikan informasi awal namun pada akhirnya hanya pelajar yang dapat menilai kejelasan materi-materi ini.
  4. Apa yang menjadi nilai motivasi dari materi-materi ini? Apakah yang para pelajar temukan dari materi tersebut sudah relevan dengan minat dan kebutuhan mereka? Apakah mereka memiliki keyakinan ketika membahas materi-materi ini? Apakah mereka merasa puas dengan apa yang mereka pelajari? Dan juga, apakah penilaiannya sesuai dengan aspek-aspek materi yang mewakili anggota kelompok target.
  5. Apakah materi-materi ini dapat dikembangkan dengan cara yang efisien untuk memediasi mereka? Dua target yaitu para pelajar dan para instruktur akan sesuai dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Dalam merancang instrumen yang berguna untuk mengumpulkan informasi dari para pelajar, melalui tahap (misalnya, one-to-one/satu-lawan-satu, small group/kelompok kecil dan field trial/percobaan lapangan, penataan (dalam konteks pembelajaran atau kinerja) dan bentuk informasi yang ingin dikumpulkan. Dalam evaluasi satu-lawan-satu, materi instrumen disusun oleh mereka sendiri. Para pelajar melingkari kata-kata atau kalimat dan menuliskan komentar mereka di dalam materi-materi tersebut. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam titik perpotongan blok acuan tersebut akan membantu dalam mengembangkan instrumen-instrumen lainnya, seperti daftar penilaian yang berguna untuk memandu observasi dan pertanyaan-pertanyaan mencakup wawancara dan tanya jawab. Instrumen-instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dari para partisipan haruslah efisien. Jenis data yang dkumpulkan meliputi berikut ini :

  • Menilai data yang terkumpul pada entri penilaian perilaku, pre-tes dan konteks kinerja.
  • Komentar-komentar atau catatan-catatan yang dibuat oleh para pelajar untuk anda atau penilaian-penilaian terhadap materi-materi instruksi menyangkut kesulitan-kesulitan yang mereka ditemui di poin-point materi tertentu.
  • Data yang terkumpul berdasarkan tanya jawab tentang sikap dan atau komentar-komentar wawancara yang diungkapkan oleh para pelajar yang berkaitan dengan seluruh reaksi mereka terhadap instruksi tersebut dan persepsi mereka dimana kesulitan-kesulitan mereka yang bersandar pada materi-materi dan prosedur-prosedur instruksi secara umum.
  • Waktu yang diperlukan para pelajar untuk menyelesaikan berbagai komponen instruksi.
  • Reaksi dari ahli terhadap masalah pokok. Merupakan tanggung jawab dari orang inilah untuk memverifikasi bahwa kandungan/isi modul adalah akurat dan mutakhir.
  • Reaksi dari manajer dan supervisor yang mengamati pelajar yang menggunakan kemampuannya dalam konteks kinerja.

Peranan Tenaga Ahli dalam Evaluasi Formatif

Selain adanya data evaluasi dari pembelajar perlu juga melihat analisi dari seorang ahli. Ketika draf desain selesai terkadang desain tidak bisa melihat permasalahan yang ada. Resensi atau pendapat dari tenaga ahli perlu dipertimbangkan untuk perbaikan dan perubahan pada draf pertama desain. Terutama dalam strategi belajar, tipe belajar dan ketetapatan bahan yang akan digunakan dalam desain pembelajaran.

Desainer ini tidak diwajibkan menggunakan usulan dari para ahli. Ada beberapa rekomendasi yang mana desainer mau menggunakannya, yaitu setelah data dari para pelajar terkumpul dan diringkas. Setidaknya desainer akan menjadi lebih peka terhadap potensi permasalahan sebelum para pelajar tersebut terlibat dalam proses evaluasi formatif.

Evaluasi Perorangan

Tujuan evaluasi formatif perorangan adalah untuk mengidentifikasi dan menghapus kesalahan yang mencolok dalam pengajaran serta untuk mendapatkan indikasi awal dan reaksi para pelajar terhadap isi. Hal ini dapat terjadi melalui interaksi langsung antara para desainer dengan pelajar. Evaluasi ini melibatkan 3 atau lebih peserta didik yang berinteraksi langsung dengan desainer. Ada tiga kriteria utama menurut Dick and Carey (2005) dalam evaluasi perorangan ini, yaitu kejelasan, dampak dan kelayakan.

  1. Kejelasan : apakah pesan, atau apapun yang dipresentasikan, jelas bagi setiap pelajar ?
  1. Dampak: Dampak apa yang terjadi dari instruksi terhadap sikap setiap pelajar dan pencapaian apa yang diperoleh dari tujuan dan sasarannya ?
  2. Kelayakan: Seberapa layaknya instruksi yang diberikan tersebut sesuai dengan sumber daya (waktu/konteks) ?

Ada beberapa pertimbangan dalam melakukan evaluasi perorangan yaitu :

  1. Memilih Pelajar

Penentuan pelajar yang dilibatkan dalam evaluasi perorangan harus mewakili populasi target. Desainer memilih beberapa pelajar saja tetapi mewakili target populasi. Mereka menjadi wakil dengan cakupan kemampuan karena biasanya keutamaan dari kemampuan dan ilmu pengetahuan merupakan salah satu penentu utama untuk menerima informasi dan keterampilan. Oleh karena itu, para desainer ini memilih setidaknya satu pelajar dari target populasi yang memiliki kemampuan di atas rata-rata (tetapi tentunya bukan pelajar yang terpandai), setidaknya satu pelajar yang memiliki kemampuan rata-rata dan satu pelajar yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata. Desainer kemudian bekerja berdasarkan basis perseorangan untuk setiap pelajar. Setelah evaluasi awal dengan tiga pelajar, desainer mungkin ingin memilih lebih banyak pelajar lagi dari target populasi untuk melakukan pekerjaan mode satu-lawan-satu meskipun tiga biasanya sudah cukup.

