FOKUS KEPADA BELAJAR

Membantu orang untuk belajar adalah dasar dan inti dari teknologi pendidikan Belajar sepanjang hayat.[1]. Beberapa definisi sejak tahun 1963 selalu menyatakan bahwa belajar merupakan produk akhir dari teknologi pendidikan, walaupun terdapat perubahan-perubahan definisi mengenai hubungan antara pengaruh teknologi dan perubahan kemampuan peserta ajar. Beberapa definisi  tersebut antara lain:

FOKUS PADA PESAN DAN KONTROL

Definisi tahun 1963 terpusat pada desain dan penggunaan pesan dalam mengontrol proses belajar, seperti kutipan berikut “design and use of messages which control the learning process” (Ely, 1963, p.18)[2]. Definisi ini menggambarkan hubungan yang sangat erat antara pengaruh teknologi pendidikan dengan belajar. Menurut Januszewski (2001) kata “kontrol” memiliki dua arti yang pertama berasal dari teori belajar behaviourisme yang dominan pada saat itu yang menyatakan bahwa perilaku menentukan apakah mereka telah belajar dan yang kedua adalah berasal dari teori komunikasi yang menyatakan bahwa kesemua proses ditentukan oleh umpan balik yang diberikan

FOKUS KEPADA MANAJEMEN BELAJAR

Hoban (1965) melihat bahwa permasalahan dari pendidikan adalah bukan pada belajarnya melainkan pada manajemen belajar, dimana hubungan belajar-mengajar termasuk didalamnya. Schwen (1977) pun demikian, pada kerangka penelitiannya bertitik berat kepada masalah manajemen belajar. Heinich (1984) menekankan bahwa dasar pemikiran teknologi pembelajaran adalah seluruh ketidakpastian pembelajaran dapat dikelola berdasarkan tempat dan waktu.

FOKUS KEPADA PROSES

Pengertian pada tahun 1970-an beberapa definisi yang didapat berfokus pada instruksi, pemecahan masalah, dan rancangan sistematis, dengan sedikit membahas proses belajar ataupun dampak. AECT (1977) dan Seels dan Richey (1994) mendefinisikan dengan berfokus kepada proses kerja dari teknologi pendidikan

PENGERTIAN TERKINI

“Educational Technology is a field involved in the facilitating of human learning…” (Ely, 1972, p.36)[3] , yang berarti bahwa teknologi pendidikan adalah bagaimana memfasilitasi belajar manusia. Kata ‘fasilitasi’ dipakai sebagai bantahan bahwa hasil belajar ditentukan oleh pesan dan metode. Fasilitasi memberi arti bahwa belajar ditentukan dari faktor internal si pembelajar, sedangkangkan faktor eksternal paling besar berpengaruh dalam mempengaruhi proses belajarnya. Peserta ajar mengelola dan mengontrol pembelajaran mereka sendiri.

DARI TEORI BELAJAR KE TEORI PEMBELAJARAN

Teori belajar bersifat deskriptif yang bertujuan menjelaskan bagaimana proses belajar, teori pengajaran bersifat preskriptif yang bertujuan menetapkan metode pembelajaran yang optimal.

Teori belajar dikelompokkan dalam 3 kelompok: behaviourisme, kognitifisme, dan konstruktivisme. Cara seseorang menciptakan, menggunakan, dan mengelola sumber belajar tergantung dari bagaimana dia memandang tentang cara belajar manusia atau dengan kata lain tergantung teori belajar mana dari ketiga kelompok tersebut yang menginspirasinya. Cara pandang tentang “bagaimana belajar” juga akan menentukan dan berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan pendidikan yang dibuatnya, apakah itu belajar dilihat dari sudut pandang yang berbeda

Behaviourisme

Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respon pelajar terhadap rangsangan[4]. Faktor yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.

