1. Pengertian Blended Learning

Blended learning istilah yang berasal dari bahasa inggris, yang terdiri dari dua suku kata, blended dan learning. Blended merupakan campuran, kombinasi yang baik. Sedangkan learning merupakan pembelajaran. Sedangkan menurut Harding, Kaczynski dan Wood, 2005, Blended learning merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran tradisonal tatap muka dan pembelajaran jarak jauh yang menggunakan sumber belajar online dan beragam pilihan komunikasi yang dapat digunakan oleh guru dan siswa Pelaksanaan pendekatan ini memungkinkan penggunaan sumber belajar online, terutama yang berbasis web, dengan tanpa meninggalkan kegiatan tatap muka. Dengan pelaksanaan blended learning ini, pembelajaran berlangsung lebih bermakna karena keragaman sumber belajar yang mungkin diperoleh.

Jadi blended learning dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang memanfaatkan berbagai macam pendekatan. Pendekatan yang dilakukan dapat memanfaatkan berbagai macam media dan teknologi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa blended learning adalah pembelajaran yang mengkombinasikan antara tatap muka (pembelajaran secara konvensional, dimana antara pebelajar dan pemelajar saling berinteraksi secara langsung, masing-masing dapat bertukar informasi mengenai bahan-bahan pegajaran), belajar mandiri (belajar dengan berbagai modul yang telah disediakan) serta belajar mandiri secara online.

Peran blended learning dalam pendekatan pedagogis seperti PBL telah mendapatkan pengakuan seinternasional antara praktisi dan pendidikan akademis sama. Resarch ke dalam konsep, alat, dan metodologi baik e-learning dan PBL telah meningkat dalam momentum dalam beberapa tahun terakhir. Kekhawatiran Namun, komentator kontemporer telah menyuarakan dengan kecepatan teknologi yang telah banyak berjalan dengan mengorbankan kemajuan pedagogoical. Dalam bidang tertentu blended learning, jones (2006) menyimpulkan tha praktek blended learning telah melampaui reserach karena, sebagian telah mendapatkan peningkatan pesat dalam kualitas di penggunaan dan kecanggihan teknologi

Masalah dengan berhubungan dengan desain dan implementasi dari lingkungan blended learning telah semakin muncul dalam beberapa tahun terakhir, sebagai kemajuan teknologi terus mengaburkan garis antara belajar didistribusikan dan miring berbasis kampus tradisional. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kemajuan teknologi selama dekade yang  telah membawa tantangan dan peluang untuk cara-cara di mana individu dididik dan dilatih secara khusus melalui instruksi secara onlinekomunikasi. Dorongan untuk blended learning sebagian bergantung pada penerimaan yang berkembang bahwa program pendidikan dan pelatihan yang lebih tinggi itu harus dan sebagian untuk kebutuhan yang berpusat pada siswa untuk mengembangkan efisiensi ditingkatkan lebih dalam penyediaannya dalam  mengajar untuk berbicara kesadaran tentang perlunya interaksi yang kuat dan efektif antara pedagogi dan teknologi untuk memastikan bahwa keduanya digunakan untuk efek terbaik dalam mengimplementasikan PBL dalam lingkungan blended learning (Gredler)

Dalam pertimbangan tentang pembelajaran dan pengajaran menunjukkan bahwa peran teknologi dalam pembelajaran tetap menjadi masalah bagi pengembangan teori dan penelitian. Secara khusus ada kebutuhan untuk penelitian tentang prinsip-prinsip pembelajaran yang membahas guru – interaksi siswa, komunikasi siswa dan mahasiswa subjek penting untuk berbagai interaksi digunakan dalam teknologi komputer di lingkungan.

Salah satunya adalah untuk menyatakan bahwa untuk FL kelas L2, blended learning atau mengajar (BLT) lebih efektif daripada online atau benar-benar tatap muka belajar dan mengajar (FFLT) yang lain adalah untuk menunjukkan cara sederhana untuk siswa merancang di kedua dan ketiga semester di sekolah Jepang

2. Karakteristik Blended Learning

Adapun karakteristik dari blended learning yaitu:

  • Pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, gaya pembelajaran, serta berbagai media berbasis teknologi yang beragam.
  • Sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face to face), belajar mandiri, dan belajar mandiri via online.
  • Pembelajaran yang didukung oleh kombinasi efektif dari cara penyampaian, cara mengajar dan gaya pembelajaran.
  • Guru dan orangtua peserta belajar memiliki peran yang sama penting, guru sebagai fasilitator, dan orangtua sebagai pendukung.
  • Blended Learning dibutuhkan pada saat metode pengajaran jarak jauh tidak begitu dibutuhkan. Proses pengajaran blended learning ini dibutuhkan pada pemelajar membutuhkan penambahan pelajaran.