2. Pengumpulan Data

Keputusan yang dibuat selama percobaan satu-lawan-satu membantu para evaluator atau penilai untuk fokus kepada bermacam-macam informasi yang berguna. Ada tiga kategori utama tentang kejelasan suatu informasi, yaitu pesan, kaitan, dan prosedur.

Kategori yang pertama, pesan, berhubungan dengan seberapa jelas pesan dasar tersebut bagi pelajar. Perhatian yang berkaitan dengan pesan dasar meliputi : kosa kata, kompleksitas kalimat dan struktur pesan. Tidak peduli apakah pelajar membaca, mendengar, atau melihat pesan itu, mereka (laki-laki atau perempuan) harus mampu mengikutinya. Kategori yang kedua, kaitan, mengacu pada bagaimana pesan dasar dikhususkan untuk pelajar. Kaitan ini meliputi konteks, contoh, analogi, ilustrasi, demonstrasi, dan sebagainya. Apabila kaitan ini merupakan hal yang asing bagi pelajar maka pesan dasar tersebut niscaya akan menjadi lebih kompleks. Bidang yang ketiga, prosedur, mengacu pada karakteristik instruksi seperti urutan, luasan segmen yang dipresentasikan, transisi antar segmen, kecepatan berpindah, dan variasi-vaariasi yang dimasukkan ke dalam presentasi. Kejelasan instruksi dapat diubah apabila masing-masing elemen ini tidak sesuai lagi untuk para pelajar.

3.  Prosedur

Prosedur yang khas dalam evaluasi perorangan adalah untuk menjelaskan kepada para pelajar tentang bahan pembelajaran. Reaksi pembelajar terhadap materi, mengetahui kekurangan materi, mengerjakan soal-soal, mencatat waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan materi. Pebelaajar akan menemukan kesalahan ketik, kelalaian konten, halaman yang hilang, grafik yang berlabel tidak tepat, tidak sesuai link di halaman web mereka, dan jenis lainnya. Kesulitan memahami urutan belajar, konsep belajar, dan soal-soal yang diberikan.

4. Penilaian dan Kuesioner

Setelah siswa telah menyelesaikan instruksi dalam evaluasi perorangan, mereka mengerjakan post test dan kuesioner sikap dengan cara yang sama. Setelah masing-masing item atau langkah penilaian dilakukan, mintalah kepada pelajar untuk menjelaskan mengapa mereka melakukan suatu respon tertentu. Desainer akan menemukan tidak hanya kesalahan, tetapi juga kenapa terjadi kesalahan. Informasi ini sangat membantu selama proses revisi. Proses untuk mengevaluasi kinerja, produk, dan sikap dan pada akhirnya untuk merevisi pembelajaran termasuk butir-butir soal yang ada.

Petunjuk dan instrumen tes yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja, produk dan sikap harus juga dievaluasi secara formatif sebelum betul-betul dapat digunakan untuk mengevaluasi penilaian. Sama halnya dengan tes pensil dan kertas, anda harus memastikan bahwa petunjuknya sudah jelas bagi pelajar dan pelajar dapat mengikuti instruksi tersebut untuk menghasilkan kinerja/capaian dan hasil yang diharapkan. Kegunaan dari instrumen evaluasib juga dievaluasi. Kriteria khusus dalam mengevaluasi elemen-elemen yang digunakan dalam instrumen tersebut adalah sebagai berikut : (1) Observasi terhadap masing-masing elemen yang akan dinilai (2) Kejelasan dari bagaimana cara mereka menafsirkannya, dan (3) efisiensi instruksi secara berurutan.

5. Waktu Pembelajaran

Salah satu kepentingan desainer selama evaluasi perorangan adalah untuk menentukan jumlah waktu yang diperlukan bagi pelajar untuk menyelesaikan instruksi. Waktu dapat dikurangi persentasenya dari total waktu jika pengalaman menunjukkan bahwa melakukan hal seperti itu sangatlah tidak tepat.

6.  Interpretasi Data

Interprestasi Data adalah informasi tentang kejelasan instruksi, yang berdampak kepada pelajar, dan kelayakan instruksi harus diringkas dan terpusat. Aspek khusus dari instruksi yang telah melemah dapat dikembangkan selanjutnya untuk merencanakan revisi serupa yang akan memperbaiki instruksi tersebut bagi pelajar.

7.  Hasil

Hasil dari evaluasi satu-ke-satu adalah instruksi yang berisi (1) berisi kosa kata yang sesuai, kompleksitas bahasa, contoh, dan ilustrasi untuk peserta didik; (2) hasil lain yang logis mengenai sikap dan prestasi pelajar, atau direvisi dengan tujuan meningkatkan pelajar sikap atau kinerja selama percobaan berikutnya, dan (3) layak digunakan dengan pembelajar, sumber daya, dan pengaturan yang ada. Instruksi lebih lanjut dapat disempurnakan dengan menggunakan kelompok kecil cobaan.

Evaluasi Kelompok Kecil

Ada dua tujuan dalam evaluasi kelompok kecil. Pertama effektivitas perubahan dan Identifikasi masalah yang masih tersisa setelah evaluasi perorangan. Kedua untuk menentukan apakah pelajar dapat menggunakan instruksi tanpa berinteraksi dengan instruktur. (Pada titik ini dalam diskusi kita, kita terus menganggap bahwa perancang merancang beberapa bentuk bahan pengajaran diri.)