Teknologi Pembelajaran dalam perspektif teori behaviorisme

Behavior di teknologi pendidikan menganggap pengalaman pribadi di sekolah ini sebagai orang tua. Skinner (1954) telah lama tertarik menerapkan pengkondisian operan (stimulus) untuk belajar akademik[5], analisisnya berupa instruksional tradisional berbasis kelompok dan perangkat “teaching machine”. Beberapa penjelasan penggunaan teknologi pembelajaran dalam perspektif behaviorisme dijelaskan di bawah ini:

  1. Instruksional Terprogram, Fokus penelitian tentang audiovisual mulai bergeser kearah pemanfaatan metode diatas (1960-1970).
  2. Tutorial (Bimbingan) terprogram, dikembangkan untuk mengatasi kelemahan bahan dari instruksional terprogram. Hal ini memfasilitasi mereka yang memiliki keterbatasan respon yang benar terhadap instruksional terprogram dan masih butuh penguatan lagi. Tutorial ini biasanya adalah manusia hidup yang langsung praktek dan diikuti oleh peserta didiknya. Selain itu penguatan (reinforcers) berupa senyum atau anggukan sebagai jawaban atas kinerja peserta didik yang benar serta solusi bagi yang salah sangat membantu proses tersebut.
  3. Direct Instruction, DI Metode ini berbasis empiris, penggunaan metode naskah untuk instruksi kelompok kecil dan interaksi konstan antara peserta didik dan pendidik. Respon atau tanggapan langsung yang begitu cepat mereka dapatkan dari guru diikuti penguatan dan perbaikan menjadi focus metode ini.
  4. Personalized System of Instruction, PSI. Disebut “Keller Plan”. Metode untuk mengatur semua bahan dari keseluruhan kurikulum. Materi dibuat berurutan (Penciptaan buku teks atau modul khusus) yang dipelajari secara mandiri oleh peserta didik, maju dengan langkah mereka sendiri. Di akhir unit, peserta didik harus lulus uji kompetensi sebelum diperbolehkan naik ke unit berikutnya, segera setelah ujian mereka mendapatkan pembinaan dari pengawas untuk memperbaiki kesalahan.

Dalam kemajuan teknologi ke semua metode diatas kerangka kerjanya dibuat dalam bentuk elektromekanik berupa format digital seperti instruksional yang dibantu computer (Computer Assisted Instruction, CAI) dan pendidikan online jarak jauh. Banyak program awal CAI diikuti latihan dan praktek berupa bimbingan terprogram menyerupai instruksional terprogram yang berisi unit-unit kecil informasi yang diikuti pertanyaan dan respon peserta didik. Sebuah respon benar dikonfirmasi sedangkan respon salah memungkinkan adanya perbaikan.

Proyek PLATO di universitas Illinois tahun 1961an bertujuan menghasilkan instruksi hemat menggunakan jaringan dengan terminal murah dan bahasa pemrograman yang disederhanakan untuk instruksi, Tutor. Dengan pengalaman dan dengan hardware yang lebih maju, lebih bervariasi maka bermacam strategi pembelajaran menjadi mungkin, termasuk laboratorium dan metode berorientasi penemuan.

Kontribusi Behaviorisme dalam Memfasilitasi Pembelajaran

Bagaimana behaviorisme berkontribusi memfasilitasi pembelajaran? Untuk satu hal, teknologi berbasis behaviorisme menunjukkan bahwa memungkinkan untuk mencapai keuntungan dari tes prestasi melalui kontrol yang cermat dari kontinjensi antara rangsangan, tanggapan, dan konsekuensi. Selain itu, proses perencanaan diperlukan untuk menghasilkan pelajaran yang melahirkan metodologi perencanaan yang lebih besar, sekarang dikenal sebagai sistem instruksional desain (Magliaro, Lockee, & Burton, 2005).

Pemrograman Instruksi menunjukkan bahwa peserta didik bisa bekerja secara efektif dengan langkah mereka sendiri tanpa bimbingan guru hidup, membebaskan instruksi dengan paradigma berbasis kelompok yang berpusat pada guru. Dalam melakukan itu juga membuat pelajar peserta aktif dalam proses pembelajaran, tidak aktif dalam arti disini adalah bahwa peserta didik tidak memiliki kontrol proses, tetapi mereka tetap bisa untuk merespon terang-terangan dan serius pada beberapa bagian pembelajaran yang mengharuskan mereka untuk tetap terlibat dengan materi.

