Bab  3 – The Arcs Model of Motivational Design

 

Sebagai seorang guru atau dosen yang memiliki pengalaman bertahun tahun dengan siswa atau mahasiswa, masih sering bertanya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi siswa dan bagaimana untuk menentukan strategi apa yang akan kita gunakan untuk merancang pembelajaran sehingga siswa dapat termotivasi.  Tujuan khusus dari model motivasi ARCS  ini  adalah untuk memberikan panduan untuk membuat jawaban atas pertanyaan tersebut.

Kategori ARCS :

  1. Attention, bagaimana merangsang dan mempertahankan keingintahuan dan minat peserta didik. Kategori attention berisi tentang pertanyaan bagaimana saya bisa membuat pengalaman belajar ini merangsang dan menarik?
  2. Relevance, Mengapa saya harus belajar ini? Sebelum siswa dapat termotivasi untuk belajar, mereka harus percaya bahwa pembelajaran tersebut terkait dengan tujuan atau motif pribadi yang penting .
  3. Confidence, Bagaimana melalui pembelajaran kita dapat membantu siswa berhasil dan memungkinkan mereka untuk mengontrol kesuksesan mereka? Kita harus merancang materi pembelajaran dan lingkungan belajar yang mendukung , termasuk perilaku guru / dosen , sehingga peserta didik menjadi yakin bahwa mereka dapat mempelajari isi dan mengalami kesuksesandalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.
  4. Satisfaction, Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu siswa mempunyai perasaan yang  baik tentang pengalaman sehingga mereka akan memiliki  keinginan untuk terus belajar. Ada dua faktor yang mempengaruhi kepuasan belajar yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal misalnya nilai, sertifikat dan manfaat yang bisa diperoleh dari pembelajaran. Sedangkan faktor internal misalnya perasaan harga diri yang meningkat, interaksi positif dengan orang lain, didengar atau dihormati dan menguasai tantangan atau prestasi yang meningkatkan perasaan harga diri mereka.

Empat faktor tersebut adalah empat komponen dari model ARCS yang mencakup faktor-faktor utama yang mempengaruhi motivasi belajar. Faktor-faktor ini berkaitan dengan dua pertanyaan penting yang harus Anda tanyakan  pada diri sendiri ketika Anda sedang merancang atau mempersiapkan sebuah pembelajaran. Pertama, apa yang akan kita lakukan untuk membuat pembelajaran  yang berharga dan merangsang bagi siswa Anda? Kedua, bagaimana kita akan membantu siswa berhasil dan merasa bahwa mereka bertanggung jawab atas keberhasilan mereka?

Strategi Mendapatkan Perhatian (Attention)

  1. Perceptual arousal, Apa yang dapat kita lakukan untuk menangkap minat mereka?

Ini adalah jenis rasa ingin tahu yang mengacu pada reaksi terhadap rangsangan. Hampir setiap perubahan tiba-tiba atau tak terduga dalam lingkungan akan mengaktifkan tingkat persepsi seseorang dari rasa ingin tahu. Perubahan tingkat suara atau humor juga dapat digunakan untuk membangkitkan rasa ingin tahu, tetapi harus digunakan dengan hati-hati. Hal ini dapat menyebabkan gangguan daripada meningkatkan minat pada materi pelajaran.

  1. Inquiry Arousal, Bagaimana kita bisa merangsang sikap inquiry atau rasa ingin tahu mereka? Rasa ingin tahu dapat diaktifkan dengan menciptakan situasi masalah yang dapat diselesaikan hanya dengan perilaku mencari pengetahuan.
  2. Variability. Bagaimana kita bisa mempertahankan perhatian mereka? Pengajar dengan suara yang monoton atau dengan metode yang sama serta berulang-ulang akan dapat mempertahankan perhatian siswa dengan menggunakan variasi suara atau metode yang digunakan. Misalnya dengan video dari  YouTube, atau kegiatan kelompok.