  1. Kriteria dan Data

Langkah efektif untuk mengevaluasi pembelajaran dan kinerjanya dengan melihat skor pretest dan posttest. Informasi yang dikumpulkan mengenai kelayakan dari instruksi biasanya meliputi:

  • waktu yang dibutuhkan bagi pelajar untuk menyelesaikan baik instruksi dan tolok ukur kinerja yang dibutuhkan;
  • biaya dan kelangsungan hidup menyampaikan instruksi dalam format dimaksudkan dan lingkungan; dan
  • sikap mereka yang melaksanakan atau mengelola instruksi.
    1. Memilih Pelajar

Evaluasi untuk kelompok kecil terdiri dari 8 – 20 orang pembelajar. Dimungkin untuk memilih secara acak dai populasi target. Apabila tidak dapat memilih para pelajar secara acak atau apabila kelompok yang kamu miliki relatif kecil, maka anda harus memastikan bahwa anda telah memasukkan sampel setidaknya satu wakil di setiap tipe sub-grup yang ada di dalam polpulasi anda. Contoh dari sub-grup dapat meliputi seperti yang berikut ini :

  • Pelajar yang berprestasi rendah, rata-rata, dan tinggi.
  • Pelajar dengan berbagai bahasa pribumi
  • Pelajar yang terbiasa dengan prosedur tertentu ( instruksi yang berdasarkan pada web), dan pelajar tidak terbiasa.
  • Pelajar kurang pengalaman atau lebih muda dan juga pelajar yang lebih dewasa.
  1. Prosedur

Prosedur-prosedur dasar yang digunakan dalam sebuah evaluasi kelompok kecil sangatlah berbeda dengan yang digunakan dalam evaluasi satu-lawan-satu. Evaluator atau penilai mulai menjelaskan materi-materi di dalam tahap pengembangan formatif dan hal ini perlu untuk mendapatkan umpan balik tentang bagaimana memperbaikinya. Di dalam proses ini keterlibatan instruktur haruslah sekecil mungkin. Hanya dalam kasus-kasus tertentu apabila pelajar mengalami kemandekan dalam proses belajarnya dan tidak dapat melanjutkannya, barulah instruktur ini terlibat. Setiap kesulitan yang dialami pelajar dan solusinya haruslah dicatat sebagai bagian dari revisi data.

  1. Penilaian dan Kuesioner

Langkah-langkah tambahan di dalam evaluasi kelompok kecil adalah masalah bagaimana mengadministrasi sebuah daftar pertanyaan yang berkaitan dengan sikap dan jika memungkinkan dilakukan wawancara dengan lebih mendalam dengan beberapa pelajar di dalam kelompok itu. Tujuan utamanya untuk mengidentifikasi reaksi pelajar terhadap instruksi tersebut, dari persepsi mereka, kelemahan dan kekuatan di dalam penerapan startegi instruksi. Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan tersebut haruslah mencerminkan berbagai komponen startegi. Berikut ini beberapa pertanyaan yang sesuai yaitu :

  • Apakah instruksi ini menarik?
  • Apakah kamu memahami apa yang disebut belajar?
  • Apakah mater-materi ini langsung berhubungan dengan tujuan/sasaran?
  • Apakah latihan praktek sudah cukup digunakan?
  • Apakah latihan praktek tersebut relevan?
  • Apakah tes-tes ini betul-betul dapat mengukur pengetahuan tentang tujuan/sasaran?
  • Apakah anda cukup menerima umpan balik dari latihan praktekmu?
  • Apakah kamu merasa nyaman ketika menjawab pertanyaan tes-tes itu?
  1. Ringkasan Data dan Analisa

Informasi deskriptif dan informasi kuantitatif yang terkumpul selama masa percobaan diringkas dan dianalisa. Data kuatitatif berisikan masalah skor tes dan juga waktu yang dibutuhkan dan juga proyeksi biaya. Informasi deskriptif berisikan tentang komentar-komentar yang dikumpulkan dari daftar pertanyaan yang berkaitan dengan sikap, wawancara atau catatan evaluator/penilai yang ditulis selama masa percobaan.

  1. Hasil

Tujuan dari percobaan kelompok kecil dan revisi instruksi adalah bentuk instruksi yang baik yang efektif dengan target pelajar dalam suatu aturan yang diharapkan. Perbaikan yang dibutuhkan dalam instruksi dapat berupa hal yang simpel-simpel saja, seperti merubah contoh-contoh dan kosa kata di dalam item tes atau menambah alokasi waktu belajar.

  1. Percobaan Lapangan

Pada tahap terakhir evaluasi formatif instruktur mencoba menggunakan konteks instruksi yang sudah seperti yang diharapkan untuk penggunaan terakhir dari materi instruksi. Salah satu tujuan dari tahap terakhir evaluasi formatif ini adalah menentukan apakah perubahan-perubahan di dalam instruksi tersebut harus dibuat setelah tahap kelompok kecil tersebut menjadi efektif. Tujuan lainnya adalah untuk melihat apakah instruksi dapat digunakan pada konteks seperti yang diinginkan, yaitu apakah mungkin secara administratif menggunakan instruksi tersebut seperti yang diinginkan.

  1. Lokasi Evaluasi

Dalam menentukan lokasi untuk evaluasi lapangan, memerlukan salah satu dari dua situasi ini. Pertama, jika material dicoba di kelas yang sedang menggunakan large-group/kelompok besar, maka menggunakan materi instruksi itu sendiri mungkin merupakan pengalaman yang baru dan berbeda. Yang kedua, materi-materi tersebut dicoba di kelas secara individu, maka itu akan sangat sulit menemukan kelompok pelajar yang cukup besar yang siap dengan materi instruksi anda karena para pelajar akan tersebar-sebar dalam meteri-materi yang sedang mereka pelajari.

  1. Kriteria dan Data

Tujuan utama dari percobaan lapangan ini adalah melokasikan dan menghilangkan permasalahan yang tersisa di dalam instruksi tersebut. Ada banyak kesamaan antara percobaan kelompok kecil dengan percobaan lapangan. Keputusan-keputusan yang dibuat selama kedua tipe percobaan itu apakah pencapaian pelajar sudah mencukupi dan penyampaian instruksi dapat diterima dengan mudah.