Penggunaan teknologi dalam hal ini menunjukkan track record yang terus melemah, hal ini disebabkan oleh sifat pembelajaran akademik dan sifat organisasi pendidikan. Sifat pembelajaran akademik mengesankan bahwa hasil yang didapat dari sini hanya diukur dari segi nilai dan nilai, tanpa memperhitungakan apakah pengetahuan baru tersebut bisa dipraktekkan di dunia nyata atau masa depan, dalam arti peserta didik sebagai pebelajar seumur hidup. Yang kedua, struktur organisasi sekolah yang kurang kondusif untuk inovasi yang memerlukan perubahan yang radikal dalam struktur mereka, seperti yang diusulkan dalam instruksi terprogram, DI, dan PSI. Intervensi teknologi untuk mengganti tenaga manusia menjadi hal di factor ekonomi yang menjadi salah satu alasannya.

Shrock (1990) menyatakan “Kita dapat mengantisipasi bahwa guru nyaman dengan peran tradisional mereka di dalam kelas akan menekan teknologi yang mengancam peran itu. Sayangnya, peran tradisional disukai oleh kebanyakan guru-guru, kelompok besar, ekspositoris Jadi, bukan hanya resistensi guru yang menghambat penerimaan metode yang membutuhkan restrukturisasi lebih besar ini, akan tetapi sekolah sebagai perusahaan komplek, dengan banyak pusat kekuasaan yang berbeda, masing-masing memilki harapan dan kepentingan yang dipertaruhkan.

Kognitivisme

Teori belajar dalam perspektif kognitivisme menjelaskan tentang fungsi mental internal melalui metode ilmiah. Jadi teory belajar kognitif adalah teori dimana peserta didik menggunakan memori dan proses berpikir mereka untuk menghasilkan strategi serta menyimpan dan memanipulasi representasi mental dan ide-ide. Teori perkembangan kognitif utama adalah teory Piaget (Swiss) dan Vigotsky (Rusia). Lebih luas lagi teori ini mendapatkan momentum di USA dengan publikasi Jerome Bruner (1960). Selain teori diatas yang terkenal juga menjelaskan tentang kognitivisme adalah teori pemrosesan informasi (akhir tahun 1960-an).

Teori Piaget (1896-1980). Piaget (ahli Biologi) tertarik dengan proses berpikir dalam pengembangan pemikiran yang disebut “Epistemologi genetik.[6] Dua proses yang bertanggung jawab pada anak dalam menggunakan dan mengadaptasikan proses berpikir mereka adalah asimilasi dan akomodasi. Ada periode di mana asimilasi mendominasi, periode dimana akomodasi mendominasi dan periode dimana relative ekuilibrium.

Pendekatan pemrosesan informasi menyatakan bahwa peserta didik mengolah informasi, memonitornya dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut. Inti teori ini adalah proses pemanfaatan kerja otak, yaitu proses memori dan proses berpikir.

Teori Skema menunjukkan bahwa bahan disimpan dalam memori jangka panjang diatur dalam struktur terorganisir yang sepakat mengubah dan menyimpan pengetahuan dalam struktur abstrak dari pengalaman konkret yang lebih spesifik. Teori subsumption dari Ausubel menjelaskan bahwa belajar bermakna melibatkan banyak hal seperti pokok bahasan, keterwakilan , dan kombinasi proses-proses yang terjadi selama proses penerimaan informasi.

Neuroscience. Pendekatan neuroscience dikembangkan dari teknologi pencitraan yang memungknkan observasi neurologis. Teori ini mencoba mempelajari proses mental dengan mengamati langsung fungsi otak dan syaraf, mengacu pada fungsi neuron, dendrit dan akson (Leamson 2000). Menurut Leamson tantangan dalam pembelajaran yang membangkitkan emosi peserta didik  akan membuat mereka lebih focus.