Strategi Meningkatkan Relevansi (Relevance)

Relevansi adalah faktor kuat dalam menentukan bahwa seseorang termotivasi untuk belajar. ‘Bagaimana, ” mahasiswa yang sadar atau tidak sadar bertanya-tanya, ” apakah bahan ini berhubungan dengan hidup saya? ” Jika siswa memiliki perasaan yang baik tentang kebermaknaan terhadap  materi pembelajaran, maka siswa akan termotivasi untuk mempelajarinya. Seorang pengajar  yang sukses adalah yang  mampu membangun jembatan antara materi pelajaran dan kebutuhan dan keinginan peserta didik, dengan cara

  1. Goal Orientation : Bagaimana saya memenuhi kebutuhan peserta didik saya? (Apakah saya tahu kebutuhan mereka?)

Menetapkan tujuan dan berusaha  untuk mencapainya adalah komponen kunci dari relevansi. Secara umum, orang akan lebih termotivasi untuk belajar jika mereka menganggap bahwa pengetahuan atau keterampilan baru akan membantu mereka mencapai tujuan di masa sekarang atau masa depan. Orientasi tujuan sering digunakan oleh para guru dan pelatih yang mencoba untuk menghubungkan manfaat program mereka ke penerimaan tes perguruan tinggi, mendapatkan pekerjaan, mendapatkan kenaikan gaji, mendapatkan promosi,  atau meningkatkan prestasi kerja.

  1. Motive Matching: Bagaimana dan kapan saya bisa menyediakan pelajar saya dengan pilihan yang tepat, tanggung jawab, dan pengaruh? Memahami struktur motif pribadi siswa dapat mengarah pada pengembangan lingkungan belajar yang kondusif. Sebagai contoh, orang-orang yang tinggi dalam kebutuhan motif berprestasi menikmati mendefinisikan tujuan dan standar keunggulan untuk diri mereka sendiri. Mereka juga ingin memiliki banyak kontrol atas cara untuk mencapai tujuan dan merasa bertanggung jawab secara pribadi untuk sukses. Mereka sering tidak nyaman dalam kerja kelompok yang membutuhkan konsensus dalam perencanaan dan tanggung jawab bersama untuk hasil. Sebaliknya, orang-orang yang tinggi ” kebutuhan akan kerja sama ” menikmati kebersamaan dengan orang lain dalam situasi kompetitif di mana ada lebih kesempatan untuk membangun hubungan yang ramah dan menikmati dialog dalam kegiatan pembelajaran kolaboratif. Hal ini juga mungkin bagi orang untuk memiliki kombinasi dari afiliasi dan prestasi motif. Intinya adalah, bahwa penggunaan strategi pengajaran yang mencakup kelompok kerja koperasi dikombinasikan dengan kegiatan kompetitif individu seperti game dapat membantu membuat instruksi lebih menarik secara independen dari konten.
  2. Familiarity: Bagaimana saya bisa menghubungkan pembelajaran  dengan  pengalaman peserta didik? Siswa cenderung paling tertarik pada materi  yang memiliki beberapa koneksi atau hubungan dengan  pengalaman atau kepentingan mereka sebelumnya. Dalam instruksi, penggunaan contoh  konkrit dapat membantu untuk mencapai relevansi, terutama ketika mengajar materi yang bersifat abstrak. Beberapa cara untuk mencapai hal ini adalah untuk merangsang keterlibatan pribadi di kelas. Belajar dan menggunakan nama siswa serta meminta pengalaman dan ide-ide dari siswa.

Strategi Membangun Rasa Percaya Diri

Pengalaman sukses akan bermakna dan akan merangsang terus memotivasi jika ada tantangan yang cukup untuk memerlukan tingkat usaha untuk berhasil, tetapi jangan berlebihan  sehingga dapat menciptakan kecemasan yang serius. Ada beberapa konsep dan strategi yang membantu dalam membangun kepercayaan:

  1. Learning requirements: Bagaimana saya dapat membantu dalam membangun ekspektasi positif untuk sukses? Seorang pengajar dapat menentukan kriteria yang akan digunakan untuk menentukan kualitas produk akhir dan meyakinkan untuk poin-poin penting. Juga, memberikan contoh karya orang lain akan membantu menanamkan kepercayaan.
  2. Success opportunities: Bagaimana pengalaman belajar akan meningkatkan keyakinan siswa dalam kompetensi mereka? Setelah membuat harapan untuk sukses, penting bagi peserta didik untuk benar-benar berhasil di tugas yang menantang yang bermakna. Orang yang belajar sesuatu yang baru umumnya ingin memiliki tantangan tingkat yang cukup rendah yang dikombinasikan dengan umpan balik yang sering sehingga membantu mereka berhasil. Setelah menguasai dasar-dasar, orang siap untuk tingkat yang lebih tinggi tantangan, termasuk kompetisi yang membantu mereka latihan dan mempertajam keterampilan mereka. Artinya seorang pengajar harus memulai dengan tantangan dari yang rendah hingga yang lebih tinggi.
  3. Personal control: Bagaimana peserta didik tahu kesuksesan mereka didasarkan pada upaya dan kemampuan mereka? Untuk membantu siswa meningkatkan kepercayaan diri mereka, memberikan umpan balik korektif yang membantu mereka melihat penyebab kesalahan mereka dan bagaimana untuk mengambil tindakan korektif. Ketika siswa tidak mendapatkan umpan balik sampai mereka melihat akhir, skor sumatif atau komentar, persepsi siswa tentang penurunan kontrol dan mereka menjadi lebih terfokus pada berusaha untuk menyenangkan pengajar bukannya memahami tugas.

 

Strategi Membangkitkan Kepuasan

Tiga kategori strategi untuk memberikan panduan dalam menentukan  strategi yang digunakan untuk mempromosikan kepuasan adalah :

  1. Natural consequences: Bagaimana saya bisa memberikan kesempatani bagi peserta didik untuk menggunakan pengetahuan / keterampilan yang baru diperoleh? Bagi siswa untuk dapat berhasil dalam  tugas yang menantang di akhir kelas dimana  dia tidak bisa melakukan di awal adalah pengalaman yang sangat memuaskan. Salah satu hasil paling berharga dari instruksi yang berorientasi pada kinerja adalah dengan menggunakan keterampilan yang baru diperoleh atau pengetahuan. Studi kasus, simulasi, dan kegiatan belajar pengalaman dapat menjadi sarana yang sangat baik untuk memberikan kesempatan untuk dapat menerapkan pengetahuan baru yang bermakna.
  2. Positive consequences: Apa yang akan memberikan penguatan kepada keberhasilan peserta didik ? Insentif dalam bentuk penghargaan, piala, dan hak-hak istimewa bagi orang-orang yang menerima akan merangsang, membentuk  dan mempertahankan perilaku.
  3. Equity: Bagaimana saya bisa membantu siswa dalam mempertahankan perasaan positif tentang prestasi mereka? Cara terbaik untuk menangani masalah ekuitas adalah untuk memastikan bahwa hasil pembelajaran  konsisten dengan penjelasan dan diskusi di awal pembelajaran  mengenai  tujuan, harapan dan mempertahankan standar yang konsisten dan konsekuensi untuk penyelesaian tugas dalam pembelajaran.

 

Desain Motivasi

Proses desain motivasi, yang mirip dengan proses desain instruksional tradisional, memiliki 10 kegiatan, atau langkah-langkah, yaitu sebagai berikut

 

Langkah 1: Obtain Course Information (Memperoleh Informasi Kursus)

Langkah ini dilakukan untuk memilih dan membangkan taktik motivasi yang sesuai dalam pembelajaran, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam langkah ini adalah karakteristik peserta didik, tujuan yang ingin di capai, serta kesesuaian waktu dan biaya. Untuk menghindari efek yang kontraproduktif dari pengaruh diatas maka perlu untuk mengumpulkan informasi tentang tujuan dari pembelajaran yang akan dilaksanakan. Langkah 1 berfokus pada karakteristik belajar dan bagaimana mengimplementasikannya, gambaran kegiatan dan tujuan pembelajarannya, perencanaan waktu, perencanaan pelajaran dan desain sebelum mengajarkannya. Ini akan membantu memutuskan berapa banyak usaha dalam merancang strategi motivasi yang akan dilakukan. Demikian halnya dengan Karakteristik dari pembelajar harus dipertimbangan ketika merancang dan mengembangkan materi pembelajaran, seperti gaya kepribadian, pengetahuan, dan pengalaman memiliki pengaruh yang kuat di lapangan dan penentuan strategi motivasi yang akan dikembangkan. Tidak ada satu cara terbaik untuk meningkatkan motivasi siswa, pendekatan terbaik adalah untuk memahami kepribadian dan preferensi individu pembelajar dan untuk mengembangkan metode dan gaya yang nyaman sebagai pembelajar.

Langkah 2 : Obtain Audience Information (Memperoleh Informasi Peserta didik).