Blended learning dibutuhkan pada saat :

  • Proses belajar mengajar tidak hanya tatap muka, namun menambah waktu pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi dunia maya.
  • Mempermudah dan mempercepat proses komunikasi non-stop antara pengajar dan siswa
  • Siswa dan pengajar dapat diposisikan sebagai pihak yang belajar.
  • Membantu proses percepatan pengajaran.

Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dewasa ini, khususnya perkembangan teknologi internet turut mendorong berkembangnya konsep pembelajaran jarak jauh ini. Ciri teknologi internet yang selalu dapat diakses kapan saja, dimana saja, multiuser serta menawarkan segala kemudahannya telah menjadikan internet suatu media yang sangat tepat bagi perkembangan pendidikan jarak jauh selanjutnya. Hal ini lah mengapa untuk saat ini sistem pembelajaran secara blended learning masih sangat baik di terapkan di Indonesia agar lebih dapat terkontrol secara tradisional juga.

3. Tujuan Blended Learning

Adapun tuhuan dari blended learning adalah :

  • Membantu pemelajar untuk berkembang lebih baik di dalam proses belajar, sesuai dengan gaya belajar dan preferensi dalam belajar.
  • Menyediakan peluang yang praktis realistis bagi guru dan pemelajar untuk pembelajaran secara mandiri, bermanfaat, dan terus berkembang.
  • Peningkatan penjadwalan fleksibilitas bagi pemelajar, dengan menggabungkan aspek terbaik dari tatap muka dan instruksi online. Kelas tatap muka dapat digunakan untuk melibatkan para siswa dalam pengalaman interaktif. Sedangkan kelas online memeberikan pemelajar Sedangkan porsi online memberikan para siswa dengan konten multimedia yang kaya akan pengetahuan pada setiap saat, dan di mana saja selama pemelajar memiliki akses internet

Blended learning memiliki dua kategori utama, yaitu :

  • Peningkatan bentuk aktifitas tatap-muka (perkuliahan). Banyak pengajar menggunakan istilah ‘blended learning’ untuk merujuk kepada penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam aktifitas tatap-muka, baik dalam bentuknya yang memanfaatkan internet (web-dependent) maupun sebagai pelengkap (web-supplemented) yang tidak merubah model aktifitas.
  • Hybrid learning : pembelajaran model ini mengurangi aktifitas tatap-muka (perkuliahan) tapi tidak menghilangkannya, sehingga memungkinkan mahasiswa untuk belajar secara online.

5. Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning Kelebihan blended learning :

Adapun kelebihan dan kekurangan blended learning adalah :

  • Pembelajaran terjadi secara mandiri dan konvensional, yang keduanya memiliki kelebihan yang dapat saling melengkapi.
  • Pembelajaran lebih efektif dan efisien
  • Meningkatkan aksesbiltas. Dengan adanya blended learning maka peserta belajar semakin mudah dalam mengakses materi pembelajaran.

Kekurangan blended learning :

  • Media yang dibutuhkan sangat beragam, sehingga sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung.
  • Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki pelajar, seperti komputer dan akses internet. Padahal dalam blended learning diperlukan akses internet yang memadai, apabila jaringan kurang memadai akan menyulitkan peserta dalam mengikuti pembelajaran mandiri via online.
  • Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan teknologi
  • Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki pelajar, seperti komputer dan akses Internet

 6.  Epistemologi Blended Learning

Sebagaimana yang dijelaskan dalam ontology atau hakekat kajian dari “Blended learning” bahwa blended Learning adalah suatu aktifitas pembelajaran yang memadukan lebih dari satu jenis pembelajaran, misalnya pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran secara online. Whitelock & Jelfs (2003) memberikan tiga hal pengertian terkait apa saja yang dipadukan dalam Blended Learning, yaitu :

  1. The integrated combination of traditional learning with web based online approaches
  2. The Combination of media and tools employed in an e-Learning environment
  3. The combination of a number of pedagogic approaches, irrespective of learning technology use

Pengertian diatas memberikan arahan kepada pemerhati pendidikan tentang bagaimana mendesain Blended Learning. Common (2005) memberikan lima kunci untuk melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan blended learning, yaitu ;

  1. Live event, pembelajaran langsung atau tatap muka secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama atau waktu yang sama tapi tempat berbeda.
  2. Self Paced Learning, yaitu mengkombinasikan dengan pembelajaran mandiri, yang memungkinkan peserta didik belajar kapan saja dan dimana saja secara online.
  3. Colaboration, mengkombinasikan kolaborasi, baik kolaborasi pengajar, maupun kolaborasi antara peserta didik.
  4. Assesment, perancang harus mampu meramu kombinasi jenis assessment online dan offline baik yang bersifat tes maupun non tes
  5. Performance support material, pastikan bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital, dapat diakses oleh peserta didik baik secara offline maupun online.