Kognitivisme dalam teknologi pembelajaran.

Teori belajar kognitif menekankan pada area presentasi dalam pembelajaran. Presentasi yang terorganisir dengan baik akan lebih masuk akal untuk peserta didik dan lebih mudah diingat. Beberapa metode atau sarana yang dapat dimanfaatkan untuk belajar diantaranya adalah :

  1. Media audio visual

Teknologi audio visual dapat merangsang indera. Teknologi ini mengatasi keterbatasan buku teks dan guru ceramah. Sejak perkembangan awal teknologi visual oleh CF Hoban, CF Hoban Jr, dan Zisman (1937), dunia pendidikan berjuang melawan kekosongan verbalisme dan keterbatasan kemampuan menghapal. Dale (1946) yang memperkenalkan bagaimana memperkaya pengalaman belajar, memperluas gagasannya pembelajaran visual dengan mengusulkan bahwa pengalaman bisa di kerucutkan pada saat pengalaman belajar dapat di ubah dari dimensi konkret ke dimensi abstrak, dengan memberdayakan sarana yang tepat. Pandangan ini dipengaruhi oleh teori psikolog Gestalt, untuk memahami perilaku manusia memerlukan alat tambahan untuk pengamatan (observasi) ilmiah. Mereka meyakini adanya hubungan antara pikiran, perasaan dan tubuh manusia, hal ini bertujuan untuk lebih memahami pengalaman manusia dalam perspektif wawasan, kreatifitas dan moralitas. Artinya dengan penekanan persepsi sensorik dan bagaimana membangun makna dari potongan-potongan informasi pendengaran dan visual memberikan daya tarik yang besar bagi mereka dalam pemanfaatan audio visual dalam belajar.

  1. Belajar Visual

Beberapa gagasan telah banyak dijelaskan oleh Gestalt diatas tentang bagaimana manusia membangun dan menginterpretasikan visual. Beberapa gagasan lainnya tentang metode pembelajaran visual seperti Alesandrini (1984) mengusulkan tiga kategori belajar visual yaitu representasi (berupa gambar yang menyerupai materi yang ingin dijelaskan), analogis (berupa obyek yang menggambarkan atau menyiratkan kesamaan dengan konsep yang ingin diketahui) dan arbitrary (berupa grafik atau diagram yang mencoba untuk mengendalikan pemikiran tentang konsep tetapi tidak secara fisik menyerupai itu). Contoh-contoh lain belajar metode visual dan lebih spesifik misalnya dekoratif, representasi, mnemonic, pengorganisasian, hubungan, transformasi, dan interpretasi.

  1. Belajar auditori

Belajar berdasarkan pendengaran. Ulasan Baron (2004) dari riset pengolahan informasi pada pendengaran, visual dan lisan menunjukkan bahwa modalitas sensori diproses secara berbeda dalam otak. Banyak hal yang mempengaruhi penggunaan bahan audio secara produktif dalam belajar, termasuk di dalamnya adalah factor kapasitas kognitif.

  1. Mutimedia digital

Di era-era maju, komputer menjadi pusat perhatian para pakar kognitif. Selain secara format digital komputer mampu menyajikan display multimedia yang lebih mudah dan lebih murah dari peralatan analog sebelumnya, karena modalitas sensori yang disajikan dalam multimedia komputer lebih mirip dengan system kognitif alami manusia. Kozma dan Johnston (1991) melihat peluang computer ke depan untuk melakukan banyak hal yang mungkin sebelumnya sukar dilakukan, diantaranya :

  1. Dari penerimaan menjadi keterlibatan
  2. Dari kelas ke dunia nyata,
  3. Dari teks ke beberapa representasi, memungkinkan penggunaan matematis, grafik, auditori, visual dan system lainnya selain symbol-simbol verbal. Mencakup pembuatan simulasi, permainan dan praktek keterampilan dari dasar menuju mahir, mengubah kondisi yang terisolir menjadi kondisi yang interkoneksi dengan mengubah pengalaman belajar peserta didik yang semula individu menjadi berkolaborasi. Dan juga membantu siswa untuk terlibat dalam proses dan berpikir cara kerja bidang-bidang menurut pilihan mereka.