Langkah ini berfokus pada beberapa faktor yang memiliki pengaruh kuat pada motivasi awal peserta didik dan bagaimana mereka akan menanggapi isi dan strategi pembelajaran yang akan diterapkan, misalnya, karakteristik peserta didik, sejauh mana kesamaan dan perbedaan kemampuan akademik mereka, memilih metode dengan menugaskan peserta didik untuk membantu mengantisipasi entry-level motivasi peserta didik. Informasi dari langkah pertama dan kedua ini akan memberikan dasar untuk menganalisis peserta didik yang akan dilakukan pada Langkah 3.

 

 

Langkah 3: Analyze Audience (Analisis Peserta didik)

Analisis peserta didik merupakan langkah penting dalam proses mendesain model ARCS. Keputusan yang diambil akan memiliki pengaruh langsung dalam mendefinisikan tujuan dan memilih strategi motivasi dalam pembelajaran. Tujuan dari langkah ini adalah untuk memperkirakan strategi motivasi apa yang cocok untuk seluruh kelas atau sub-kelompok atau individu dalam kelas. Salah satu tantangan dalam memecahkan masalah motivasi adalah bahwa motivasi awal peserta didik bisa terlalu tinggi serta terlalu rendah. Jika terlalu rendah, prestasi mereka akan rendah karena mereka memiliki sedikit motivasi berprestasi dan mereka tidak akan mengerahkan usaha yang cukup. Jika tingkat motivasi mereka terlalu tinggi, maka kualitas kinerja mereka menurun karena stres yang berlebihan yang menyebabkan mereka tidak dapat mengingat informasi. Dengan melakukan analisis peserta didik dapat ditentukan secara spesifik jenis masalah motivasi yang ada. Hal ini juga membantu menghindari masalah yang timbul karena memiliki terlalu sedikit atau terlalu banyak strategi motivasi.

Langkah 4: Analyze Existing Materials (Menganalisis Bahan yang Ada)

Tujuan dari langkah ini adalah untuk menganalisis materi pembelajaran saat ini, yang bisa menjadi sebuah unit, modul, program pembelajaran, atau apapun segmen instruksi yang ditujukan untuk mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan strategi motivasi. Hal yang penting untuk dipertimbangkan adalah memeriksa bahan-bahan instruksi untuk menentukan strategi motivasi apa yang diperlukan, termasuk karakteristik peserta didik, materi pembelajaran yang sedang digunakan, atau dipertimbangkan untuk diadopsi.

Di sisi lain, perlu juga dipertimbangkan apakah bahan yang ada memiliki kekurangan yang akan menyebabkan demotivasi. Pertama, jika materi yang ada tidak relevan, maka perlu dilakukan penambahan, bagian mana yang perlu. Kedua, jika materi mengandung elemen motivasional terlalu banyak atau kegiatan yang tidak pantas, seperti permainan yang tidak cocok untuk peserta didik, maka perlu perbaikan seperlunya. Dalam situasi di mana siswa sangat termotivasi untuk siap mengikuti pembelajaran termasuk penilaian dalam waktu yang sempit, diupayakan untuk tidak menyisipkan kegiatan yang tidak perlu seperti, game atau simulasi.

Langkah 5: List Objectives and Assessments (Daftar Tujuan Motivasi dan Penilaian)

Langkah ini dilakukan untuk menulis tujuan desain motivasi dan penilaian. Dalam tujuan akan digambarkan perilaku motivasi yang ingin diamati dalam peserta didik. Saat menulis tujuan, pertimbangkan perbedaan antara menutup kesenjangan motivasi dan menjaga motivasi. Dalam beberapa pengaturan, seperti yang ditunjukkan oleh analisis audiens, akan ada masalah motivasi tertentu yang memerlukan perhatian. Upayakan menyertakan strategi motivasi yang cukup untuk menghindari pembelajaran menjadi membosankan, seperti meningkatkan kepercayaan peserta didik dengan kegiatan yang menantang.

Langkah 6: List Potential Tactics (Daftar Strategi Potensial)

Langkah ini dibutuhkan kemampuan pembelajar untuk menganalisis melalui diskusi/brainstorming, bukan hanya yang berhubungan dengan tujuan pada Langkah 5, tetapi juga termasuk strategi yang akan membantu mempertahankan motivasi peserta didik pada kegiatan pembelajaran. Hasil langkah ini adalah adanya daftar sebanyak mungkin strategi motivasi sesuai dengan pemikiran kreatif pembelajar. Selanjutnya pada langkah berikutnya akan diinjau kembali kemungkinan strategi yang paling sesuai yang akan digunakan.