Prof. Mc Ginnis (2005) dalam artikel berjudul “Building A Successful Blended Learning Strategy” menyarankan enam hal yang perlu diperhatikan saat menyelenggarakan Blended learning, yaitu :

  1. Penyampaian bahan ajar dan penyampaian pesan harus konsisten
  2. Penyelenggaran pembelajaran harus serius, mengingat ini berpengaruh pada proses penyesuaian diri peserta didik. Konsekuensinya peserta didik akan lebih mandiri.
  3. Bahan ajar harus selalu di update (selalu diperbarui), baik dari segi format maupun konten, termasuk didalamnya ketersediaan bahan ajar yang memenuhi kaidah “bahan ajar mandiri”
  4. Alokasi waktu yang digunakan bisa menyesuaikan, misalnya 75%;25% (Online:tatap muka), menyesuaikan kondisi peserta didik
  5. Alokasi waktu 25% untuk tutorial dapat digunakan khusus bagi mereka yang tertinggal, namun bila tidak memungkinkan, misalnya sebagian besar menghendaki pembelajaran tatap muka, maka 25% tersebut digunakan untuk “remedial Class”. Yaitu untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan memahami bahan ajar.
  6. Diperlukan kepemimpinan atau manajemen yang konsen, mempunyai waktu dan perhatian yang terus menerus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran.

Tahapan merancang dan menyelenggarakan Blended Learning sebagaimana yang disarankan oleh Prof Steve Slemur (2005) dan Soekartawi (2005) adalah :

  1. Tetapkan Macam materi Bahan ajar Bahan ajar dibedakan menjadi bahan ajar yang bisa dipelajari sendiri, bahan ajar yang bisa dipelajari melalui interaksi tatap muka dan bahan ajar yang bisa dipelajari melalui online atau web based
  2. Tetapkan rancangan dari kolaborasi pembelajaran (Blended learning) yang digunakan, disini dibutuhkan tim ahli, karena akan dipilih dan dipilah tentang
  3. Bagaimana blended learning disajikan
  4. Bahan ajar yang mana yang bersifat wajib dipelajari dan mana yang sebatas dianjurkan untuk memperkaya pengetahuan peserta didik,
  5. Bagaimana peserta didik mengakses dua komponen tersebut
  6. Faktor pendukung lainnya seperti software, learning resources centre dan lain-lain.
  7. Tetapkan format dari online learning, apakah bahan ajar tersedia dalam format html (format yang mudah di cut dan di paste) atau dalam format PDF (yang tidak bisa di cut dan di paste), kemudian history yang dipakai, apakah online learning menggunakan internet dengan link apa? Apakah yahoo, google dan lain-lain
  8. Lakukan uji terhadap rancangan, untuk memastikan apakah rancangan mudah dilaksanakan atau sebaliknya, sehingga bisa dengan cepat di evaluasi.
  9. Selenggarakan blended learning dengan sambil menugaskan instruktur khusus yang tugas utamanya melayani pertanyaan dan lain sebagainya.
  10. Siapkan kriteria evaluasi pelaksanaan Blended learning, seperti :
  11. Kemudahan akses bagi peserta didik
  12. Kualitas isi (konten) instructional yang dipakai (bagaimana bahan ajar disiapkan dan apakah isi bahan ajar sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran)
  13. Tampilan yang profesional (lay out)
  14. Daya tarik (bahan ajar, petunjuk dan informasi lainnya mempunyai mampu menarik nminat peserta didik untuk belajar)
  15. Kemudahan penerapan
  16. Efisiensi biaya

Disamping persiapan diatas, hal yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan modul pembelajaran. Modul adalah unit pengajaran yang lengkap yang dirancang untuk digunakan oleh seorang pemelajar atau sekelompok pemelajar tanpa kehadiran guru. Tujuan keseluruhan dari penggunaan modul adalah memudahkan pemelajar belajar tanpa pengawasan dari guru/tutor. Syarat dari pembuatan modul adalah tampilan dan konten menarik perhatian, memperkenalkan dan menyajikan konten baru, memberikan latihan dengan dilengkapi kegiatan umpan balik, menguji penguasaan materi pemelajar dan memberikan perbaikan tindak lanjut atau pengayakan. Oleh karena itu komponen-komponen dari modul diantaranya adalah:

  1. Dasar pemikiran, berisi garis besar konten dari modul
  2. Tujuan, berisi segala sesuatu yang ingin diharapkan dari penggunaan modul
  3. Ujian masuk, komponen prasyarat yang harus dilalui sebelum menggunakan modul tersebut
  4. Material multimedia, modul menggunakan berbagai teknplogi dan media
  5. Kegiatan belajar, modul menggunakan berbagai strategi pembelajaran dan pendekatan
  6. Latihan dan umpan balik, modul memberikan kesempatan kepada pemelajar mempraktekkan hal yang sudah dipelajari dari modul
  7. Ujian mandiri, modul memberikan kesempatan kepada pemelajar untuk menguji kembali kemampuannya
  8. Ujian penutup, menunjukkan kepada pemelajar dan pembelajar apakah pemelajar dengan modul tersebut telah mengahsilkan sesuatu yang menjadi tujuan dari modul.

Allison Littlejohn dan Cris Pegler dalam bukunya “Preparing for Blended Learning” menyatakan bahwa”…how to plan so that there is integration of these activities with appropriate resourcess, e-tool, and environment, using a range of teaching methodologies.” Ini memberi arti hal-hal yang patut dipersiapkan dalam merancang sebuah pembelajaran Hybrid untuk memastikan hasil blended learning mengembangkan pelatihan ataupun kegiatan belajar diantaranya adalah:

  1. Perangkat seperti apa yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan blended learning tersebut, dalam hal ini tidak ada pendekatan baku, bisa memadukan berbagai pendekatan yang sesuai. Perangkat seperti matriks, mapping, leson plan dan lain sebagainya bisa membantu melaksanakan kegiatan ini,
  2. Sumber belajar yang variatif, baik berupa modul, slide, film dan sumber belajar multimedia lainnya yang memberikan pengalaman tersendiri untuk pemelajar. Sumber belajar ini bisa diperoleh dengan memanfaatkan materi yang sudah ada dan digunakan lagi seperti segala resourcess yang ada di perpustakaan, penerbitan, museum, arsip nasional, koleksi-koleksi bersejarah dan lain sebagainya, bisa juga sumber yang diciptakan sendiri oleh pembelajar dan berbagai cara lainnya.
  3. Lingkungan belajar yang terintegrasi dalam paduan (blends), seperti pembelajaran berbasis masalah (Problem based learning), Lingkungan belajar elektronik (Electronic learning environment) yang terbingkai dalam perpaduan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran virtual (online).

Ketiga komponen diatas merupakan bagian penting yang harus disiapkan dalam mendesain blended learning. Akan tetapi sebelum itu, untuk memastikan hasil blended learning benar-benar sesuai tujuan yang diharapkan atau memberi pengaruh dalam dinamisasi dalam proses pelaksanaan pembelajaran maka ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan yaitu tujuan belajar, konteks belajar dan pendekatan proses belajar mengajar, yang ketiganya merupakan faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Dari hal diatas menjelaskan bahwa perpaduan dalam blended learning yang dimaksud adalah :

  1. Perpaduan metode, strategi dan pendekatan pembelajaran, bisa berupa
  2. Pembelajaran tatap muka, pembelajaran kovensional (tradisional), pertemuan langsung antara pembelajar dan pemelajar, hal ini diperlukan terutama bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar misalnya dalam memahami bahan belajar dalam bentuk desain terformat.
  3. Pembelajaran mandiri dengan asynchronous, pembelajaran yang dilakukan tanpa ada pengawasan dari guru/tutor, siswa bebas menentukan kapan dan dimana saja bisa belajar.
  4. Pembelajaran e-learningatau pembelajaran online secara synchronous, pembelajaran berbasis technology, dengan media berbasis IT, bahan belajar mudah diakses dimana saja, komunikasi pembelajar dan pebelajar melalui online.
  5. Perpaduan Tool atau perangkat yang dimanfaatkan dalam pembelajaran, seperti real time kolaborasi perangkat lunak, program berbasis web online, modul online, dan elektromagnetik lainnya
  6. Perpaduan lingkungan belajar, yang semula mungkin hanya pembelajaran dalam kelas secara tatap muka, dengan metode ini memungkinkan pembelajaran bisa dimana saja sesuai kebutuhan dan yang mampu meningkatkan pengalaman belajar siswa hingga lebih menarik dan bervariasi.
  7. Sumber belajar, yang selama ini secara konvensional pemelajar hanya memperoleh sumber belajar dari modul cetak atau buku teks, dengan blended learning diharapkan siswa memperoleh pengalaman dari berbagai sumber belajar seperti sumber dari perpustakaan, penerbit bahkan dari internet atau multimedia lainnya.
  8. Perpaduan aktifitas pembelajaran siswa yang memungkinkan student centre atau partisipasi aktif dari siswa.