Kontribusi Kognitivisme dalam Memfasilitasi Pembelajaran

Kontribusi teori kognitivisme dan memfasilitasi belajar dimulai dengan pengakuan keterbatasan teori belajar kognitif, dimana domain belajarnya hanya pada pengetahuan, pemahaman, evaluasi dan metakognisi. Jadi sangat focus pada ranah kognitif saja. Penekanan kognitivisme dalam mendesain pesan dalam teknologi pendidikan terletak pada isinya, bagaimana pengetahuan tersebut dibuat lebih bermakna, dipahami, mudah diingat dan menarik perhatian.

Teori pemrosesan informasi dan teori skema menunjukkan urutan langkah mental merupakan bagian penting dalam memfasilitasi belajar peserta didik, sehingga usulan tahapan belajarnya adalah mengusulkan sejumlah kerangka pelajaran atau mapping untuk mengatur langkah-langkah dari peristiwa pembelajaran. Contoh penyusunan kerangka pembelajaran menurut Gagne (Gagne & Medsker, 1996, hal 160) adalah :

  1. menunjukkan secara dramatis apa keuntungan yang didapat dengan menguasai keterampilan tersebut.
  2. Memberitahukan ke mereka dengan jelas apa yang diharapkan setelah melakukan pembelajaran tersebut.
  3. Mengingatkan pembelajaran yang telah lalu atau menggali berbagai hal yang mereka ketahui tentang pengetahuan tersebut dan bagaimana pengetahuan baru dibangun dari pengetahuan mereka yang lau
  4. Menunjukkan keterampilan atau pengetahuan baru
  5. Membimbing peserta didik menguasai isi pembelajaran dengan menyarankan pembentukan kata kunci (metode mnemonic), mengajukan pertanyaan dan memberi petunjuk.
  6. Memberi kesempatan mempraktekkan pengetahuan atau ketrampilan baru mereka.
  7. Selama latihan praktek, mengkonfirmasi jawaban yang benar atau kinerja yang diinginkan dan memberi umpan balik untuk mengatasi kesalahan peserta didik.
  8. Menguji penguasaan peserta didik, dengan meminta mereka menggunakan pengetahuan, keterampikan baru dan sikap dalam simulasi,
  9. Membatu peserta didik mentransfer keterampilan baru mereka dengan memberi tugas-tugas atau praktek simulasi dengan melibatkan masalah yang bervariasi.

Pembelajaran dengan tahapan diatas mencontohkan sebuah pendekatan deduktif, menceritakan konsep, aturan atau prosedur yang seharusnya dikuasai pada peserta didik dan membiarkannya menerapkan pengetahuan tersebut di beberapa kegiatan praktek. Kadang-kadang metode penemuan atau pendekatan induktif juga bisa dilakukan, dengan menempatkan praktek dan umpan balik (langkah f dan g) sebelum menyatakan tujuan, review sebelum belajar, presentasi dan bimbingan belajar ( langkah b, c, d dan e).

Kerangka pelajaran lain yang direkomendasikan adalah model yang ditawarkan Foshay, KH Silber, dan Stelnicki (2003) yang meliputi 17 teknik dan diorganisir sekitar lima fase strategis yaitu mendapatkan dan memfokuskan perhatian, menghubungan ke pengetahuan, mengatur isi pembelajaran, asimilasi pengetahuan baru, dan penguatan penyimpanan dan transfer pengetahuan baru. Kelima langkah tersebut kadang-kadang juga tumpang tindih dengan tahapan yang diusulkan Gagne, tapi disana ada beberapa perbedaan isi dan penekanan.