  1. Memilih Pelajar

Desainer memilih dan mengidentifikasi sebuah kelompok yang terdiri dari sekitar tiga puluh orang yang ikut berpartisipasi dalam percobaan lapangan. Kelompok tersebut harus diseleksi untuk memastikan apakah mereka telah mewakili target populasi. Karena sebuah tipikal kelompok/grup terkadang sulit dilokasikan. Desainer seringkali memilih beberapa kelompok yang berbeda-beda untuk ikut berpartisipasi di dalam percobaan lapangannya. Hal ini berguna untuk memastikan bahwa data yang terkumpul sesuai dengan yang diharapkan seperti, sebuah ruang kelas yang terbuka, instruksi tradisional dan atau masalah tentang seberapa jauh pusat belajar tersebut.

  1. Prosedur Melakukan Percobaan Lapangan

Prosedur uji lapangan hampir sama dengan kelompok kecil. Perbedaan pada peran desain yang harus dikurangi atau dihilangkan diganti dengan peran guru, oleh karenanya guru harus dilatih dulu. Mungkin setelah evaluasi kelompok kecil pretest dan posttest diubah atau dikurangi hanya menilai entry paling penting. Kuesioner difokuskan pada faktor-faktor lingkungan yang mungkin mengganggu pembelajaran.

  1. Ringkasan Data dan Interpretasi

Ringkasan data dan prosedur analisis adalah sama untuk percobaan kelompok kecil dan percobaan lapangan. Data yang didapat haruslah terorganisir dengan tujuan instruksi, dan informasi tentang sikap dari keduanya yaitu para pelajar dan para instruktur juga haruslah berkaitan dengan tujuan spesifik tersebut apabila memungkinkan. Meringkas data di dalam format ini akan membantu melokasikan area tertentu dimana instruksi menjadi efektif atau menjadi tidak efektif. Informasi yang berasal dari percobaan lapangan ini digunakan untuk merencanakan dan membuat revisi instruksi terakhir.

Tujuan dari percobaan lapangan dan revisi terakhir ini adalah merupakan sebuah instruksi yang efektif yang menghasilkan level prestasi dan sikap pelajar seperti yang diharapkan dalam pengaturan instruksi. Menggunakan data tentang area permasalahan yang terkumpul selama percobaan lapangan haruslah sesuai dengan revisi yang dibuat di dalam instruksi. Dengan selesainya revisi, kita dapat memulai evaluasi formatif dalam format kinerja/pencapaian.

  1. Kesimpulan
  2. Evaluasi formatif adalah proses perancangan untuk memperoleh data yang dapat digunakan untuk meninjau kembali desain pembelajaran agar lebih efisien dan efektif. Ada tiga fase dasar evaluasi formatif. Pertama adalah evaluasi perorangan, evaluasi kelompok kecil, dan uji lapangan.
  • One to One Evaluation (Evaluasi Perorangan), dalam tahap ini penyusunan bekerja dengan murid secara individu untuk memperoleh data untuk merevisi materi pengajaran.
  • A Small Group Evaluation (Evaluasi Kelompok Kecil), kelompok yang terdiri dari delapan sampai dua puluh siswa yang mewakili dari populasi target yang mempelajari bahan pengajaran.
  • A Field Trial (Uji Lapangan), tahap ini menekankan pada pengujian dari prosedur yang dibutuhkan untuk penerapan dari bahan pengajaran dalam situasi nyata.
  1. Ada lima bidang pertanyaan yang digunakan untuk mengevaluasi bahan.
  • Apakah materi-materi tersebut sesuai untuk tipe hasil belajar? Resep khusus yang brkaitan dengan pengembangan materi dibuat dengan berdasarkan pada apakah tujuannya adalah untuk kemampuan motorik atau kemampuan intelektualitas, kemampuan bersikap atau untuk mendapatkan informasi verbal. Anda harus memperhatikan mengenai apakah materi yang anda hasilkan betul-betul kongruen/sama dengan anjuran pembelajaran untuk masing-masing tipe kemampuan. Tidak diragukan lagi evaluator/penilai yang baik untuk aspek materi ini menjadi seorang dalam kaitannya dengan tipe pembelajaran.
  • Apakah materi-materi tersebut sudah cukup melibatkan instruksi bagi yang berkemampuan lebih rendah dan apakah secara logika kemampuan-kemampuan ini sudah berurutan dan dikelompokan? Penilai yang terbaik untuk bidang pertanyaan ini akan menjadi ahli dalam bidang isi.
  • Apakah materi-materi tersebut sudah jelas dan dapat dipahami dengan baik oleh wakil anggota kelompok target? Sesungguhnya hanya anggota kelompok targetlah yang dapat menjawab pertanyaan ini. Instruktur yang mengenal baik target para pelajar ini dapat membantu anda memberikan informasi awal namun pada akhirnya hanya pelajar yang dapat menilai kejelasan materi-materi ini.
  • Apa yang menjadi nilai motivasi dari materi-materi ini? Apakah yang para pelajar temukan dari materi tersebut sudah relevan dengan minat dan kebutuhan mereka? Apakah mereka memiliki keyakinan ketika membahas materi-materi ini? Apakah mereka merasa puas dengan apa yang mereka pelajari? Dan juga, apakah penilaiannya sesuai dengan aspek-aspek materi yang mewakili anggota kelompok target.
  • Apakah materi-materi ini dapat dikembangkan dengan cara yang efisien untuk memediasi mereka? Dua target yaitu para pelajar dan para instruktur akan sesuai dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.
  1. Selain adanya data evaluasi dari pembelajar perlu juga melihat analisi dari seorang ahli. Ketika draf desain selesai terkadang desain tidak bisa melihat permasalahan yang ada. Resensi atau pendapat dari tenaga ahli perlu dipertimbangkan untuk perbaikan dan perubahan pada draf pertama desain. Terutama dalam strategi belajar, tipe belajar dan ketetapatan bahan yang akan digunakan dalam desain pembelajaran.
  2. Tujuan evaluasi formatif perorangan adalah untuk mengidentifikasi dan menghapus kesalahan yang mencolok dalam pengajaran serta untuk mendapatkan indikasi awal dan reaksi para pelajar terhadap isi. Hal ini dapat terjadi melalui interaksi langsung antara para desainer dengan pelajar. Evaluasi ini melibatkan 3 atau lebih peserta didik yang berinteraksi langsung dengan desainer.
  3. Ada dua tujuan dalam evaluasi kelompok kecil. Pertama effektivitas perubahan dan Identifikasi masalah yang masih tersisa setelah evaluasi perorangan. Kedua untuk menentukan apakah pelajar dapat menggunakan instruksi tanpa berinteraksi dengan instruktur.
  4. Pada tahap terakhir evaluasi formatif instruktur mencoba menggunakan konteks istruksi yang sudah seperti yang diharapkan untuk penggunaan terakhir dari materi instruksi. Salah satu tujuan dari tahap terakhir evaluasi formatif ini adalah menentukan apakah perubahan-perubahan di dalam instruksi tersebut harus dibuat setelah tahap kelompok kecil tersebut menjadi efektif.