Langkah dalam memilih strategi. Dapat dilakukan dengan seleksi awal dengan menyiapkan daftar rencana atau solusi strategi motivasi yang akan dikembangkan, yang berkaitan dengan tujuan spesifik dan situasi umum. Kemudian, pada Langkah 7, akan diterapkan satu set kriteria seleksi untuk memilih, menggabungkan, dan mengatur strategi yang benar-benar akan digunakan.

Langkah 7: Select and Design Tactics (Memilih dan Mendesain Strategi)

Dalam langkah ini pembelajar akan memilih strategi motivasi untuk benar-benar dimasukkan ke dalam bahan ajar. Selain beragam strategi potensial yang baru saja di buat, juga pembelajar telah memiliki informasi tentang lingkungan instruksional, karakteristik peserta didik, analisis bahan, dan tujuan motivasi , termasuk kriteria yang akan membantu memilih strategi yang paling dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Biasanya, dalam memilih dan mendesain strategi yang akan dimasukkan dalam kegiatan pembelajaran tidak hanya memilih salah satu strategi yang ada tetapi dilakukan dengan menggabungkan satu atau lebih strategi menjadi sebuah strategi tunggal yang memenuhi beberapa kebutuhan pembelajaran.

Langkah 8 : Integrate with Instructional Design Overview (Mengintegrasikan Strategi Motivasi dengan Desain Pembelajaran)

Langkah ini dilakukan untuk mengintegrasikan strategi motivasi yang sudah dirancang kedalam unsur-unsur utama pengajaran, yang meliputi tujuan pembelajaran, isi, dan kegiatan belajar. Saran pertama adalah meninjau unit instruksi yang sedang dikembangkan dan daftar semua unsur-unsurnya. Kemudian, meninjau strategi motivasi yang dipilih dan dan menempatkannya dalam situasi pembelajaran dengan tepat. Hal ini dibutuhkan kesiapan dalam membuat keputusan. Langkah ini sangat berguna karena merupakan kompinasi dari keseluruhan langkah sebelumnyayang dilakukan secara bersama-sama. Pengajar yang telah memiliki banyak pengalaman akan sangat mempertimbangkan langkah ini secara lebih serius. Mereka biasanya akan lebih mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal lingkungan belajarnya secara komprehensif.

Langkah 9 : Select and Develop Materials (Memilih dan Mengembangkan Bahan)

Dalam langkah ini, akan dilakukan identifikasi jenis strategi motuivasi yang akan dimasukkan kedalam bahan pembelajaran. Beberapa strategi mungkin tidak akan memerlukan mencari strategi karena dapat diterapkan secara langsung, atau hanya memerlukan modifikasi pada konten pembelajaran yang ada. Tapi, jika Anda ingin menggunakan permainan, simulasi, atau kegiatan pengalaman belajar dan belum memiliki strategi tertentu dalam pikiran, maka dapat dilakukan dengan mencari strategi bisa disesuaikan atau, setidaknya dapat berfungsi sebagai model untuk dikembangkan. Dalam langkah ini jangan lupa untuk mencatat (sebagai dokumentasi) hasil keputusan yang sudah diambil yakni strategi yang sebenarnya akan dikembangkan dan diintegrasikan ke dalam pelajaran.

Langkah 10: Evaluation and Revision (Evaluasi dan Revisi)

Dalam merancang desain pembelajaran formal, langkah ini bagian dari proses yang tujuannya untuk mengevaluasi materi seberapa baik strategi motivasional yang dilakukan memiliki pengaruh terhasdap peserta didik. Tetapi kadang-kadang, evaluasi yang berkaitan dengan aktifitas mungkin tidak diperlukan. Jika sedang mengembangkan sebuah pembelajaran yang akan digunakan di kelas, maka pembelajar akan mengetahui seberapa baik berimplikasi kepada peserta didik, untuk itu bisa dilakukan diskusi dengan mereka. Jika Rancangan kegiatan pembelajaran dilakukan oleh orang lain, atau ingin bukti konkret dari reaksi hasil desain motivasional yang telah dirancang maka evaluasi formal perlu dilakukan.