Model pengembangan pembelajaran  Jonurro, yang merupakan singkatan dari Jhoni, Nurdin dan Robin.  Model ini dibuat saat saya melaksanakan penelitian R&D untuk mendapatkan gelar Doktor Ilmu Teknologi Pendidikan pada Universitas Negeri Jakarta.  Jonurro (Jhoni, Nurdin , dan Robin), Jhoni adalah nama saya, Nurdin adalah Promotor saya (Prof. Dr. Nurdin Ibrahim, M.Pd), sedangkan Robin adalah Co-Promotor saya (Prof. Dr. Robinson Situmorang, M.Pd).

Berikut gambar Model Pengembangan  Pembelajaran Jonurro

Langkah-langkah pengembangan sesuai dengan bagan diatas, akan dijelaskan dibawah ini:

  1. Tahap perencanaan

 a.  Analisis kebutuhan

Pada tahap analisis kebutuhan, dilakukan dengan mengadakan observasi untuk melihat masalah, keadaan serta karakteristik peserta  didik.  Selain observasi, peneliti menyebarkan kuisoner wawancara langsung kepada instruktur dan juga kepada peserta  didik calon master guide.  Analisis kebutuhan dapat dijadikan acuan utama dalam langkah-langkah penelitian pengembangan.

b.   Perumusan tujuan pembelajaran

Setelah melakukan analisis kebutuhan, maka terdapat beberapa pemecahan masalah belajar pada kelas pemimpin utama yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, masalah belajar  serta lingkungan.

  1. Tahap pengembangan

a. Pengembangan topik

Topik yang dikembangkan berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya adalah sebagai berikut:

  • Pertumbuhan rohani
  • Pengembangan bakat
  • Perkembangan anak
  • Pengembangan kepemimpinan
  • Pengembangan gaya hidup kebugaran

b. Penyusunan draft dan produksi prototype produk yang akan digunakan peserta didik untuk belajar.

Penyusunan draft dilakukan dengan menuangkan materi yang sudah disusun dalam garis besar isi dan dijabarkan dalam jabaran materi kedalam suatu format tertentu dengan Bahasa penyampaian dan istilah teknis yang telah dipahami.

c. Produksi Prototipe

Dalam memproduksi bahan belajar hypercontent membutuhkan peralatan berupa komputer, printer, program editing, program layout dan peralatan penjilidan.  Komputer atau laptop yang digunakan mempunyai spesifikasi yang sedang yaitu laptop Lenovo ThinkPad X250, software yang digunakan adalah Microsoft Office Word 2016, Adobe Photoshop Cs6, dan program editing video menggunakan aplikasi Wondershare Filmora.  Untuk mencetak bahan belajar yang telah diolah dibutuhkan printer.  Printer yang digunakan adalah printer yang dapat mencatak warna dengan resolusi tinggi dalam hal ini peneliti menggunakan printer Epson.

d. Membuat dokumen informasi kegiatan web

Web event Information Document (WID) adalah dokumen yang dirancang untuk mencatat informasi dasar terkait materi pembelajaran yang akan dikembangkan.

e. Menentukan pendekatan desain

Menentukan alat yang digunakan untuk membantu peserta  didik menyelesaikan beragam aktifitas yang telah dirancang sebagai bagian dari materi pembelajaran berbasis web. Diantaranya:

  1. Browser software
  2. Akses bulletin board
  3. Alamat email

f.  Memasukkan semua materi pembelajaran

Materi disusun dengan menggunakan template yang telah ditentukan.

  1. Tahap evaluasi

a). Self evaluasi

Dengan melakukan analisis peserta didik, analisis perangkat atau bahan yang akan dikembangkan.

b) Expert review

Pada tahap expert review, produk yang telah didesain dicermati, dinilai dan dievaluasi oleh pakar.  1). validasi dilakukan oleh ahli media, ahli desain pembelajaran, ahli substansi materi dan bahasa. Pada tahap ini, tanggapan dan saran dari para pakar (validator) tentang desain yang telah dibuat ditulis pada lembar validasi sebagai bahan merevisi dan menyatakan bahwa desain ini telah valid atau tidak, sehingga dapat diketahui kelemahan dari produk yang dibuat dan selanjutnya dilakukan revisi. Lembar evaluasi untuk ahli desain dan materi dilampirkan pada proposal ini.

c) face to face tryout

Pada tahap ini, peneliti mengujicobakan desain bahan belajar yang telah dikembangkan kepada peserta  didik.  Peserta  didik yang dipilih adalah peserta  didik yang rajin, mengikuti kelas, kadang-kadang mengikuti kelas, dan malas mengikuti kelas.  Pada tahap ini peserta  didik diminta untuk memberikan tanggapan atau komentar pada lembar validasi yang disediakan terhadap produk prototype tersebut.  Hasil dari pelaksanaan ini digunakan untuk merevisi desain yang telah dibuat.

d) Field trials

Saran-saran serta hasil uji coba pada prototype dijadikan dasar untuk merevisi desain prototype kedua.  Hasil revisi diujicobakan ke subjek penelitian dalam hal ini sebagai uji lapangan atau field trials yang melibatkan tiga sekolah dengan jumlah peserta  didik yang mengikuti uji lapangan sebanyak 30 orang.  Uji lapangan bertujuan untuk mengetahui kekurangan bahan belajar bila digunakan pada proses pembelajaran yang dilakukan dikelas

e) Revisi

Uji coba harus di evaluasi untuk menentukan apakah diperlukan adanya perubahan dalam materi pembelajaran.