MEREVISI BAHAN PEMBELAJARAN

Pada hampir semua model desain instruksional, akan ditemukan penekanan utama pada konsep evaluasi formatif, yaitu pada pengumpulan data untuk mengidentifikasi masalah dan merevisi bahan pengajaran artinya langkah akhir dari proses desain dan pengembangan dalam melakukan revisi terhadap draf program pembelajaran. Data yang diperoleh dari prosedur evaluasi formatif dirangkum dan ditafsirkan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh program pebelajaran. Evaluasi formatif tidak hanya pada draf program pembelajaran saja, tetapi juga terhadap aspek desain sistem pembelajaran yang digunakan dalam program seperti analisis instruksinal, entry behavior dan karakteristik siswa. Prosedur evaluasi formatif, dengan kata lain, perlu dilakukan pada semua aspek program pembelajaran dengan tujuan untuk merevisi dan memperbaiki serta meningkatkan kualitas program tersebut agar lebih efektif.

Ada dua jenis dasar revisi yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan material pembelajaran, yaitu pertama perubahan yang dibuat dengan isi atau substansi bahan untuk membuat mereka lebih akurat atau lebih efektif sebagai sarana belajar, dan kedua perubahan berkaitan dengan prosedur yang digunakan dalam menggunakan bahan.

Ada banyak cara yang berbeda di mana data yang dikumpulkan dalam suatu evaluasi formatif dapat dirangkum untuk menunjukkan daerah kesulitan belajar dan kemungkinan revisi. Metode-metode yang kita gambarkan di sini adalah hanya saran. Ketika memulai suatu pekerjaan dengan data sendiri mungkin ditemukan teknik lain yang akan membantu dalam memperoleh lebih banyak wawasan dari orang lain.  Kita akan melihat dulu apa yang dapat Anda lakukan dengan data dan informasi dari evaluasi formatif satu-ke-satu, dan kemudian mempertimbangkan kelompok kecil dan fase uji-lapangan.

Menganalisis Data Dari Uji Coba Satu-satu

Dari uji satu-satu masih dirasakan sangat sedikit data yang diperoleh, karena informasi yang biasanya tersedia hanya dari tiga sampai lima pelajar. Karena pelajar ini dipilih berdasarkan keragaman, informasi yang mereka berikan, dalam bentuk berbagai kemungkinan, akan sangat berbeda, bukan menyatu dengan beberapa jenis kelompok rata-rata. Perancang memiliki lima jenis informasi dasar yang tersedia yaitu :

  1. Perilaku masukan dan karakteristik pembelajar,
  2. Tanggapan langsung terhadap instruksi,
  3. waktu belajar,
  4. posttest kinerja, dan
  5. Tanggapan terhadap sikap kuesioner.

Langkah pertama adalah untuk menggambarkan para pembelajar yang berpartisipasi dalam uji satu-satu dan untuk menunjukkan kinerja mereka pada setiap entri-perilaku tindakan. Selanjutnya, perancang harus membawa bersama semua komentar dan saran tentang pembelajaran. Hal ini juga memungkinkan untuk menyertakan komentar dari ahli materi, dan setiap alternatif pendekatan pembelajaran yang digunakan dengan pelajar selama uji satu-satu.

Ada dua cara untuk menganalisis data dan merevisi produk instruksional berdasarkan one to one, yaitu :

  • Oleh para pakar
  1. Menginterpretasikan hasil wawancara
  2. Menginformasi interprestasi peneliti kepada setiap pakar untuk menjamin kebenaran dan keakuratan interpretasi tersebut.
  3. Menyimpulkan hasil wawancara dengan semua pakar dengan focus rekomendasi tentang perbaikan yang harus dilakukan pada bahan instruksional.
  4. Merevisi bahan instruksional berdasarkan rekomendasi
  • Oleh para peserta didik
  1. Data dan informasi tentang hasil tes awal dan tes akhir, motivasi belajar, pemahaman bagian materi tertentu, komentar dan keluhan tentang bagian tertentu, komentar dan keluhan tentang bagian tertentu dari bahan instruksional termasuk isi, kualitas tes, dan tampilan fisik ianalisis dan ditafsirkan menjadi rekomendasi untuk revisi.
  2. Melakukan revisi berdasarkan rekomendasi evaluasi

Menganalisis Data Dari Uji Coba Kelompok Kecil dan Praktek Lapangan.

Menganalisis Data dan Informasi serta merevisi produk instruksional berdasarkan evaluasi kelompok kecil

Ada beberapa hal ang perlu dilakukan dalam evaluasi kelompok kecil, yaitu :

  • Data dan informasi tentang hasil tes awal dan tes akhir, catatan hasil observasi proses instruksional, komentar tentang kualitas bahan instruksional dan tes, baik dari peserta didik maupun pengajar, dianalisis dan ditafsirkan menjadi rekomendasi untuk revisi.
  • Menganalisis kenaikan nilai peserta didik untuk butir-butir tes yang mengukur setiap perilaku dalam TIK dengan cara membandingkan nilai tes awal dan niai tes akhir.
  • Menganalisis hasil tes akhir dari dua TIK yang mempunyai struktur perilaku yang hirarkis.
  • Menganalisis hasil tes akhir dari beberapa TIK yang mempunyai struktur perilaku yang procedural, terutama kawasan psikomotorik.
  • Menganalisis komentar peserta didik tentang proses instruksional, terutama yang menyangkut metode dan media instruksional yang selanjutnya melakukan revisi berdasarkan rekomendasi evaluasi tersebut.