Model pembelajaran kognitif menempattkan penekanan khusus pada tugas mengatur dan menghubungkan informasi baru dan mengintegrasikan factor motivasi dari model ARCS J.M. Keller (1987). Dalam model tersebut menyediakan panduan khusus untuk mengorganisasikan informasi dalam bentuk potongan-potongan, mengenai tata letak dan ilustrasi.

Contoh strategi intruksional yang direkomendasikan dalam model pembelajaran kognitif adalah :

Tahap belajar Stretegi instruksional pendukung
1.  Pilih informasi untuk merangsang Misal : Menyampaikan ke Pesera didik : “Apa keuntungan Pengetahuan tersebut baginya”
2.  Sambungkan informasi baru untuk pengetahuan yang akan disampaikan Misal : membandingkan dan membedakan informasi baru dengan pengetahuan yang ada
3.  Organisir informasi Misal : Memberdayakan “Chunking” (mengatur dan membatasi informasi yang sesuai dengan batas pengolahan informasi yang diharapkan)
4.    Padukan informasi baru dengan pengetahuan yang ada Misal : mendemonstrasikan contoh dalam kehidupan sehari-hari tentang bagaimana pengetahuan tersebut digunakan
5.  Penguasaan dan penyambungan pengetahuan Misal : memberikan latihan dalam bentuk contoh nyata maupun simulasi

 

Konstruktivisme

Teori Konstruktivisme  didefinisikan sebagai  pembelajaran  bermakna dari apa yang dipelajari. Berbeda dengan teori behavioristik dimana belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus dan respon, teori kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya dari apa yang telah dialami. Pengetahuan bukan merupakan hasil transfer ilmu, karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya. Seperti yang digagas oleh Von Glaserfeld (1992) “experiental world is constituted and structured by the knower’s own ways and means of perceiving and conceiving, and in this elementary sense it is always and irrevocably subjective”

Beberapa tokoh memberikan definisi bermunculan dan penelitian dilakukan tentang teori konstruktivisme, namun Driscoll (2005) menyimpulkan bahwa tidak ada satu teori konstruktivisme, dikatakan “that knowledge is constructed by learners as they attempt to make sense of their experiences” (p.387) yang berarti pengetahuan dibangun oleh pembelajar dari pengalaman yang mereka dapat.

menurut Driscoll (2005), prinsip dari fasilitasi pembelajaran kontruktivistik meliputi beberapa hal, antara lain:

  1. Menanamkan pembelajaran yang menyeluruh, realistik,dan bersangkutan dengan lingkungan sekitar.
  2. Menjadikan negosiasi sosial sebagai bagian terpadu dari pembelajaran
  3. Mendukung berbagai pandangan dan mengunakan bermacam metode yang mewakili.
  4. Memberi semangat kepemilikan dalam belajar
  5. Memelihara kewaspadaan diri dari proses perkembangan pengetahuan.

Dari sifat-sifat tersebut muncul beberapa macam teknik fasilitasi pembelajaran, antara lain:

  1. Keadaan terkondisi, yang menekankan kepada pembelajaran dan penerapannya dalam kehidupan sosial. Hal ini berdasarkan pada gagasan bahwa pikiran manusia dipengaruhi oleh waktu, tempat, dan kondisi sosial. Teori ini meletakkan aspek sosial sebagai pusat dari proses belajar.
  2. Siaran Instruksional atau Tutorial dengan menggunakan video, sehingga menggabungkan pengetahuan yang sudah ada dalam keadaan yang terkondisi ke dalam pembelajaran kelas
  3. Pembelajaran berdasarkan masalah yang terjadi
  4. Pembelajaran kolaboratif, dengan menggunakan teknologi yang ada seperti komputer

Konstruktivisme dalam teknologi pendidikan

Engage learning, atau bisa kita sebut pasangan belajar guru-murid diperkenalkan oleh North Central Regional Education Laboratory (NCREL) (Tinzmann, Rasmussen, & Foertsch, 1999) yang dideskripsikan:

  • Murid/siswa adalah penjelajah, guru, pencari ilmu, produser, sutradara dan pengelola dari pembelajaran mereka
  • Guru adalah fasilitator, pemandu, rekan belajar, pemerhati perkembangan, pendesain kurikulum, dan pengarah dalam penelitian
  • Penugasan: murni, menantang, dan multidisiplin
  • Penilaian: murni berdasarkan kinerja, tidak dipermalukan, dilakukan secara terus menerus dan menghasilkan pembelajaran baru

Perhatian yang muncul dari penelitian

Teknik-teknik yang telah tersebut pada pembahasan sebelumnya digunakan dalam proses pembelajaran guna mencapai tujuan belajar. Namun penelitian “Bimbingan Minimal” dimana peserta bebas mengeksplorasi yang dilakukan oleh Kirschner, Sweller, dan R.E. Clark (2006) menyatakan bahwa pembelajaran konstuktivisme dipandang kurang cocok diterapkan kepada peserta ajar yang memiliki kemampuan menengah karena memungkinkan munculnya hasil negatif yang disebabkan ketidaklengkapan ilmu yang didapat. Mereka berpendapat bahwa faslitasi belajar konstruktivisme ini akan cocok diterapkan kedalam lingkungan kelas dimana peserta ajar telah memiliki keterampilan di tingkat tinggi.

Dari ketiga teori belajar tersebut diperoleh kesimpulan bahwa sulit mengidentifikasi teori pembelajaran tertentu atau strategi pembelajaran yang paling pas untuk suatu kondisi keberagaman peserta didik dalam kelas. Akan tetapi perspektif eklektik, menggabungkan prinsip-prinsip dari teori yang berbeda dapat menjadi solusi yang baik dalam praktek pembelajaran. Teori-teori tidak selamanya bertentangan satu sama lain, mereka hanya menjelaskan pada fenomena tertentu suatu teori akan lebih baik daripada teori lainnya. Ertmer dan Newby (1993) menyarankan solusi sederhana tentang bagaimana mempraktekkan teori-teori tersebut dalam praktek pembelajaran, yaitu melaksanakn perspektif behavioris dalam situasi peserta didik memiliki pengetahuan tugas dan tujuan belajar yang membutuhkan pengolahan kognitif yang lebih rendah, menggunakan perspektif kognitif untuk tingkat pengetahuan dan pengolahan kognitig menengah, dan mempertimbangkan penggunaan perspektif konstruktif untuk situasi dimana peserta didik memiliki tingkat pengetahuan sebelumnya lebih tinggi dan bekerja pada tingkatan tugas yang lebih tinggi.

Hal terpenting dalam memfasilitasi belajar adalah bagaiman menciptakan atau mendesain instruksional yang jelas[7]. Karena Desain instruksional yang baik dapat mempengaruhi upaya melalui motivasi materi sehingga lebih menarik dan relevan, baik itu di kegiatan belajar formal maupun informal. Media dan metode menjadi hal penting berikutnya dalam meningkatkan efektifitas belajar, bukan hanya pada sajiannya saja.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Yusufhadi Miarso,. Menyemai Benih Tehnologi Pendidikan. (Jakarta. Penerbit Prenata Media, 2004) h. 23

[2]Alan Januszewski. & Michel Molenda, Educational Technology, (New York: Lawrence Erlbaum Associates. 2008). h. 16

[3] Ibid. h.17

[4] John W Santrock. Psikologi Pendidikan,( Jakarta,  McGraw-Hill Company, Inc, 2004) h. 34

[5] Joy A Palmer,. 50 Pemikir Paling Berpengaruh terhadap Dunia pendidikan Modern, (Jogjakarta, Penerbit laksana, 2010) h. 52

[6] Robert E Slavin. Psikologi Pendidikan “Teori dan Praktek, (Jakarta, Indeks, ,2011) h. 23

[7] Sharon E Smaldino,, Deborah L. LLowther, & James D. Russel. Instructional Technologu & Media For Learning (Terjemahan).(Jakarta, Penerbit: Prenada Media Group, 2008)