Menganalisis Data dan Informasi serta merevisi produk instruksional berdasarkan evaluai uji coba lapangan.

Hasil uji coba lapangan digunakan untuk merevisi produk instruksional dengan menggunakan prosedur yang sama dengan penggunaan hasil evaluasi keompok kecil.  Hasil uji coba lapangan ini adalah yang paling mirip dengan kondisi sesungguhnya karena dilakukan dalam lingkungan yang menyerupai lingkungan sesungguhnya.  Karena itu, masukan dari uji coba ini akan menggambarkan reaksi populasi sasaran kepada produk instruksional.

Bila masukan dari evaluasi one to one dan kelompok kecil terutama berisi hal-hal pokok, masukan dari uji coba lapangan ini merupakan masukan yang menyeluruh dan terperinci tentang kualitas bahan dan strategi instruksional yang dicobakan.

 

Hasil Pengembangan

Revisi terhadap semua langkah pada desain Dick and Carey adalah sebagai berikut :

  1. Langkah  Analisis Pembelajaran,

Sesuai dengan hasil angket yang disebarkan pada responden  menyatakan  langkah analisis  pembelajaran yang dirancang sudah cukup baik dan tidak ada revisi.

  1. Langkah Analisis  Pembelajaran dan Kontek,

Sesuai dengan hasil angket yang disebarkan pada responden  menyatakan  langkah analisis pembelajaran dan konteks yang dirancang sudah cukup baik dan tidak ada revisi.

  1. Langkah Menulis Tujuan Performansi,

Sesuai dengan hasil angket yang disebarkan pada responden  menyatakan  langkah Menulis tujuan performansi  yang dirancang sudah cukup baik dan tidak ada revisi.

  1. Langkah Pengembangan  Instrumen  Penilaian,

Sesuai dengan hasil angket yang disebarkan pada responden  menyatakan  langkah Pengembangan  Instrumen  Penilaian yang dirancang sudah cukup baik dan tidak ada revisi.

  1. Langkah  Pengembangan Strategi  Pembelajaran,

Pada langkah pengembangan strategi pembelajaran  bagian yang  di revisi adalah: Media pembelajaran baru menggunakan laptop dan LCD.

Langkah Pengembangan dan Pemilihan Material Pembelajaran,

Pada langkah Pengembangan dan Pemilihan  Material pembelajaran  bagian yang  di revisi adalah:Isi Material  direvisi dengan mencari dan menambahkan  materi dari berbagai sumber belajar.

  1. Langkah  Mendesain  tes Evaluasi Formatif,

Pada langkah Mendesain  tes Evaluasi Formatif bagian yang  di revisi adalah:

  • Instrumen penilaian perlu ditambah soal soal yang menyangkut aspek kognitif.
  • Instrumen untuk penilaian untuk tes unjuk kerja/ tes praktik

 MENDESAIN DAN MELAKSANAKAN EVALUASI SUMATIF

Konsep

Penilaian evaluasi didefinisikan sebagai  rancangan studi evaluasi dan pengumpulan data untuk menguji keefektifan materi-materi pengajaran dengan target pelajar. Tujuan utamanya adalah pengambilan kebijakan tentang tetap mempertahankan materi-materi pengajaran yang digunakan saat ini atau tentang penggunaan materi-materi pengajaran yang berpotensi memenuhi kebutuhan-kebutuhan pengajaran yang telah digariskan organisasi.

Sebuah penilaian sumatif memiliki dua tahap: penilaian ahli dan ujicoba lapangan. Tujuan dari tahap penilaian ahli adalah menentukan apakah pengajaran yang digunakan saat ini atau kandidat pengajaran lainnya memiliki potensi memenuhi kebutuhan-kebutuhan pengajaran yang digariskan organisasi, sedangkan tujuan tahap ujicoba lapangan adalah untuk mendokumentasikan efektivitas pengajaran yang menjanjikan dengan target anggota kelompok dari yang dimaksudkan.

  1. Tahap Penilaian Ahli tentang Penilaian Sumatif

Analisis Kesesuaian

Kebutuhan-kebutuhan Organisasi. Terlepas dari apakah penilaian sumatif meliputi perbandingan-perbandingan materi atau terfokus pada serangkaian materi-materi pengajaran, penilaian sumatif harus menentukan kesesuaian antara kebutuhan-kebutuhan organisasi, karakteristik dari target pembelajar, dan kebutuhan-kebutuhan dari sifat dari bakal pengajaran yang akan diberlakukan. Untuk menampilkan analisis kesesuaian, pertama kali anda harus menetapkan deskripsi yang jelas tentang kebutuhan-kebutuhan organisasi, yang mencakup akurasi deskripsi tentang catatan kemampuan dan sifat dari target pembelajar. Selanjutnya, anda harus menemukan materi-materi pengajaran yang berpotensi memenuhi kebutuhan-kebutuhan organisasi.

Sumber Daya. Anda juga harus menganalisis keseuaian antara sumber daya yang dimiliki organisasi dalam mencari dan menerapkan materi-materi pengajaran dan biaya untuk memperoleh dan menerapkan bakal materi-materi tersebut.

Analisis Konten. Karena anda mungkin bukan ahli dalam mengevaluasi materi-materi yang ada, mungkin perlu melibatkan ahli konten sebagai seorang konsultan. Yang harus anda pertimbangkan adalah seberapa baik menggunakan ahli ini.

Analisis Desain. Analisis ini mengharuskan anda mengevaluasi kesesuaian komponen strategi pengajaran yang ada pada bakal pengajaran.

Analisi Kegunaan dan Kelayakan. Untuk merancang bagian dari penilaian sumatif ini, anda mungkin perlu mewawancarai personel di dalam organisasi yang meminta penilaian ini. Melalui diskusi dengan mereka, anda dapat memastikan apakah anda telah memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, sumber daya dan kendala.

Analisis Pengguna Saat Ini. Analisis lainnya yang bisa anda harapkan dalam rancangan anda adalah mencari informasi tentang bakal materi pengajaran dari organisasi-organisasi yang memiliki pengalaman dalam menggunakannya. Salah satu jenis informasi yang perlu anda cari adalah tentang target pembelajar dalam standar yang lainnya.

  1. Tahap Ujicoba Lapangan Penilaian Sumatif

Analisis Hasil. Selama ujicoba, pengajaran diimplementasikan di dalam organisasi terhadap pembelajar yang dimaksudkan dan yang dipilih. Uji coba lapangan biasanya meliputi bagian-bagian berikut: perencanaan penilaian, persiapan implementasi, implementasi pengajaran dan pengumpulan data, menyimpulkan dan menganalisis data, serta laporan hasil.

Perencanaan. Aktivitas perencanaan yang pertama adalah merancang ujicoba lapangan milik anda. Sifat yang pasti dari rancangan anda tergantun pada beberapa factor, termasuk kebutuhan-kebutuhan asesmen, sifat materi, dan apakah materi-materi yang bersaing akan dilibatkan. Aktivitas perencanaan lainnya adalah menjabarkan secara jelas pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab selama penelitian berlangsung. Pada dasarnya, pertanyaan-pertanyaan yang akan anda ajukan harus menghasilkan informasi  baik untuk analisi hasil maupun analisis manajemen.

Persiapan. Aktivitas persiapan dimulai dari keputusan-keputusan yang dibuat selama tahap perencanaan. Aktivitas-aktivitas ini meliputi perolehan semua materi-materi, instrument, sumber daya, dan orang-orang yang dimaksud.

Implementasi/Pengumpulan Data. Selama implementasi pengajaran, anda perlu mengumpulkan semua jenis data yang telah ditentukan. Pengumpulan data tersebut bisa mencakup pengukuran performansi, observasi, wawancara, dan kuesioner.

Menyimpulkan dan Menganalisis Data. Teknik penyimpulan data yang ada pada penilaian formatif ujicoba layak bagi ujicoba sumatif. Dalam menganalisis data, anda mendokumentasikan  area-area pengajaran yang tidak efektif dan alasan-alasan potensi terhadap kelemahan-kelemahan yang ada. Selama penilaian berlangsung, penting untuk menyediakan keseimbangan analisis baik untuk kekuatan-kekuatan maupun kelemahan-kelemahan materi materi-materi tersebut.

Laporan Hasil. Sifat dari laporan penilaian sumatif tergantung pada rancangan yang anda buat. Jika anda melibatkan tahap penilaian ahli dan tahap ujicoba lapangan, maka keduanya harus didokumentasikan dalam laporan tersebut.

  1. Perbandingan Antara Penilaian Formatif dan Sumatif

Penilaian formatif dan penilaian sumatif berbeda dalam beberapa aspek. Perbedaan yang pertama dikaitkan dengan tujuan pelaksanaan masing-masing penilaian. Penilaian formatif dilakukan untuk mencari kelemahan dan masalah dalam pengajaran dalam rangka memperbaikinya. Penilaian sumatif dilakukan untuk mencari kekuatan dan kelemahan dalam pengajaran dan mendokumentasikan penemuan-penemuan tersebut untuk para pengambil kebijakan yang harus memutuskan apakah akan tetap menggunakan pengajaran-pengajaran yang sudah ada atau harus mengambil atau menerapkan pengajaran lainnya.

Perbedaan kedua meliputi tahap-tahap penilaian. Penilaian formatif mencakup tiga tahapan – satu per satu, kelompok kecil, dan ujicoba – semua dilakukan langsung terhadap target pembelajaran. Penilaian sumatif, sebaliknya, hanya mencakup dua tahapan: penilaian ahli dan ujicoba.

 DASAR – DASAR DISAIN PEMBELAJARAN

Sistem Evaluasi Pembelajaran terdiri dari 5 jenis yaitu:

  1. Evaluasi Materi Pembelajaran
  2. Kualitas Resensi dari Proses Sistem Disain Pembelajaran
  3. Penilaian Reaksi Peserta didik terhadap Pembelajaran
  4. Ukuran Pencapaian Peserta didik terhadap Tujuan Pembelajaran
  5. Perkiraan dari Konsikuensi Pelajaran

Jenis Evaluasi yaitu:

  1. Reaksi Peserta didik
  2. Pencapaian pembelajaran
  3. Pemerolehan Pengetahuan
  4. Hasil Organisasi

Jenis Keputusan yaitu:

  1. Formatif
  2. Sumatif

Evaluasi dari Bahan-bahan Pelajaran dan aktivitas yaitu:

  1. Tinjauan Para Pakar
  2. Evaluasi Satu-satu
  3. Tes Kelompok Kecil
  4. Tes Lapangan
  5. Penafsiran Fakta
  6. Validasi

Evaluasi Proses Sistem Disain Pembelajaran

Evaluasi terhadap proses sistem disain pembelajaran jika diterapkan, kemajuan yang dicapai bermanfaat di setiap mata pelajaran. Dari sudut pandang kualitas manajemen secara keseluruhan, dasar dari implementasi dan evaluasi sistem disain pembelajaran merupakan tinjauan formal dari proses pembelajaran peserta didik terhadap kemajuan yang efektif dan efisien secara terus menerus. Ciri khusus dari proses sistem disain pembelajaran ini terdiri dari hasil simpulan evaluasi yang berkaitan dengan hasil evaluasi tes formatif. Proses evaluasi yang efektif akan membutuhkan seorang disain pembelajaran yang siap dalam meninjau kriteria pada setiap tahapan terhadap situasi khusus. Soalan evaluasi dapat menunjukkan sejauh mana proses itu diimplementasikan dan menghasilkan produk yang berkualitas.

Kategori soal terbagi menjadi dua yaitu:

  1. Proses analisis kebutuhan
  2. Proses hasil
  3. Sangat bagus
  4. Cukup
  5. Perlu bimbingan dengan masukan tertulis

Penilaian Reaksi Peserta didik

Penilaian reaksi peserta didik terdiri dari:

  1. Masalah Pengertian
  2. Hasil tes Formatif
  3. Daftar pertanyaan untuk pengambilan keputusan hasil tes sumatif terhadap penerimaan pelajaran atau pengajar

Pengukuran Kemajuan Peserta Didik

Instrumen sumatif untuk mengevaluasi pencapaian peserta didik terdiri dari tiga acara yaitu:

  1. Membuat penilaian kemajuan peserta didik
  2. Menilai keberhasilan pelajaran secara keseluruhan
  3. Menentukan apakah tujuan pembelajaran tersebut tercapai.

Program Evaluasi Pembelajaran

Sistem evaluasi pembelajaran mempengaruhi hasil dari suatu pelatihan. Metode evaluasi dapat diterapkan ke pelajaran atau kursus dan keseluruhan program atau sistem dari sebuah pembelajaran. Suatu program terdiri dari beberapa kursus dan pengalaman pembelajaran lainnya seperti pelatihan dalam rangka memberikan kontribusi terhadap perusahaan untuk mencapai suatu tujuan.

Menurut Carroll (1963), Gilbert (1978) dkk, hasil dari pembelajaran dan penerapan peserta didik terhadap ilmu yang diperoleh adalah dipengaruhi oleh faktor waktu, kesempatan dan motivasi sehingga pemahaman evaluasi harus mempertimbangkan faktor-faktor tersebut guna mengisolasi dan mengestimasi keefektifan dari suatu sistem pembelajaran. Di samping pengembangan tes dan jenis-jenis pengukuran lainnya, aspek evaluasi memerlukan ketelitian dan metode ilmiah guna memastikan bukti-bukti data yang diperoleh itu jelas.

Faktor-faktor tidak tetap (Variabel) dari studi evaluasi adalah sebagai berikut:

  1. Variabel Hasil
  2. Variabel Proses
  3. Variabel Pendukung
  4. Variabel Kecerdasan
  5. Variabel Motivasi

Penafsiran Evaluasi Fakta

  1. Pengaturan Pengaruh Kecerdasan
  2. Pengaturan Pengaruh Variabel Pendukung
  3. Pengaturan Pengaruh Variabel Proses
  4. Pengaturan Pengaruh Variabel Motivasi
  5. Pengaturan Variabel Acak

Contoh dari Studi Evaluasi

Salah satu contoh dari Studi Evaluasi adalah “Program Membaca untuk Pemula”. Hal ini dapat dilihat dari jenis variabel yang terdiri dari:

  1. Varibel Kecerdasan
  2. Variabel Pendukung
  3. Variabel Proses
  4. Variabel Motivasi
  5. Variabel Hasil

Kesimpulan

Pada dasarnya pemahaman evaluasi dari bahan ajar, kursus, dan kurikulum pembelajaran terdiri dari lima area investigasi dan pengaruh timbal balik yaitu Evaluasi Materi Pembelajaran, Kualitas Resensi dari Proses Sistem Disain Pembelajaran, Penilaian Reaksi Peserta didik terhadap Pembelajaran, Ukuran Pencapaian Peserta didik terhadap Tujuan Pembelajaran, dan Perkiraan dari Konsikuensi Pelajaran. Dari semua konteks ini, evaluasi formatif dilakukan untuk melengkapi kekurangan fakta dari segi daya tarik, efisiensi, atau efektifitas sebuah program sehingga pengaruh timbal-balik dari program tersebut dapat didukung dengan revisi dan perbaikan. Proses ini dapat dari para pengamat, pengajar dan peserta didik.

Evaluasi pembelajaran mengarahkan kepada keputusan hasil tes sumatif terhadap kemudahan dan penerimaan pembelajaran. Berbagai jenis pengukuran yang telah dijelaskan sebelumnya, akan sangat membantu dalam hal mengambil keputusan apakah suatu program, sistem penyajian materi atau tenaga pengajar tersebut diteruskan atau diberhentikan. Dan adalah tidak mudah untuk melaksanakan tes formatif guna mencapai kemajuan.

Evaluasi dapat dilakukan melalui sebuah program pembelajaran atau untuk membandingkan keseluruhan program pembelajaran dengan yang lain. Jenis kedua studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai aspek kemajuan atau membuat penilaian sumatif terhadap nilai dari sebuah program yang telah diberikan. Namun demikian, studi komparatif diutamakan untuk tujuan tes sumatif dikarenakan kerumitan dan biaya. Hasil dari studi ini, sebagai studi pendidikan komparatif internasional, adalah mengarah kepada berbagai cara investigasi berkikutnya untuk mencapai kemajuan dalam satu atau lebih program dalam pembelajaran. Dari semua studi ini, berbagai variabel harus dipertimbangkan. Hasil dari program dipengaruhi oleh berbagai variabel (varibel kecerdasan, variabel proses, variabel pendukung dan variabel motivasi) yang pengaruhnya harus di atur sehingga dapat menguji pengaruh dari pembelajaran.

Studi evaluasi menggunakan berbagai instrumen untuk mengontrol pengaruh variabel guna menampilkan berbagai pengaruh dari disain pembelajaran yang baru. Terkadang perlakuan dari variabel-variabel dapat dibuat sepadan dengan menentukan peserta didik, sekolah, atau komunitas secara acak ke dalam berbagai kelompok untuk diajarkan. Instrument secara statistic lebih banyak digunakan untuk menentukan dan membandingkan kepadanan suatu kelompok.